#IslamofobiaNASIONAL

Masjid dan Pesantren Dikaitkan Radikalisme dan Terorisme, HNW: Harusnya Polri dan BNPT Fokus Hadapi OPM

Jakarta (SI Online) – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengkritisi ditengah makin gencarnya aksi teror kelompok OPM di Papua, malah muncul rencana dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk memetakan masjid terkait radikalisme, dan tuduhan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait seratusan pondok pesantren dituduh terafiliasi jaringan terorisme.

Menurut Hidayat, hal-hal seperti itu malah meresahkan dan potensial memecah belah antara Komunitas Masjid dan Pesantren dengan TNI dan Polri, dan akan menumbuhkan saling curiga dan tidak percaya yang membahayakan persatuan dan kesatuan pejuang dan pendukung terbesar NKRI yaitu Umat Islam dan TNI dan Polri.

Ia pun berharap mestinya semua energi untuk pemberantasan terorisme dan radikalisme sekarang ini ditujukan untuk memetakan dan mengatasi bahaya yang nyata di depan mata seperti bahaya gerakan teror radikal separatis bersenjata OPM di Papua.

Baca juga: BNPT Tuduh Ratusan Pesantren Terafiliasi Terorisme, Sekjen MUI: Meresahkan, Membuat Kurang Aman dan Nyaman Masyarakat

“Rencana pemetaan masjid dikaitkan dengan isu radikalisme, dan tuduhan terhadap seratusan pondok pesantren terkait terorisme, lagi-lagi menampakkan wajah Islamophobia, dan menimbulkan dugaan adanya framing negatif dan tidak adil terhadap umat Islam, komunitas yang sangat berjasa bagi kemerdekaan Indonesia, dan komunitas yang sangat terasosiasi dengan masjid dan pesantren,” ujar Hidayat melalui pernyataan tertulisnya kepada Suara Islam Online, Jumat (28/1/2022).

“Jadi, sangat wajar, dan saya mendukung, sikap Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), PBNU, Muhammadiyah dan DMI (Dewan Masjid Indonesia) dan Pondok Gontor, yang secara tegas dan argumentatif mengkritisi dan menolak Islamophobia dan framing yang muncul akibat opini tuduhan tanpa bukti tersebut,” tambahnya.

Dalam kondisi seperti sekarang ini dengan makin gencarnya serangan teror TNPPB-OPM, dan makin banyaknya korban dari kalangan prajurit TNI dan Polri, Hidayat mengingatkan, mestinya semua pihak menguatkan simbol-simbol kesatuan Bangsa dan Negara agar lebih maksimal untuk perjuangkan keselamatan NKRI. Dan mengingat betapa besarnya peran Pesantren dan Masjid untuk Indonesia dalam perjuangannya melawan penjajah asing, maupun dalam menyelamatkan NKRI dari kudeta PKI.

Baca juga: BNPT Asal-asalan?

Seharusnya, kata Hidayat, semua potensi energi yang dimiliki mestinya secara maksimal disatupadukan untuk hadapi ancaman-ancaman yang nyata-nyata membahayakan eksistensi kedaulatan dan keutuhan NKRI seperti teror radikal separatisme OPM di Papua. Apalagi Menkopolhukam Prof Mahfud MD sudah menyatakan bahwa separatisme lebih berbahaya daripada radikalisme, dan KKB di Papua adalah organisasi teroris. Dan itu terbukti dengan makin beraninya mereka menantang perang terhadap TNI, bahkan sudah banyak jatuh korban baik dari aparat keamanan (TNI maupun Polri), juga Nakes dan sarana-sarana publik seperti Puskesmas, Sekolah, Pasar dan lain-lain akibat teror kelompok radikalis separatis itu.

“Bahkan kemarin TPNPB-OPM melakukan serangan bersenjata yang mengakibatkan gugurnya tiga prajurit TNI, dan satu kritis. Sebelumnya bahkan salah satu prajurit TNI putra asli Papua (Serda Miskel Rumbiak) juga gugur oleh serangan TPNPB-OPM. Ini harusnya benar-benar jadi fokus perhatian Negara dan siapapun yang jujur dan serius dengan semboyan NKRI harga mati,” kata pria yang akrab disapa HNW itu.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button