Membedakan Pemimpin Palsu dan Pemimpin Sejati dalam Tinjauan Islam
Saat memimpin ICMI, ia banyak memberikan beasiswa kepada pemuda-pemuda berprestasi untuk menempuh pendidikan di luar negeri.
Ketika menjabat sebagai presiden, B.J. Habibie membuka kran kebebasan pers, membebaskan tahanan politik, serta membenahi perekonomian Indonesia secara cemerlang. Ia berhasil menekan nilai tukar dolar AS dari Rp16.000 menjadi Rp6.500, serta membangun hubungan diplomatik yang harmonis dengan Eropa dan negara-negara Timur Tengah.
Mohammad Natsir juga merupakan teladan pemimpin sejati. Kendati tidak pernah menjadi presiden dan hanya menjabat sebagai Perdana Menteri serta Menteri Penerangan, integritasnya membuat umat Islam dan akademisi luar negeri mengaguminya.
Meskipun memiliki kesempatan untuk hidup bergelimang harta, Natsir memilih jalan hidup sederhana. Seluruh hidupnya diabdikan untuk jalan dakwah Islam demi meneladani Rasulullah saw. Ia menghimpun para da’i dari seluruh Indonesia dan menyebarkannya ke berbagai pelosok tanah air untuk menguatkan pilar keislaman. Ia secara terbuka menyampaikan cita-citanya menjadikan Indonesia berlandaskan Islam melalui jalur parlementer dan konstitusional.
Natsir bertutur kata dengan santun dan tidak berapi-api. Keselarasan antara ucapan dan perbuatan, kesederhanaan, kedalaman intelektual, serta kepeduliannya terhadap kaum duafa menjadikannya pemimpin sejati yang diakui oleh dunia Islam.
Terdapat dua ayat Al-Qur’an yang sangat relevan untuk direnungkan terkait prinsip kepemimpinan ini. Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nisa ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (Q.S. An-Nisa: 58)
Prinsip kepemimpinan Rabbani juga ditegaskan dalam firman Allah Swt. pada surah Al-Hajj ayat 41:
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمعرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Q.S. Al-Hajj: 41)
Bagaimana dengan kepemimpinan Joko Widodo dan Prabowo Subianto? Insyaallah akan kita ulas dalam pembahasan berikutnya. Wallahu ‘alimun hakim.[]
