Konsep Hidup Barat vs Islam

Nabi Muhammad saw, manusia teladan bagi umat Islam, memberikan contoh bahwa kekuasaan diraih dengan jalan ‘sukarela’, saling ridha meridhai. Kekuasaan diraih dengan jalan musyawarah, bukan dengan jalan menang-menangan atau paksaan.
Lihatlah ketika Rasulullah dan Abu Bakar ra hijrah dari Mekkah ke Madinah, keduanya disambut dengan suka cita. Dan di tempat yang ‘subur’ itu, Rasul langsung diangkat sebagai kepala negara.
Bila di Mekkah Rasulullah dan para sahabatnya dicaci, ditindas dan bahkan ada yang dibunuh, maka di Medinah mereka diagungkan. Mereka ditempatkan pada kedudukan yang mulia. Mereka tidak lagi mengalami penindasan sebagai sebelumnya.
Di Madinah Rasulullah mengatur masyarakatnya agar menjadi masyarakat yang adil, makmur dan diridhai Allah SWT. Konstitusi tertulis disusun, suku-suku yang beragama Islam dipersaudarakan, masyarakat saling bantu membantu, masjid dan tempat-tempat berkumpul masyarakat dibangun dan lain-lain.
Konsep Hidup Barat vs Islam
Time is Money. Itulah konsep hidup mereka. Semua dinilai dengan uang. Bahkan ilmu juga dinilai dengan uang. Tujuan mencari ilmu di Barat adalah bagaimana dengan ilmu yang didapat dapat memperoleh uang sebanyak-banyaknya.
Uang bagi mereka adalah kebahagiaan. Perempuan dapat dibeli dengan uang. Jabatan dapat dibeli dengan uang. Rumah, kebutuhan hidup sehari-hari hingga alat-alat untuk mempercantik diri perlu uang.
Uang dan kekuasaan adalah segalanya bagi mereka. Maka diaturlah dunia agar uang dan kekuasaan harus mereka yang mengendalikannya. Nilai poundsterling dan dollar harus selalu tinggi ‘di atas nilai mata uang lain di seluruh dunia’. Lembaga-lembaga ekonomi dunia diatur dan dipantau dengan seksama agar selalu dibawah pengendalian mereka. Bunga bank diatur di New York atau di negara-negara yang mereka kendalikan.
Bagaimana dengan Islam?
Islam berbeda 360 derajat dengan Barat. Tujuan mencari ilmu dalam Islam bukan untuk menumpuk kekayaan. Tujuan mencari ilmu dalam Islam adalah untuk beribadah kepada Allah. Mencari ilmu adalah kewajiban yang sangat ditekankan oleh Islam. Mencari ilmu adalah untuk mendapatkan pahala dan ridha Allah. Mencari ilmu dan mengamalkannya adalah untuk lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Pengasih, Allah SWT.
Uang tentu saja dibutuhkan oleh kaum Muslim. Tapi uang bukan segalanya bagi Muslim. Puasa Ramadhan misalnya tidak bisa diganti dengan uang. Membatalkan puasa Ramadhan sehari diganti dengan uang 100 juta, kaum Muslim yang taat akan menolaknya.
Uang yang dipunyai kaum Muslim adalah untuk ibadah kepada Allah. Untuk sarana mencari ilmu, untuk membangun masjid atau tempat-tempat yang bermanfaat, untuk menafkahi keluarga (bagi suami), untuk membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga (bagi istri), untuk makan dan minum agar sehat dan kuat beribadah dan lain-lain.
‘Time is prayer’ bagi kaum Muslim. Hidup adalah untuk ibadah. Seluruh aktivitas hidup adalah ibadah menurut kaum Muslim. Mencari ilmu, menonton film, rekreasi, silaturahmi, mengajar, menulis, bekerja dan lain-lain. Selama aktivitas itu tidak diharamkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, maka hal itu adalah ‘ibadah’.
Dalam kehidupan Muslim, keridhaan Allah adalah pusat dari segalanya. Kaum Muslim bergembira bila melaksanakan hal-hal yang diridhai Yang Maha Pengasih dan sedih atau menyesal bila melaksanakan hal-hal yang diharamkan Yang Maha Pengasih. Bila ia melaksanakan hal yang haram, ia sangat menyesal dan segera bertaubat agar Allah menerima taubatnya.