NUIM HIDAYAT

Mari Kita Islamkan Yahudi, Nasrani, Ateis…

Doa Rasulullah dan para sahabat dikabulkan. Allah mengirimkan para malaikat untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan bangunan yang dirintis Rasulullah itu. Renungkan Al-Qur’an surat Ali Imran 123-127:

وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدۡرٍ وَّاَنۡـتُمۡ اَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ‏ ١٢٣ اِذۡ تَقُوۡلُ لِلۡمُؤۡمِنِيۡنَ اَلَنۡ يَّكۡفِيَكُمۡ اَنۡ يُّمِدَّكُمۡ رَبُّكُمۡ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الۡمَلٰٓٮِٕكَةِ مُنۡزَلِيۡنَؕ‏ ١٢٤ بَلٰٓى ۙ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَتَتَّقُوۡا وَيَاۡتُوۡكُمۡ مِّنۡ فَوۡرِهِمۡ هٰذَا يُمۡدِدۡكُمۡ رَبُّكُمۡ بِخَمۡسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الۡمَلٰٓٮِٕكَةِ مُسَوِّمِيۡنَ‏ ١٢٥ وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشۡرٰى لَـكُمۡ وَلِتَطۡمَٮِٕنَّ قُلُوۡبُكُمۡ بِهٖؕ وَمَا النَّصۡرُ اِلَّا مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ الۡعَزِيۡزِ الۡحَكِيۡمِۙ‏ ١٢٦ لِيَقۡطَعَ طَرَفًا مِّنَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡۤا اَوۡ يَكۡبِتَهُمۡ فَيَنۡقَلِبُوۡا خَآٮِٕبِيۡنَ‏ ١٢٧

Perang yang dilancarkan kaum kafir dan munafik kepada Rasulullah itu, makin menguatkan semangat ukhuwah Islamiyah kaum Muslimin saat itu. Mereka makin yakin bahwa keyakinan yang mereka yakini itu benar dan harus diperjuangkan meskipun nyawa taruhannnya. Apalagi Rasulullah -orang yang selama hidupnya tidak pernah berbohong- menjanjikan bahwa mereka yang meninggal dunia dalam berjihad di jalan Allah dijamin masuk surga Allah SWT.

Tidak ada lagi para sahabat yang takut pada kematian. Menang dalam peperangan adalah baik dan syahid dalam medan perang juga baik. ‘Keyakinan yang hebat dalam jihad’ inilah yang menjadikan pasukan Islam nantinya menjadi pasukan ‘yang sangat menakutkan’ bagi pasukan kafir dalam sejarah dunia.

Dari Perang Fisik ke Perang Pemikiran

Pasukan-pasukan Islam mulai zaman Rasulullah hingga kekhilafahan di Turki (1900-an) adalah pasukan yang menakutkan bagi pasukan kafir di seluruh dunia. Mereka mempunyai semboyan hidup mulia atau mati syahid. Mereka diisi jiwanya oleh shalat dan Al-Qur’an. Mereka di-training oleh para ulama sehingga menjadi para ksatria yang hebat. Tujuan perang bukan untuk mengukir nama pribadi, tapi untuk mempertahankan atau menyebarkan risalah Ilahi (jihad fi sabilillah).

Lihatlah pasukan Islam di tanah air. Mulai dari Syarif Hidayatullah, Teuku Umar, Tjut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pattimura, Sultan Badruddin, Panglima Sudirman dan lain-lain, mereka berperang untuk mempertahan risalah Islam yang mulia. Mereka berperang melawan Portugis (Katolik) dan Belanda (Protestan), karena para penjajah selain ingin mengeruk kekayaan alam di tanah air juga ingin menyebarkan ajaran agama mereka. Belanda mengirimkan ‘ratusan misionaris’ di Indonesia, untuk mengkristenkan tanah air. Mereka beranggapan bahwa dengan mengubah keyakinan agama pribumi menjadi agama penjajah, akan memudahkan mereka untuk terus menancapkan cakarnya di Indonesia.

Alhamdulillah para pahlawan, bekerjasama dengan ulama, santri dan para penduduk melawan kaum penjajah habis-habisan. Ratusan tahun dari generasi ke generasi perlawanan itu terus dilakukan. Senjata hanya sederhana, keris, pedang, pisau atau bambu runcing. Itu senjata fisik. Senjata mental yang tidak dipunyai Belanda. Senjata mental pahlawan Indonesia adalah Allahu Akbar, Allah Maha Besar, semua makhluk termasuk penjajah adalah kecil. Isy kariman au mut syahidan. Hidup mulia atau mati syahid. Merdeka atau mati.

Pasukan Belanda motivasinya menjajah hanyalah materi. Hanyalah uang atau kekayaan. Mereka tidak mempunyai konsep mati syahid. Mereka takut kematian, meskipun mereka berani mengarungi laut ribuan kilometer ke Indonesia.

Motivasi Allahu Akbar berhadapan dengan motivasi ‘fulus akbar’. Hancurlah motivasi duniawi itu. Motivasi duniawi tidak ada Tuhan yang menolongnya. Motivasi duniawi sekutunya adalah iblis dan syetan. Secanggih-canggihnya iblis, dia adalah makhluk (terkutuk). Ia mesti kalah dengan Tuhan Allah SWT.

Maka jangan heran meski Belanda (Jepang dan pasukan sekutu), meski mengerahkan pasukan terbaik dan senjata militer yang canggih, mereka kalah dalam pertempuran. Bagaimana bisa menang perang melawan pasukan yang tidak takut mati? Bagaimana mau menang perang melawan pasukan Islam yang semboyan menang dalam peperangan alhamdulillah. Mati dalam peperangan juga alhamdulillah, karena dijamin Allah surga.

17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Banyak pejuang kemerdekaan yang kembali ke desa. Para kiai dan santri banyak kembali ke pesantrennya untuk melanjutkan Pendidikan. ‘Hanya sebagian yang terus ikut dalam kemiliteran’ di tanah air.

Di sinilah tragedi Pendidikan militer terjadi. Pendidikan militer tidak lagi dibina para kyai. Pendidikan militer tidak lagi dibina para ulama. Pendidikan militer dibina di luar negeri. Pendidikan militer dibina di Amerika Serikat, negara pemenang Perang Dunia II.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button