NUIM HIDAYAT

Keberanian Ulama Menghadapi Penguasa

Buku karya ulama dan mujahid dari Irak ini mesti dibaca para aktivis dan ulama. Buku karya Syekh Abdul Aziz al Badri ini, aslinya berjudul “Al Islaamu bainal Ulamaa wal Hukkaam.” Diterbitkan oleh Pustaka Mantiq, Solo, dengan judul “Peran Ulama dan Penguasa”, tahun 1987, 286 halaman.

Buku ini sangat menarik dan dengan bagus memaparkan peran ulama menghadapi penguasa dalam berbagai periode sejarah. Lihat daftar isinya:

-Ulama dan Penguasa Pada Masa Kejayaan Islam
-Politik Penjajahan Barat dan Taktik Pemuka Agamanya
-Ulama
-Para Penguasa dan Ayat Hukum
-Penguasa
-Peranan Dua Macam Manusia
-Ulama dan Ayat Tahlukah
-Ulama Mengadakan Perhitungan Terhadap Penguasa
-Penguasa Bertanya dan Ulama Menjawab
-Nasihat Ulama Kepada Penguasa
-Ulama di Mata Penguasa
-Ulama dan Hadiah Penguasa
-Ulama Menghadapi Ujian Penguasa
-al Imam Said bin Musayyab
-al Imam Said bin Jubair
-Abu Hanifah an Nu’man
-al Imam Malik bin Anas
-al Imam Ahmad bin Hambal
-al Imam Ahmad Ibnu Taimiyah
-al Imam Muhammad bin Idris
-Ulama dan Pengertian Jihad

Lihatlah pendahuluan yang menarik yang diungkap ulama yang banyak karyanya ini: “Sejak munculnya pemerintahan Islam yang ditegakkan atas dasar hukum-hukum Al-Qur’an, maka umat Islam telah berhasil mencapai puncak kemakmuran yang nyata. Suatu masyarakat yang dinamis di bawah bimbingan para ulama yang berpendirian teguh, penuh kejujuran, keberanian dan keikhlasan untuk menegakka syariat Islam. Sehingga para ulama itu bagaikan bintang yang menerangi jalan setiap manusia, baik dia penguasa ataupun rakyat biasa, di dalam menempuh kegelapan di dunia.

Para ulama masa itu telah mampu mengantarkan Islam ke puncak sejarah yang sangat mengagumkan. Mereka telah membuktikan kebenaran syariat Islam dengan segala kesuciannya dihadapan penguasa-penguasa yang dhalim. Mereka berjihad dan beramal tidak mengenal waktu dan tempat demi kemaslahatan seluruh umat. Para ulama senantiasa berdiri pada garis terdepan dengan bersenjatakan iman yang kokoh dan keyakinan, bahwa syariat Islamlah satu-satunya hukum yang dapat dijadikan pegangan untuk menegakkan keadilan. Para ulama memikul tanggungjawab dengan penuh kesabaran dan keberanian dalam menyerukan yang hak itu hak dan yang batil itu batil, sekalipun di depan penguasa yang dhalim. Semua perjuangan itu bukanlah sesuatu yang aneh dan luar biasa, karena itu memang telah merupakan tugas yang seharusnya mereka pikul, sebagai penegak panji-panji kebenaran syariat Islam.

Sesungguhnya para penguasa yang zalim itu selalu berusaha mempengaruhi keteguhan sikap para ulama. Banyak jalan yang mereka tempuh seperti memberi hadiah, kedudukan atau penghargaan berupa pangkat dan sebagainya. Tetapi kebanyakan ulama itu ingat ancaman Allah SWT, sebagaimana firmanNya: “Janganlah kamu mengikuti orang-orang yang zalim, niscaya kamu akan disiksa dalam api jahanam.” (QS Hud : 113)

Oleh karena itu para ulama yang konsisten dengan ajaran Islam sangat menentang perbuatan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pemimpin yang tidak bertanggungjawab.

Sikap para ulama itu bermacam-macam dalam memperjuangkan kebenaran Islam. Ada yang mau mendekati para penguasa dengan memberikan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan, tetapi mereka tetap menolak untuk diberi imbalan materi. Ada pula yang bersikap keras dan tidak mau duduk atau berhadapan dengan penguasa-penguasa yang dhalim. Sikap keras ini mereka lakukan semata-mata sebagai peringatan, agar para penguasa itu mau kembali pada jalan yang benar. Maka tidaklah heran apabila kita membaca dalam sejarah ada ulama yang diusir dari negerinya, dipisahkan dari keluarga atau disiksa di penjara sampai bertahun-tahun. Tetapi walaupun mereka dihukum secara fisik, mereka tetap meneruskan perjuangannya melalui tulisan-tulisan yang mereka sebarkan di kalangan umat. Mereka berjuang dengan penuh keikhlasan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

“Apabila manusia meninggal, maka putuslah amalannya kecuali tiga perkara: anak yang shalih yang senantiasa mendoakan orang tuanya, amal shadaqah yang mengalir manfaatnya, atau ilmu yang berguna bagi umat manusia.” (HR Muslim)

Para ulama tidak hanya berjuang dengan lidah dan penanya saja, bahkan terjun langsung ke medan pertempuran, baik selaku pemimpin ataupun prajurit biasa. Dengan penuh keberanian mereka menerobos barisan musuh mengorbankan semangat jihad untuk menyongsong mati syahid. Demikianlah perjuangan para ulama kita di masa lalu. Hidup dan matinya dikorbankan demi tegaknya syiar Islam. Patutlah kalau Nabi bersabda: “Ulama adalah pewaris para Nabi.”

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button