NUIM HIDAYAT

Mari Kita Islamkan Yahudi, Nasrani, Ateis…

Bila meneladani perjalanan hidup Rasulullah Saw, salah satu tugas yang sering dilalaikan kaum Muslimin adalah mengislamkan orang-orang non Muslim. Kaum Muslim saat ini banyak yang fokus dakwahnya hanya untuk kaum Muslim saja. Tentu ini bukan hal yang jelek, tapi lebih bagus lagi kalau kaum Muslim juga memikirkan bagaimana caranya agar orang-orang di luar Islam masuk Islam.

Rasulullah setelah menerima wahyu dari gua Hira’, Rasul mulai mengislamkan orang-orang terdekatnya. Mulai dari istrinya Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar ash-Shiddiq dan seterusnya. Di sini Rasul tidak hanya berhenti pada orang-orang terdekatnya, tapi terus meluaskan dakwahnya ke keluarga besarnya dan masyarakat Arab secara lebih luas.

Keberhasilan Rasul dalam mengislamkan masyarakat Arab saat itu, tentu dimulai dari diri beliau. Beliau telah berhasil menjadi pribadi yang mengagumkan. Jujur, cerdas, amanah, suka menolong orang yang butuh bantuan, suka menolong orang miskin dan lain-lain. Pribadi yang hebat ini membantu dakwah Rasulullah dapat berhasil dengan gemilang.

Makanya ketika Rasul menyampaikan ayat-ayat Allah, masyarakat Arab langsung tersentuh dan ingin lebih dekat dengan Rasul untuk mendengar ayat-ayat berikutnya yang menakjubkan. Gangguan dari beberapa petinggi kaum kafir Quraisy saat itu tidak membuat mayoritas berpaling dari dakwah Rasulullah.

Gangguan bukan hanya berupa perkataan atau kecaman terhadap apa yang disampaikan atau pada pribadi Rasul, tapi gangguan juga berupa siksaan bahkan pembunuhan. Beberapa sahabat Nabi yang telah memeluk Islam disiksa dan dibunuh.

Rasul tidak gentar terhadap ganggguan kaum kafir itu. Karena Rasul paham bahwa kebenaran mesti mendapat tantangan dari kaum yang ingkar kepada Allah. Rasul paham bagaimana dulu para Rasul juga mengalami hal yang sama. Nabi Ibrahim harus rela dibakar oleh raja bengis Namrudz karena menghancurkan keyakinan batil raja dan pengikutnya saat itu. Nabi Musa dikejar-kejar raja Firaun dan pengikutnya hendak dibunuh. Begitu juga yang dialami Nabi Isa dan lain-lain.

Di puncak kesulitan itulah Allah menurunkan pertolongan dan mukjizat kepada para RasulNya. Nabi Ibrahim as ditolong Allah dengan dinginnya api yang membakar. Nabi Musa as ditolong Allah dengan laut yang membelah menjadi daratan, sehingga beliau dan pengikutnya bisa melewati laut itu. Nabi Isa ditolong Allah dengan ‘mengangkatnya ke langit’ sehingga ‘kaum Yahudi’ saat itu menyiksa dan menyalibkan orang lain (orang yang diserupakan seperti Nabi Isa as).

Begitu pula Nabi Muhammad Saw. Ketika para petinggi kaum kafir berencana membunuh Rasulullah, maka Allah mengirimkan wahyu-Nya agar Rasul segera berhijrah ke Madinah.

Di Madinah itulah justru Rasulullah dan para sahabatnya berhasil membangun peradaban yang terbaik di dunia. Membangun sebuah negara yang pertama kali di dunia dengan konstitusi tertulis. Membangun sebuah negara yang pertama kali mengajarkan toleransi kepada orang-orang non Islam. Membangun sebuah negara yang mendamaikan antar suku-suku Arab yang ‘biasanya suka berperang’. Membangun sebuah negara yang menjadikan budaya ilmu sebagai tradisi masyarakatnya. Membangun sebuah negara dengan menempatkan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Membangun sebuah negara yang dilandasi kerjasama dan kasih sayang dalam rangka bertakwa kepada Allah SWT.

Memang tidak mulus dalam pendirian negara Madinah Munawwarah itu. Kaum Yahudi dan kaum Musyrikin lainnya terus menerus membuat konspirasi untuk menghancurkannya. Rasul dan para sahabat tidak pernah putus asa dan selalu tegar menghadapi permusuhan mereka. Ratusan/ribuan nyawa para sahabat syahid menghadapi pertempura dengan kaum kafir itu.

Pertempuran yang terhebat adalah pertempuran besar pertama kali antara kaum kafir dan kaum Muslim. Ghazwah Badar. Kaum kafir berjumlah sekitar 1000 orang dengan peralatan yang jauh lebih hebat dari kaum Muslim. Pasukan Rasulullah hanya berjumlah sekitar 300 orang dengan senjata seadanya.

Menghadapi musuh yang jumlahnya lebih tiga kali lipat itu, tidak membuat kaum Muslim menciut semangatnya atau menyerah sebelum perang. Mereka yakin bahwa Yang Maha Kuasa, Allah SWT akan menurunkan pertolongannya dalam perang besar itu. Para sahabat shalat dan berdoa sungguh-sungguh agar mencapai kemenangan dalam perang hidup dan mati ini. Rasulullah bahkan berdoa sambil menangis tersedu-sedu agar Allah memberi kemenangan dalam perang melawan pasukan kafir yang bengis dan besar itu.

1 2 3 4 5Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button