Membaca Tiga Tahun Tragedi Gaza: Krisis Moral Militer Israel dan Skenario Geopolitik

Pizaro juga menyoroti skenario pengusiran atau eksodus warga Palestina ke Gurun Sinai. Dalam pembacaannya, pemindahan penduduk itu berkaitan dengan rencana menempatkan mereka sebagai buruh murah bagi industri sekaligus membuka jalan bagi pengosongan tanah Gaza untuk proyek kawasan elite dan pelabuhan internasional.
Pandangan tersebut menempatkan Gaza bukan semata-mata sebagai wilayah konflik, melainkan juga sebagai kawasan yang memiliki nilai strategis dalam perebutan kepentingan ekonomi dan jalur perdagangan internasional.
Bagi rakyat Palestina, persoalan itu berkaitan langsung dengan ancaman kehilangan tanah, tempat tinggal, dan ruang hidup yang telah mereka pertahankan selama bertahun-tahun.
Faktor kedua yang disoroti Pizaro adalah kepentingan energi dan persaingan kekuatan besar dunia.
Ia menilai eskalasi konflik yang meluas hingga Iran berkaitan dengan kepemilikan cadangan minyak mentah negara tersebut serta upaya membendung pengaruh ekonomi Tiongkok yang semakin berkembang di Timur Tengah.
Dalam analisisnya, gangguan terhadap stabilitas kawasan berpotensi memengaruhi rantai pasokan energi Tiongkok. Dengan demikian, konflik Timur Tengah juga dapat dibaca dalam konteks persaingan strategis antara Amerika Serikat dan kekuatan-kekuatan yang mendorong lahirnya tatanan dunia multipolar.
Pizaro melihat politik unipolar Amerika Serikat tidak menghendaki munculnya tatanan multipolar baru yang dipelopori Tiongkok, Rusia, dan negara-negara sekutunya.
Pembacaan tersebut memperluas perspektif peserta diskusi terhadap konflik Gaza. Di balik kehancuran bangunan dan jatuhnya korban jiwa, terdapat persaingan kepentingan yang melibatkan jalur perdagangan, sumber energi, dan pengaruh politik global.
Di tengah eksodus dan penghancuran yang digambarkan dalam diskusi, satu hal yang mendapat perhatian adalah daya tahan rakyat Gaza.
Penderitaan panjang tidak serta-merta menghapus ketahanan sosial masyarakat Palestina. Sebaliknya, konsolidasi sosial yang berpusat di masjid-masjid serta kaderisasi generasi yang berpendidikan Al-Qur’an digambarkan sebagai benteng moral yang tidak mudah ditaklukkan oleh mesin perang modern.
Masjid, dalam gambaran tersebut, bukan hanya tempat ibadah. Ia juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan ikatan sosial, membangun solidaritas, dan menjaga keberlangsungan kehidupan di tengah situasi yang menghancurkan.
Ketahanan ini menjadi sisi lain dari kisah Gaza yang kerap didominasi gambar reruntuhan, pengungsian, dan korban perang. Di balik kehancuran fisik, terdapat masyarakat yang terus berusaha mempertahankan identitas, kehidupan, dan harapan.
Bagi peserta diskusi di Bogor, ketahanan rakyat Palestina itu menjadi pengingat bahwa persoalan Gaza tidak dapat dipahami hanya melalui hitungan kekuatan militer atau kalkulasi geopolitik. Ada dimensi kemanusiaan yang harus terus ditempatkan di pusat perhatian.
Diskusi refleksi di Aula LBH Keadilan Rakyat itu akhirnya membawa kembali perhatian peserta pada pertanyaan yang menjadi tema utama: sampai kapan Palestina harus menderita?
Tiga tahun genosida, sebagaimana dibahas dalam forum tersebut, bukan hanya menandai panjangnya konflik. Periode itu juga memperlihatkan betapa persoalan Palestina terkait dengan dinamika kekuatan militer, opini publik internasional, kepentingan ekonomi, dan perebutan pengaruh global.
Melalui diskusi tersebut, masyarakat diajak untuk terus menjaga nyala kepedulian terhadap Palestina. Solidaritas tidak berhenti pada syal, pin, atau simbol yang dikenakan dalam sebuah pertemuan. Ia perlu diterjemahkan menjadi perhatian yang berkelanjutan terhadap nasib rakyat yang menghadapi kehancuran dan ketidakpastian.
Perjuangan membela Palestina, sebagaimana ditekankan dalam refleksi tersebut, bukan sekadar aksi solidaritas, melainkan bagian dari upaya menegakkan keadilan global di tengah persoalan hegemonisme dan penjajahan modern.
Dari sebuah ruang diskusi di Bogor, pesan itu kembali disuarakan: selama kebenaran terus disampaikan dan kepedulian tidak padam, harapan bagi kemerdekaan Palestina akan tetap menyala.
rep: silvi






