#Pilpres 2019OPINI

Kecurangan Pilpres: Pengakuan Mantan Kapolsek Pasirwangi

Story Highlights
  • Masifnya temuan fakta dukungan anggota Polri kepada paslon 01 menimbulkan kecurigaan, Polri tidak netral secara kelembagaan. Apalagi Polri sangat terkesan memihak dalam menangani berbagai kasus yang terkait para pendukung paslon.

Restoran Saung Nikmat di Jalan Muwardi Kota Cianjur, Kamis siang (28/3). Seorang polisi berpangkat brigadir kepala tampak tergesa-gesa mengambil barangnya yang tertinggal di meja sebelah. Salah satunya berupa topi berwarna merah putih dengan gambar Jokowi-Ma’ruf Amin, paslon 01.

Sehari kemudian sebuah screenshoot percakapan diduga milik group Polres Bima, Nusa Tenggara Barat beredar. Dalam percakapan itu AKBP Erwin Ardiansah memberikan instruksi seluruh Kapolsek harus memenangkan paslon 01. Minimal 60 persen di setiap wilayah masing-masing. Bila gagal mereka akan dievaluasi. Perintah itu disebut-sebut berasal dari Kapolda NTB.

Perilaku Kapolres Bima ini —tanpa menyebut nama institusi— sempat dipertanyakan Prabowo Subianto kepada Jokowi dalam debat antar-capres Sabtu (30/3). Kali ini Jokowi tidak menjawab seperti biasanya, “Silakan dilaporkan kalau ada buktinya.”

Beberapa hari sebelumnya Direktur Kantor Hukum dan HAM Lokataru Haris Azhar mengaku mempunyai bukti polisi melakukan kerja politik untuk memenangkan paslon 01.

“Saya memiliki datanya bagaimana polisi di banyak tempat digerakkan untuk melakukan pendataan berapa banyak orang di wilayahnya yang (diperkirakan) memilih 01 atau 02,” kata Haris.

Data itu menurut Haris dimasukan dalam format Excel dengan template atau format yang sama. Data diinput pada Februari lalu. “Ada yang levelnya (diinput) Polsek, ada yang (diinput) Polres. Tapi saya tak bisa bilang ini dilakukan di seluruh Indonesia,” sambungnya.

Haris tidak asal tuduh. Sebagai bukti dia menghadirkan mantan Kapolsek Pasir Wangi, Garut, Jawa Barat AKP Sulman Azis. Kepada media Sulman mengaku diperintahkan untuk menggalang dukungan bagi paslon 01.

“Beberapa kali saya dipanggil Kapolres untuk melakukan data dukungan kepada masing-masing calon diperintahkan untuk melakukan penggalangan,” ucap Sulman di kantor Lokataru, Jakarta, Ahad (31/3).

Para Kapolsek ini diancam akan dimutasikan, dimasukkan kotak bila sampai paslon 01 kalah di wilayah masing-masing. Ancaman tersebut langsung dibuktikan sebelum paslon 01 kalah.

Sulman dimutasi ke Polda karena kedapatan berfoto bersama seorang pimpinan NU yang menggelar acara mendukung Prabowo. Menurut Sulman dia berfoto bersama pimpinan NU itu sebagai bukti laporan sudah turun ke lapangan melaksanakan perintah.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button