EDITORIAL

BNPT Asal-asalan?

Nampaknya, kali ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus melakukan evaluasi besar-besaran.

Bagaimana tidak, lembaga negara dengan anggaran besar –pada 2021 anggaran BNPT Rp515,9 miliar plus tambahan Rp304,7 miliar (tempo.co, 27/01/2020)– ternyata menghasilkan data yang kalau tidak boleh dikatakan salah alias ngawur ya asal-asalan. Tidak serius.

Padahal data yang dikeluarkan itu akan berpengaruh terhadap masa depan dan kehidupan bukan hanya kepada satu dua orang, tetapi juga ribuan atau bahkan ratusan ribu anggota organisasi atau jam’iyah.

Situs berita Tempo.co, pada Selasa, 25 Januari kemarin menurunkan sebuah berita berjudul “BNPT Sebut Ada Ratusan Pesantren yang Terafiliasi dengan Jaringan Teroris”. Berita ini nampaknya hasil liputan dari Rapat BNPT dengan Komisi III DPR di Senayan.

“Ada 11 pondok pesantren yang menjadi afiliasi Jamaah Anshorut Khalifah, 68 pondok pesantren afiliasi Jamaah Islamiyah dan 119 pondok pesantren afiliasi Anshorut Daulah atau Simpatisan ISIS,” kata Kepala BNPT Boy Rafli Amar dalam rapat tersebut seperti dikutip Tempo.co.

Bukan hanya menyinggung soal pesantren, Boy juga menyebutkan adanya rumah singgah dan jumlah napi terorisme (napiter) saat ini. Tetapi topik ini bukan yang sedang dibahas dalam tulisan ini.

Tempo.co memang tidak secara rinci menyebutkan pesantren-pesantren mana sajakah yang disebut Boy Rafli terafiliasi dengan kelompok teroris. Tempo.co hanya melansir ucapan Boy terkait jumlahnya saja.

Namun, sehari setelah rapat di DPR itu, di media sosial dan grup-grup WA beredar grafis berlogo BNPT seperti slide presentasi. Slide yang beredar ada tiga, judulnya: Yayasan dan Lembaga Amal Terafiliasi Kelompok Teror, Peta Pesebaran Pondok Pesantren Jamaah Islamiyah di Indonesia, dan Pesebaran Pesantren ISIS di Indonesia.

Butuh waktu yang lama untuk meneliti apakah nama-nama lembaga dan pesantren yang disebut BNPT itu benar-benar jaringan teror, JI atau bahkan ISIS. Namun, ada sejumlah nama lembaga yang disebut yang membuat semua orang terbelalak.

Pada slide “Pesebaran Pesantren Afiliasi ISIS di Indonesia” disebutkan, di DKI Jakarta ada enam Ponpes. Anehnya, disana ditulis salah satunya adalah “Radio Dakta”.

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button