OPINI

Kemiskinan Ekstrem Nol Persen, Realistis atau Utopis?

Rakyat jelas membutuhkan solusi hakiki yang mampu mengentaskan rakyat dari kubangan kemiskinan. Jika kapitalisme terbukti gagal, maka tidak ada sistem alternatif lain yang mampu menuntaskannya, kecuali sistem Islam.

Dalam paradigma Islam, rakyat miskin adalah seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti sandang, papan, pangan, kesehatan, dan pendidikan. Inilah standar kemiskinan yang sahih, bukan standar angka yang dapat diotak-atik berdasarkan kepentingan.

Selain itu, sistem Islam jelas memiliki mekanisme sahih dalam mengentaskan kemiskinan hingga ke akarnya. Pertama, secara perseorangan, Islam memerintahkan setiap Muslim yang mampu bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang berada dalam tanggung jawabnya. (QS. al-Baqarah: 233).

Kedua, secara kolektif, Islam memerintahkan kaum Muslimin untuk saling peduli dan memperhatikan kekurangan dan kebutuhan saudaranya yang memerlukan pertolongan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu.” (HR. ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Ketiga, Islam memerintahkan penguasa untuk melayani dan mengurus segala urusan rakyat. Menjadi kewajiban penguasa untuk memenuhi dan menjamin kebutuhan pokok rakyat, sebagaimana sabda Baginda Nabi Saw, “Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Penguasa tidak hanya mendorong rakyat untuk bekerja. Namun, menjadi kewajiban penguasa pula untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyat. Pelayanan kesehatan dan pendidikan pun diselenggarakan secara berkualitas dan merata, serta murah bahkan gratis. Semua itu diberikan pada seluruh warga negara tanpa membedakan agama, bangsa, etnik, ras, dan sukunya.

Sesungguhnya, sejarah pernah mencatat dengan tinta emas, bagaimana kegemilangan Islam mengentaskan kemiskinan ini. Pada masa Rasulullah Saw misalnya, sebagai kepala negara, beliau pernah menyediakan lapangan kerja dan menjamin kehidupan rakyatnya. Pada saat itu terdapat ahlus shuffah, yakni para sahabat dari golongan duafa. Masa itu, Rasulullah Saw mengizinkan mereka tinggal di Masjid Nabawi. Mereka pun mendapatkan santunan dari baitulmal.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau biasa memberikan insentif pada setiap bayi yang baru lahir untuk menjaga dan melindungi anak-anak. Beliau juga membangun Dar ad-Daqi (rumah tepung) untuk para musafir yang kehabisan bekal perjalanan.

Kebijakan pemberian insentif untuk membiayai pernikahan para pemuda yang kekurangan uang juga pernah diterapkan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sementara itu, pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, pernah dibangun banyak rumah sakit yang lengkap dan canggih pada masanya untuk melayani rakyat dengan cuma-cuma.

Inilah bukti kegemilangan penerapan sistem Islam. Tidak hanya membawa berkah dan maslahat, tetapi juga menjadi obat mujarab bagi segala problematika umat, termasuk untuk mengentaskan kemiskinan. Alhasil, mengharapkan sistem kapitalisme menghilangkan kemiskinan, rasanya hanya utopia belaka. Hanya dalam naungan sistem Islam saja niscaya kemiskinan nol persen. Rakyat pun sejahtera. Wallahu’alam bishshawwab.

Jannatu Naflah, Praktisi Pendidikan

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button