#Bebaskan PalestinaNASIONAL

Membaca Tiga Tahun Tragedi Gaza: Krisis Moral Militer Israel dan Skenario Geopolitik

Bogor (Suaraislam.id) — Merah, hijau, putih, dan hitam menghiasi Aula LBH Keadilan Rakyat di Ruko Permata Yasmin, Bogor. Syal, pin, dan berbagai atribut Palestina yang dikenakan peserta menjadi penanda solidaritas terhadap rakyat yang selama tiga tahun terakhir hidup di bawah bayang-bayang genosida dan kehancuran.

Namun, di balik simbol-simbol solidaritas itu, tersimpan keprihatinan mendalam. Tragedi kemanusiaan di Gaza terus berlangsung tanpa kepastian kapan penderitaan rakyat Palestina akan berakhir.

Pada Jumat (9/10/2026), ruang tersebut menjadi tempat berlangsungnya diskusi refleksi bertajuk “Tiga Tahun Genosida, Sampai Kapan Palestina Menderita?”. Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute, Pizaro Gozali Idrus, hadir sebagai pemateri utama.

Diskusi itu tidak sekadar menjadi ruang untuk meratapi penderitaan rakyat Palestina. Lebih dari itu, forum tersebut mencoba membedah permainan geopolitik dunia sekaligus menyoroti retakan-retakan internal yang, menurut pemaparan Pizaro, tengah mengguncang Israel.

Di tengah gempuran militer yang terus berlangsung, muncul pertanyaan besar: apakah kekuatan persenjataan dan keunggulan militer cukup untuk mengakhiri perlawanan, atau justru perang berkepanjangan sedang menggerogoti ketahanan psikologis dan legitimasi internasional Israel?

Di hadapan peserta diskusi, Pizaro mengungkapkan persoalan yang dinilainya menjadi salah satu tekanan serius bagi militer Israel: krisis kesehatan mental prajurit.

Dengan merujuk pada data media Israel, Haaretz, ia menyebut sebanyak 22 prajurit Israel tewas akibat bunuh diri sepanjang 2025. Angka tersebut, menurut pemaparannya, menjadi yang tertinggi dalam 15 tahun terakhir sejak berakhirnya Operasi Cast Lead pada 2010. Jumlah itupun masih dipertanyakan mengingat Israel yang penuh kebohongan, angka yang sebenarnya bisa jadi lebih banyak.

“Awalnya, Israel berpikir perang melawan Hamas bisa diselesaikan dalam waktu satu atau dua bulan. Mereka salah kalkulasi,” terang Pizaro.

Perkiraan perang singkat itu, menurutnya, tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Perlawanan yang berlarut-larut membuat operasi militer Israel menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan.

Pizaro menggambarkan ketimpangan jumlah pasukan dengan menyebut sekitar 20.000 pejuang Hamas berhadapan dengan lebih dari 640.000 tentara penjajah dan sipil Israel. Dalam situasi tersebut, perang berkepanjangan di Gaza dinilainya turut menciptakan tekanan psikologis yang berat bagi personel militer Israel.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi mental prajurit. Peringatan pejabat militer Israel mengenai trauma dan kesehatan mental personel, insiden salah tembak atau friendly fire, hingga gugatan keluarga korban terhadap pemerintah disebut sebagai gambaran lain dari beban perang yang terus menumpuk.

Menurut Pizaro, dampak psikologis tersebut berpotensi menjadikan 2026 sebagai periode kritis bagi kesehatan mental personel militer Israel.

Perang yang semula diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu singkat itu, dengan demikian, justru memperlihatkan persoalan lain: ketahanan manusia di balik mesin perang modern.

Tekanan terhadap Israel, menurut Pizaro, tidak hanya datang dari medan pertempuran. Perubahan opini publik di negara-negara sekutunya juga menjadi faktor yang patut diperhatikan, terutama di Amerika Serikat.

Ia merujuk pada riset Pew Research Center per Maret 2025 yang menunjukkan bahwa 53 persen warga Amerika Serikat memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Angka tersebut disebut meningkat 11 persen dibandingkan 2022.

Pergeseran pandangan itu, menurut pemaparannya, terlihat lebih tajam di kalangan generasi muda berusia 18–49 tahun, dengan sentimen negatif mencapai 69 hingga 71 persen. Sementara itu, ketidaksukaan terhadap kebijakan militer Israel disebut meningkat hingga 37 persen.

“Legitimasi internasional Israel runtuh. Kepercayaan warga AS dan komunitas Yahudi global terhadap kepemimpinan Netanyahu berada di titik terendah,” tegas Pizaro.

Pernyataan tersebut menggambarkan pandangannya bahwa tekanan terhadap Israel kini tidak hanya berbentuk perlawanan bersenjata, tetapi juga menyangkut penerimaan publik terhadap kebijakan dan kepemimpinan negara itu.

Di tengah penderitaan Gaza yang terus menjadi perhatian dunia, perubahan opini publik tersebut menjadi bagian dari dinamika politik internasional yang dinilai dapat memengaruhi posisi Israel di mata masyarakat global.

Pertanyaan berikutnya pun mengemuka: mengapa genosida dan kehancuran di Gaza seolah terus berlarut-larut?

Dalam pemaparannya, Pizaro menjelaskan bahwa dinamika Gaza tidak berdiri sendiri. Ia melihat konflik tersebut sebagai bagian dari skenario geopolitik global yang saling berkaitan.

Ia menghubungkan rangkaian konflik internasional, mulai dari perang Rusia-Ukraina pada 2022, genosida Gaza, hingga eskalasi konfrontasi dengan Iran.

Menurut analisis yang disampaikannya, terdapat dua faktor utama yang perlu diperhatikan untuk membaca kepentingan di balik konflik tersebut: perebutan jalur perdagangan dan ambisi penguasaan pesisir Gaza, serta penguasaan energi dan upaya membendung pengaruh ekonomi Tiongkok.

Gaza, dalam analisis Pizaro, memiliki posisi strategis dalam jalur logistik yang menghubungkan Laut Merah, India, hingga Eropa.

Ia menilai Israel memiliki ambisi untuk mematahkan dominasi Terusan Suez, yang disebut menyumbang sekitar 9 miliar dolar AS per tahun bagi Mesir, melalui pembukaan jalur alternatif di kawasan tersebut.

Namun, menurut analisisnya, investasi berskala besar sulit direalisasikan apabila Gaza masih berada di bawah kendali kelompok perlawanan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button