OASE

Jangan Cepat Berhenti Berdoa, Allah Tahu Waktu Terbaik untuk Mengabulkannya

Oleh: Fathimah Azzahra Ramadhani, Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan

Doa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim. Melalui doa, manusia menyampaikan harapan, kegelisahan, permohonan ampun, sekaligus pengakuan atas keterbatasannya di hadapan Allah Swt.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, doa sering kali dipahami sekadar sebagai sarana untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. Ketika hal yang didoakan belum juga terwujud, tidak jarang muncul kegelisahan dan pertanyaan meragu.

“Mengapa doa yang telah dipanjatkan berulang kali seolah belum mendapatkan jawaban?” Pertanyaan tersebut sangat manusiawi.

Bahkan, Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan menginginkan sesuatu terjadi dalam waktu cepat. Hal ini terutama berlaku ketika sesuatu itu dianggap sangat krusial bagi kehidupannya. Keinginan instan tersebut kemudian terbawa ke dalam cara seseorang memandang hakikat doa.

Ketika doa dipanjatkan hari ini, ada harapan bahwa jawabannya akan langsung terlihat. Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, muncullah kekecewaan mendalam.

Perasaan ini terkadang berkembang menjadi keraguan terhadap diri sendiri. Bahkan, beberapa orang mulai mempertanyakan kemurahan Allah dalam mengabulkan doa yang telah dipanjatkan.

Padahal, persoalan tersebut barangkali bukan terletak pada ada atau tidaknya jawaban dari-Nya. Akar masalahnya justru ada pada keterbatasan akal manusia dalam mengenali bentuk jawaban tersebut.

Dalam Islam, doa tidak semata menjadi mekanisme untuk meminta suatu hajat kepada Allah. Doa merupakan bentuk ibadah dan komunikasi spiritual antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Ketika berdoa, manusia menempatkan dirinya sebagai makhluk berbatas dan Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui. Oleh karena itu, doa semestinya tidak hanya dipahami dari perspektif keinginan hawa nafsu manusia semata. Doa harus dinilai dari perspektif ketundukan dan kepercayaan total kepada ketetapan Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Ghafir ayat 60, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu”. Ayat tersebut menunjukkan bahwa doa memiliki kedudukan agung dalam kehidupan seorang muslim.

Allah memerintahkan manusia untuk berdoa sekaligus memberikan jaminan bahwa doa tersebut tidak akan sia-sia. Namun, jaminan itu tidak serta-merta berarti bahwa setiap permintaan akan diwujudkan dalam bentuk dan waktu yang persis dengan skenario manusia.

Di sinilah letaknya urgensi memahami perbedaan antara keinginan manusia dan keluasan ilmu Allah Swt. Manusia hanya mengetahui apa yang tampak dan apa yang sedang dihadapinya saat ini.

Seseorang mungkin merasa bahwa mendapatkan pekerjaan tertentu akan menjadi jalan terbaik bagi masa depannya. Ada pula yang meyakini bahwa bersanding dengan seseorang yang dicintainya akan membuat hidup terasa sempurna. Sebagian lainnya menganggap bahwa keberhasilan karier merupakan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan di dunia.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button