NASIONAL

Membedakan Pemimpin Palsu dan Pemimpin Sejati dalam Tinjauan Islam

Oleh: Nuim Hidayat (Direktur Forum Studi Sosial Politik)

Tidak mudah membedakan antara pemimpin palsu dan pemimpin sejati. Masyarakat awam biasanya menilai seseorang dari jabatan mentereng, seperti presiden, anggota DPR, atau wali kota, lalu menganggapnya sebagai pemimpin sejati. Mereka menghormati dan mendengarkan kata-katanya, meskipun terkadang pernyataan tersebut kurang bermutu dan perilakunya tidak terpuji.

Pemimpin palsu cenderung memanfaatkan wewenang untuk membangun citra diri, serta menunjukkan sikap yang hanya menguntungkan diri dan kelompoknya. Ia sering kali berkata manis di hadapan publik, padahal di balik itu perilakunya amat mengecewakan.

Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, dipuja-puja oleh para pendukungnya sebagai pemimpin hebat. Kata-katanya sering dikutip dan kepribadiannya banyak dipuji dalam buku sejarah, sehingga hanya sedikit ilmuwan yang memberikan kritik objektif.

Bila ditinjau dari nilai keislaman, Soekarno bukanlah figur pemimpin sejati karena perkataannya kerap bertolak belakang dengan tindakan. Dalam catatan sejarah, ia tercatat beberapa kali tidak menepati kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.

Dalam rapat Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945, para tokoh sepakat bahwa jika Indonesia merdeka, Piagam Jakarta yang disahkan hari itu akan dibacakan (lihat buku Endang Saefuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945). Namun, saat proklamasi kemerdekaan diikrarkan, Soekarno justru membaca naskah lain yang disusun di rumah Laksamana Maeda.

Soekarno pula yang memimpin rapat para tokoh pada 18 Agustus 1945 yang menghapus tujuh kata berlatar keislaman dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945.

Kritik tajam lainnya tertuju pada ketidakmampuannya dalam mengendalikan hawa nafsu personal. Buya Hamka juga sempat mengkritik kegemaran Soekarno berpidato di tengah kondisi rakyat yang sedang mengalami kemiskinan parah.

Selain itu, Soekarno dinilai meninggalkan pemikiran Islam H.O.S. Tjokroaminoto. Setelah menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB), ia tampak terpengaruh oleh pemikiran akademisi Belanda yang beraliran sosialis, hingga mengagumi ajaran Karl Marx dan Friedrich Hegel. Ia memandang semua agama sama dan bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara sekuler layaknya Turki di bawah kepemimpinan Kemal Ataturk.

Oleh karena itu, dalam kacamata nilai Islam, kepemimpinannya dinilai memiliki celah mendasar. Hanya pandangan sekuler atau pemahaman keislaman yang dangkal yang menempatkannya sebagai figur pemimpin ideal.

Di tanah air, terdapat pula tokoh keagamaan yang dipuja-puja masyarakat hingga dianggap sebagai wali oleh sebagian pengikutnya. Namun, jika diteliti secara cermat, jejak sejarahnya justru kerap merugikan kepentingan politik umat Islam. Tokoh ini pernah menerima penghargaan dari tokoh Yahudi Israel, menolak pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), serta sering mengeluarkan pernyataan yang memojokkan ajaran Islam.

Majalah Gatra bahkan pernah mengulas kontroversi pribadi terkait dirinya. Sebagian kalangan juga sempat mempertanyakan komitmen pelaksanaan syariat Islam, khususnya ibadah salat yang ia jalankan.

Pengikutnya banyak yang terpesona dan memberikan pujian secara berlebihan. Padahal, jika dicermati berdasarkan standar nilai Islam, ia bukanlah figur pemimpin sejati.

B.J. Habibie merupakan salah satu contoh figur pemimpin sejati. Sebelum menjabat sebagai presiden, ia adalah seorang ilmuwan tegar yang diakui dunia internasional di bidang penerbangan. Ia populer dengan pandangannya bahwa Indonesia tidak hanya memerlukan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), tetapi juga imtak (iman dan takwa).

1 2Laman berikutnya
Back to top button