RESONANSI

Mencari Tuhan di Atas Awan

Berdoa setelah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik adalah tanda bahwa manusia mengenali hakikat dirinya sebagai makhluk yang rapuh.

Sebuah pesawat komersial berbadan lebar mendadak kehilangan ketinggian dalam hitungan detik. Di dalam kabin, nampan makanan beterbangan, jeritan histeris memecah kesunyian, dan lampu tanda sabuk pengaman berkedip-kedip panik.

Di atas ketinggian tiga puluh ribu kaki, ketika turbulensi hebat mengocok lambung besi itu, sekat-sekat ideologi mendadak luruh. Di sinilah dogma dan rasionalitas diuji dalam sebuah ruang sempit yang berguncang.

Ada sebuah adagium klasik yang menyebutkan bahwa tidak ada ateis di dalam parit perlindungan perang. Ungkapan itu dengan sangat pas bisa digeser ke dalam kabin pesawat yang sedang sekarat: semua orang mendadak ingat Tuhan ketika sayap burung besi mulai bergetar hebat.

Fenomena psikologis ini menjadi satir yang menarik jika ditarik ke dalam perdebatan abadi antara sains dan iman. Bagi sebagian ilmuwan materialis-rasionalis, aktivitas menekur dan menengadahkan tangan kerap menjadi bahan olok-olok.

Mereka memandang alam semesta sebagai sebuah mesin raksasa yang bekerja berdasarkan hukum mekanika yang deterministik dan kaku. Air akan selalu mendidih pada suhu seratus derajat Celsius, benda yang dilepaskan dari ketinggian pasti akan menghantam bumi karena gravitasi, dan nilai tukar mata uang akan berfluktuasi murni karena hukum penawaran dan permintaan di pasar global.

Dalam kalkulasi matematis seperti itu, doa dianggap sebagai sebuah intervensi supernatural yang tidak logis, sebuah usaha sia-sia untuk mengubah kepastian hukum alam.

Namun, argumen para saintis tersebut acap kali luput melihat satu hal esensial: doa dalam dimensi kemanusiaan tidak pernah bermaksud merusak hukum fisika. Seseorang yang berdoa di hadapan air yang sedang dimasak tidak sedang meminta mukjizat agar air tersebut mendidih pada suhu nol derajat.

Mereka berdoa agar proses alamiah itu berjalan lancar dan membawa manfaat bagi kehidupan mereka. Di sinilah letak miskonsepsi terbesar dalam memandang aktivitas spiritual.

Sains mengkaji bagaimana alam semesta ini bekerja, sementara doa menjawab mengapa manusia berada di dalamnya dan bagaimana mereka harus menyikapi realitas yang sering kali tidak ramah.

Rasionalitas dan Batas Kendali Manusia

Ketika badai menerjang pesawat, para ilmuwan yang sangat mendewakan rasionalitas mungkin akan mencoba bertahan pada benteng logikanya. Mereka yang paham aerodinamika akan mencoba menenangkan diri dengan mengingat data statistik bahwa struktur pesawat modern dirancang untuk menahan guncangan ekstrem.

Mereka menaruh kepercayaan penuh pada keahlian pilot di kokpit dan ketangguhan mesin buatan manusia. Namun, ketika guncangan tidak kunjung mereda dan bayang-bayang kematian mendekat, amigdala di dalam otak manusia akan mengambil alih kendali dari neokorteks yang rasional.

Pada momen kepasrahan total itu, ego intelektual kerap kali runtuh. Refleks mengepalkan tangan dan merapalkan untaian kata permohonan sering kali muncul tanpa bisa dibendung, sebuah bentuk pencarian rasa aman emosional yang paling primitif.

Menariknya, di saat sebagian ilmuwan fisik menolak konsep doa, para peneliti di bidang psikologi dan neurosains justru menemukan fakta empiris yang mengejutkan. Melalui pemindaian otak, ditemukan bahwa aktivitas spiritual yang dilakukan secara tulus mampu mengubah struktur anatomi otak manusia atau yang dikenal dengan neuroplastisitas.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button