SURAT PEMBACA

K-POP Jadi Inspirasi, Bagaimana Nasib Generasi?

Heboh pernyataan yang dikeluarkan oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin, tentang menjadikan K-POP sebagai inspirasi bagi generasi muda. Dalam peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea ke Indonesia, Wakil Presiden menyampaikan agar tren Korean Pop dapat mendorong anak muda supaya meningkatkan kreativitas dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri (tirto.id, 20 September 2020).

Sontak pernyataan tersebut langsung mendapat banyak tanggapan. Diantaranya dari musisi Ahmad Dhani. Menurutnya Wapres tidak memahami benar tentang musik. Masih menurut Ahmad Dhani, musisi Indonesia lebih kreatif dibandingkan Korea. Hanya saja belum mendapat dukungan serius dari pemerintah (news.detik.com, 20 September).

Benarkah K-POP Layak Jadi Inspirasi?

Menarik memang menanggapi apa yang disampaikan oleh Wapres tersebut. Pasalnya demam KPOP saat ini memang masih melanda generasi muda. Penampilan para idol Korea yang “good looking” serta kepiawaiannya dalam bermusik telah membius anak muda negeri +62 ini untuk mengidolakannya. Tak tanggung-tanggung, bahkan komunitas pecinta K-POP banyak bermunculan.

Namun, benarkah mereka layak menjadi idola dan sumber inspirasi anak muda? Meski terlihat glamour, ternyata para idol negeri ginseng ini banyak dirundung persoalan. Salah satunya adalah tingginya angka bunuh diri dikalangan selebritis Korea. Di balik paras menarik, wajah yang selalu tersenyum dan romantisme yang mereka hadirkan di hadapan publik nyatanya tersimpan kegalauan akut. Hingga seringkali melahirkan depresi yang berujung pada bunuh diri. Persoalan yang melatarbelakanginya beragam, ada yang yang karena albumnya tak sukses, ada pula yang merasa tertekan akibat situasi yang tidak menentu.

WHO bahkan menyebut bahwa Korea Selatan merupakan salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Tahun lalu, ada 13.799 orang bunuh diri. Jumlah ini naik dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 13.670 orang. Peningkatan kasus ini diperkirakan karena efek Werther, yaitu perilaku bunuh diri yang meniru dari yang dilakukan oleh seorang selebriti (internasional.kontan.co.id, 22 September 2020).

Selain masalah bunuh diri, nampaknya Korea juga dibelit dengan persoalan krisis kepercayaan diri. Sudah jamak diketahui, negeri para oppa ini, adalah surganya para penggemar operasi plastik. Aktivitas memperbaiki atau merubah wajah ini adalah hal yang biasa di sana. Siapapun dari remaja hingga orang tua gemar melakukannya.

Beberapa alasan yang mendorong warga Korea gemar melakukan operasi plastik diantaranya adalah untuk memudahkan mendapat pekerjaan. Persaingan mendapatkan pekerjaan sangat ketat di Korea. Sebabnya banyak perusahaan yang hanya memperhatikan dari sisi penampilan saja. Sehingga untuk memenuhinya, banyak yang melakukan operasi agar bisa tampil menarik.

Sejak maraknya K-POP, operasi plastik juga menjadi salah satu komoditi wisata untuk menggaet turis masuk ke Korea. Apalagi kemudian didukung murahnya biaya untuk melakukan operasi tersebut. Sehingga tren ini banjir peminat termasuk dari kalangan idol Korea. Klinik-klinik yang menyediakan jasa merubah wajah ini juga menjamur di sana.

Sebenarnya hal ini tidak aneh. Dalam suasana materialistik yang melingkupi dunia saat ini, wajar bila penampilan fisik menjadi ukuran baik tidaknya kepribadian seseorang. Masyarakat kapitalis yang terlahir dari pemikiran sekuler selalu menjadikan standar materi sebagai penilaian akhir. Sehingga saat standar tersebut tidak terpenuhi, banyak menciptakan krisis identitas dan solusi-solusi fasad. Inilah bukti bahwa kapitalisme yang diterapkan oleh banyak negara di dunia telah gagal melahirkan generasi berkualitas tinggi.

Dengan gambaran seperti ini layakkah kemudian bila K-POP menjadi inspirasi bagi generasi muda kita? Dua persoalan akut itu saja sudah bisa menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak pantas menjadi panutan. Apakah iya kita ingin pemuda negeri ini menjadi generasi yang cacat kepribadian dan rentan melakukan bunuh diri hanya karena persoalan hidup?

Tentunya tidak. Kita pasti menginginkan generasi kita adalah generasi yang memiliki kepribagian unggul, yang bervisi maju, tangguh menghadapi permasalahan hidup, berkarakter mulia dan memiliki cita-cita membawa negeri ini menjadi bangsa maju berperadaban agung.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button