AKHLAK

Ketika Hati Membatu

Sekiranya manusia itu patuh dan taat terhadap syariat Allah Ta’ala, maka hidupnya pun terarah menuju jalan kebahagian.

Sebaliknya, ketika mereka cenderung dengan akal pikirannya dan memilih berhukum dengan selain yang diturunkan Allah, maka pasti berujung kepada dampak buruk yang tidak sedikit, baik di dunia maupun akhirat. Dampak buruk di dunia bisa terlihat dalam lingkup sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Sementara di akhirat jelas berujung kepada siksaan.

Menolak syariat menjadikan hati keras membatu. Ketika ahli kitab melanggar perjanjian dengan Allah untuk mendengar dan taat, memperlakukan ayat-Nya secara tidak baik, menakwilkan kitab-Nya tidak seperti yang diturunkan, mengartikan tidak sesuai maksudnya, mengatakan hal-hal yang tidak disebutkan dalam kitab-Nya, enggan mengamalkan karena rasa benci di hati, akhirnya Allah menjadikan hati mereka keras membatu hingga tidak bisa memetik pelajaran dari nasihat yang disampaikan.

Ini adalah salah satu hukuman terbesar yang menghinakan hati, menghalangi hati dari kelembutan-kelembutan Rabbani, petunjuk dan kebaikan yang disampaikan malah semakin menambah keburukan.
Allah Ta’ala, berfirman:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيثٰقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قٰسِيَةً  ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِۦ  ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِۦ  ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ  ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ  ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 13)

Seperti itulah kondisi siapa pun yang berpaling dari syariat Allah dan lebih mengedepankan rasio serta hawa nafsu sebagai dasar dalam mengatur hukum di antara manusia. Sebagai balasannya, Allah Ta’alapun mengunci rapat hatinya. Allah Ta’ala, berfirman:

أَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُۥ هَوٰىهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلٰى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهِۦ غِشٰوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ اللَّهِ  ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 23)

Dalam tafsirnya, Imam As-Sa’di menjelaskan maknanya adalah pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya; apa yang disenangi nafsunya ia turuti. Tidak peduli diridhoi Allah atau tidak. Karena itu, Allah Ta’ala membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan ia tidak diberi hidayah. Pendengarannya dikunci mati sehingga ia tidak bisa menengar apa pun yang bermanfaat untuk dirinya. Hatinya juga tidak bisa menerima kebaikan dan Allah meletakkan tutupan atas penglihatannya dari melihat kebenaran.” (Tafsir As-Sa’di, 7/1637)

Dengan begitu maka jelas bahwa diantara karakter munafik adalah seperti yang diungkap dalam Ayat di atas yaitu menolak dan menghalangi orang untuk berhukum dengan hukum Allah Ta’ala. Kalaupun ada syariat yang mereka terima, itu bukan lantaran mereka yakin akan kebenarannya, namun semata-mata karena syariat tersebut sejalan dengan kepentingannya.

Wallahu a’lam

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Artikel Terkait

Back to top button