SURAT PEMBACA

Lawan Proyek Terorisme dengan Dakwah Islam Ideologis

Berita terkait aksi terorisme sepanjang tahun ini, nampaknya tak akan reda. Setelah aksi teror di Gereja Katedral Makassar dan gedung Mabel Polri, kembali ramai media massa melansir penangkapan terduga teroris. Kamis (8/04/2021), Densus 88 menangkap pasangan suami istri di Bandara Soekarno-Hatta.

Senin (10/04/2021) Polisi juga menangkap 12 orang di Jakarta dan sekitarnya. Diduga semuanya berasal dari jaringan yang sama dengan aksi terorisme sebelumnya yaitu Jamaah Ansharut Daulah dan Jamaah Islamiyah (www.liputan.com).

Masih dengan lagu yang sama, terorisme itu tetap dialamatkan pada Islam. Karena di media massa tersebar video atau foto pelakunya, yaitu laki-laki bersorban serta perempuannya berjilbab dan bercadar. Disertai bukti seperti bahan-bahan peledak, buku-buku atau atribut Islam. Yang menarik di lokasi ditemukan juga KTP, KK dan surat wasiat dari pelakunya.

Bosan. Ya sebenarnya masyarakat sendiri sudah tak begitu perduli dengan hiruk pikuk berita terkait terorisme. Bahkan kerapkali menjadi olok-olokan netizen di media sosial. Lantaran banyak kejanggalan dalam aksi terorisme tersebut. Aparat kepolisian begitu sigapnya menangkap dan mengungkap identitas pelaku terorisme, disertai konferensi pers dengan narasi yang sama. Seakan-akan kerja keras aparat kepolisian membuahkan hasil. Tapi untuk kasus pembunuhan enam laskar FPI atau kasus penyerangan Novel Baswedan, sampai sekarang belum ada titik terang.

Serangkaian terorisme itu memang menjadi tanda tanya publik. Keberadaannya antara ada dan tiada. Selalu narasinya dari corong yang sama yaitu kepolisian. Selalu hadir saat kasus-kasus besar politik atau ekonomi mencuat. Akal sehat masyarakat melihat ada upaya pengalihan terhadap isu panas yang berkembang. Bahkan pengamat politik Rocky Gerung mengatakan ada orang/kelompok tertentu yang memang berniat untuk menciptakan kekerasan demi memaksakan kepentingan politik (wartaekonomi.co.id, 30/03/2021).

Jalan Buntu Proyek Terorisme

Gaung perang lawan terorisme dikumandangkan oleh Amerika Serikat (AS). Sejak peristiwa peristiwa 9/11/2001 yang meruntuhkan WTC dan Pentagon. Selanjutnya diimpor ke negara lain terutama yang mayoritas muslim, melalui kekuatan media massa dan kucuran dana. Membentuk opini global, bahwa terorisme lekat dengan Islam. Tak dipungkiri ini semua adalah upaya peredaman ideologi Islam dan kekuatan institusi politiknya.

Tapi ada sisi lain yang menarik. Sikap kritis atas kejanggalan adegan terorisme dan melihat korban justru banyak dari muslim, membawa orang-orang Amerika Eropa mempelajari Islam dari sumbernya (Al-Qur’an). Tak hanya itu mereka berinteraksi langsung dengan Muslim, ternyata tidaklah sesuai dengan apa yang dituding. Justru mereka melihat indah dan damainya Islam. Mereka menjadi jatuh cinta dengan Islam dan syariat-Nya. Sehingga jumlah muallaf di dataran Amerika dan Eropa meningkat pesat dari tahun ke tahun.

Tak hanya identitas Muslim yang semakin mewarnai kehidupan Amerika Eropa. Tapi juga muslim semakin melek dengan ideologi Islam. Hal ini pun terjadi di negeri-negeri Muslim sendiri. Muslim merindukan kembali kehidupan yang diatur dengan syariat Islam. Arab spring dan aksi 212 yang berjilid-jilid cukuplah menjadi bukti.

Berbagai proyek terorisme dan radikalisme lokal/global, baik dengan kekuatan fisik maupun undang-undang silih berganti digulirkan. Tapi upaya peredaman ideologi Islam menemui jalan buntu. Malahan penyuaran penerapan ideologi Islam Kaffah menggema di penjuru dunia. Ini membuktikan bahwa kebenaran (al-haq) akan dapat mengalahkan kebatilan, walaupun sekuat tenaga untuk membendungnya. Karena hakikatnya setiap manusia yang hanif menginginkan kembali pada fitrahnya sebagai hamba Allah SWT. 

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button