Konsensus Partai Republik tentang Israel Mulai Retak
Zionisme Kristen menjadikan Israel pusat politik konservatif. Kelompok America First dan generasi muda Partai Republik sedang menguji konsensus tersebut.
Retakan Generasi
Tantangan yang lebih konsekuensial mungkin muncul di antara generasi muda Partai Republik.
Survei Pew Research Center pada bulan Maret menemukan bahwa anggota Partai Republik secara keseluruhan memandang Israel secara lebih positif daripada tidak positif, yaitu 58 persen berbanding 41 persen. Namun, di antara anggota Partai Republik berusia 18 hingga 49 tahun, 57 persen memiliki pandangan tidak positif. Anggota Partai Republik yang lebih tua tetap jauh lebih positif. Survei Pew terpisah pada bulan Mei menemukan bahwa 42 persen warga Amerika yang cenderung memilih Partai Republik berusia 18 hingga 29 tahun memandang warga Israel secara positif, dibandingkan dengan 83 persen dari mereka yang berusia 65 tahun ke atas. Meskipun survei tersebut mengukur populasi dan pertanyaan yang berbeda, keduanya mengungkapkan perpecahan generasi yang tajam.
Temuan ini tidak berarti generasi muda Partai Republik telah meninggalkan Israel atau menentang hubungan AS-Israel. Temuan ini menunjukkan bahwa konstituensi yang menopang aliansi tersebut menjadi kurang seragam.
Alasannya meluas melampaui ideologi. Generasi muda Amerika menyaksikan konflik melalui media sosial, pelaporan tentang Gaza, dan gambar-gambar penderitaan warga sipil. Beberapa mempertanyakan apakah komitmen kebijakan luar negeri yang berlandaskan agama melayani kepentingan Amerika. Yang lain mendukung Israel sembari menentang kebijakan pemerintah Israel tertentu. Pandangan tidak positif terhadap Israel tidak boleh secara otomatis disamakan dengan permusuhan terhadap warga Israel atau penolakan terhadap hubungan bilateral.
Niscaya, generasi yang semakin terpecah atas Israel mungkin terbukti kurang responsif terhadap imbauan yang memperlakukan dukungan bagi negara tersebut sebagai ujian identitas konservatif yang tidak boleh dipertanyakan.
Warisan Partai Republik yang Berubah
Israel telah berkembang menjadi lebih dari sekadar prioritas kebijakan luar negeri. Bagi jutaan kaum konservatif, dukungan untuk Israel telah menjadi bagian dari identitas keagamaan dan moral Partai Republik.
Warisan itu tetap kuat, tetapi fondasinya bergeser. Generasi muda Partai Republik tumbuh dewasa selama perang di Irak dan Afganistan, nasionalisme Trump, skeptisisme terhadap intervensi luar negeri, dan perang Israel di Gaza. Pertanyaan-pertanyaan mereka semakin tidak hanya menyangkut teologi tetapi juga kepentingan nasional: Apa yang dicapai oleh dukungan AS untuk Israel, berapa biayanya, dan kapan keyakinan agama harus mengalah pada pertimbangan strategis?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat membentuk kembali koalisi tanpa serta-merta membubarkannya dengan segera. Organisasi evangelis mempertahankan sumber daya yang substansial, akses ke pemimpin politik, dan kapasitas untuk memobilisasi pemilih. Sekutu mereka di Kongres memegang posisi dengan pengaruh yang cukup besar, dan opini publik yang berubah tidak secara otomatis diterjemahkan menjadi platform partai baru atau pemungutan suara Kongres.
Namun, jurang pemisah yang berkembang antara pemilih evangelis senior dan generasi muda Partai Republik menghadirkan tantangan jangka panjang. Zionisme Kristen berhasil begitu mutlak sehingga premis-premisnya menjadi ortodoksi Partai Republik. Namun, aliansi yang dipertahankan oleh keyakinan agama, pengaruh kelembagaan, dan loyalitas partisan menjadi lebih sulit untuk dipertahankan ketika generasi baru mempertanyakan asumsi-asumsi mendasar tersebut.
Selama berdekade-dekade, dukungan untuk Israel dapat disajikan secara bersamaan sebagai kebijakan luar negeri dan iman. Makin ke sini, generasi muda Partai Republik mungkin menuntut pembenaran yang berbeda, pembenaran yang berlandaskan pada kepentingan AS yang nyata, bukan semata-mata kewajiban agama. Apakah dukungan Partai Republik untuk Israel dapat bertahan dari pergeseran tersebut dapat menjadi ujian menentukan bagi identitas partai yang terus berkembang.[]
Sumber: Aljazeera.com






