MUHASABAH

Ketika Dunia Islam Diam

Kemungkaran merajalela, kerusakan terjadi di mana-mana. Hal ini karena tidak diterapkannya hukum Allah. Padahal jelas, solusi perbaikan masalah umat adalah dengan mengembalikan seluruh persoalan kepada Islam. Akan tetapi hingga saat ini, dunia Islam diam. Saat ideologi kufur bekerja, saat itulah para penguasa enggan beranjak dari zona nyaman.

Sementara umat Islam dibentuk untuk memimpin dunia, menggiring umat ke arah kebaikan, serta memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan pemikiran lain di luar Islam. Akan tetapi, ketiadaan perisai, menjadikan umat laksana pesakitan. Korban bulan-bulanan musuh-musuh Islam. Inilah waktu yang disebutkan dalam hadits, yaitu ketika umat hanya menjadi ‘buih di lautan’.

Sebagaimana dilaporkan The Sun baru-baru ini, bahwa Cina ingin teks-teks suci semua agama besar ditinjau kembali dan disesuaikan dengan “era Presiden Xi Jinping”. Inilah yang mendasari Pemerintah Cina ingin menulis ulang Injil, Al-Qur’an, dan semua teks suci agama besar lain, agar sejalan dengan nilai-nilai sosialisme.

Disebutkan bahwa edisi baru kitab suci tidak boleh mengandung konten apapun yang bertentangan dengan kepercayaan Partai Komunis Cina, demikian disampaikan seorang pejabat tinggi partai, dikutip dari laporan Daily Mail, 24 Desember 2019. Paragraf yang dianggap salah oleh sensor akan diubah atau diterjemahkan kembali.

Meskipun Injil dan Alquran tidak disebutkan secara khusus, Partai Komunis Cina menyerukan ‘evaluasi komprehensif agama klasik yang ada bertujuan mengubah konten yang tidak sesuai dengan kemajuan zaman’. Cina secara resmi mengakui semua agama tetapi melakukan pengawasan yang ketat terhadap praktik keagamaan.

Hal ini merupakan kelanjutan dari tindakan represif Cina terhadap Muslim Uighur, yang mengurung mereka dalam kamp-kamp. Para pakar dan aktivis PBB mengklaim bahwa setidaknya satu juta etnis Uighur dan Muslim lainnya ditahan di sana. Meski Cina menyangkal dengan menyatakan bahwa kamp tersebut adalah pusat pelatihan Bahasa Mandarin dan ketrampilan kerja.

Cina semakin berani. Merubah kitab suci adalah tindakan paling arogan yang dilakukan manusia. Musuh-musuh Islam jelas akan menginjak harga diri umat, selama kita diam. Saat kehormatan saudara seakidah direnggut paksa, darah dan nyawa melayang, umat tetap tak bergeming. Maka saat itulah kita jatuh di kaki musuh-musuh Islam.

Jika fenomena ini terus dibiarkan, maka dipastikan umat akan semakin jauh dari agamanya. Sebab kitab suci merupakan panduan manusia saat beraktivitas, dengannya umat terbimbing di jalan yang lurus. Tingginya akal dan budi pekerti tak lepas dari kemurnian ajaran agama. Merubah isinya, akan merubah hasil, dipastikan umat akan tergelincir.

Islam membentuk manusia dengan pola pikir dan pola sikap yang khas, dan hal itu tidak disukai Pemerintah Cina. Musuh Islam paham betul, bahwa mengubah kitab suci adalah cara jitu merubah kepribadian umat. Inilah yang dilakukan Pemerintah Cina, mirip dengan kelancangan Ahlul Kitab terhadap kitab suci-Nya.

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقًا يَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Sesungguhnya ada segolongan di antara mereka yang memutar-mutar lidahnya membaca al-Kitab, supaya kamu mengira yang dibacanya itu sebagian dari al-Kitab, padahal ia bukan dari al-Kitab dan mereka mengatakan, ‘Ini (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedangkan mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 78)

Ahli Kitab mengubah, menambah, dan membawa makna-makna yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, pada pemahaman yang berbeda. Mereka melakukannya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah dan mengambil keuntungan dari kehidupan dunia yang hina. Mereka mengetahui kebenaran, namun menyembunyikan dan menampakkan sebaliknya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, pernah suatu saat beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa seorang lelaki dan seorang wanita yang telah berbuat zina dari kaum mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian lakukan terhadap orang yang berzina di antara kalian?” Mereka menjawab, “Kami melumuri wajahnya dengan arang dan memukulnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Apakah kalian tidak menemukan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menjawab, “Kami tidak mendapati sedikit pun (tentang rajam).” Abdullah bin Sallam berkata kepada mereka, “Kalian telah berdusta. Datangkanlah Taurat jika kalian jujur.” Salah seorang guru mereka mengajari mereka meletakkan telapak tangannya di atas ayat rajam (untuk menutupinya). Dia pun mulai membaca ayat yang sebelum dan sesudahnya, tidak membaca ayat rajam. (Abdullah bin Sallam) melepaskan tangannya dari ayat rajam dan bertanya, “(Ayat) apa ini?” Tatkala mereka melihat itu, mereka pun menjawab, “Itu ayat rajam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar keduanya dirajam. Keduanya pun dirajam di dekat tempat jenazah yang ada di dekat masjid. Ibnu ‘Umar berkata, “Aku melihat (yang dirajam tersebut) berusaha menghindar, melindungi dirinya dari bebatuan (yang dilemparkan kepadanya hingga ia tewas).” (HR. al-Bukhari, 8/4556 dan Muslim no. 1699)

Seperti halnya hukum rajam bagi pezina, maka aturan lainpun akan mengalami perubahan, jika dibiarkan. Akan banyak ajaran Islam yang berubah. Saat ini pun, kita jumpai telah banyak istilah syar’i yang dihilangkan dengan cara memberi citra buruk kepadanya, misalnya kata khilafah, jihad, imamah, baiat, wala’ wal bara’, dan lainnya.

Diembuskan isu di tengah umat seolah istilah tersebut menakutkan, radikal, teroris, penuh dengan nuansa kekerasan. Bahkan maknanya pun diganti atau dihapus sama sekali, karena dianggap tidak lagi relevan dengan masa sekarang. Padahal sejatinya karena mengganggu kepentingan para kapital.

Maka diperlukan persatuan, agar seluruh bagian tubuh umat yang tercerai berai akibat nasionalisme, bisa kembali. Darinya akan lahir energi gerak untuk penerapan Islam kafah. Maka dengan sendirinya muncul pribadi baru, jati diri umat yang hakiki yaitu sebagai khoiru ummah. Umat terbaik yang disanjung Allah di dalam Al-Qur’an.

Hingga kemudian kembali di tengah umat seorang Raa’in atau pelindung yang salih. Seseorang perkasa dengan keimanan yang tinggi, yang tidak diam berpangku tangan. Juga tidak bersahabat dengan musuh Islam. Inilah sebaik-baik pemimpin yang pernah ada di muka bumi. Pemimpin yang peduli terhadap nasib umat, yang akan mengembalikan kemuliaan umat dan Islam.

Lulu Nugroho
(Muslimah Revowriter Cirebon)

Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close