RESONANSI

Menulis Titah Allah dan Rasul-Nya

Ulama salaf sangat paham terkait hal ini. Kebiasaan mereka ketika menghadiri majelis ilmu,  mencatat penjelasan gurunya. Setelah berakhir majelis ilmu, mereka mendatangi guru untuk kroscek catatan. Yang patut dikagumi, dengan mengharap pahala jariyah, mereka menyulap catatan tersebut menjadi buku.

Mereguk Berkah dengan Adab Menulis

Masyhur nasihat ulama untuk mengutamakan adab baru ilmu.

  تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu

Sebagaimana mempelajari ilmu harus mendahulukan adab, menulis pun sama. Karena keberkahan tulisan tergantung pada adab menulis. Pertama, menulis haruslah ikhlas. Niat untuk mendapat pahala dan balasan dari Allah semata. Keikhlasan linear dengan keberkahan ilmu. Indikator keberkahan ini nampak pada diamalkan ilmu tersebut oleh sang penulis dan orang yang mempelajari tulisannya.

Kisah penulis kitab Al Jurumiyah (Ibnu Ajurrum) sangat masyhur. Ketika selesai menulis kitab tersebut, beliau sengaja mendatangi sungai. Beliau berbicara sendiri: apabila niatnya salah dan tulisannya tak memberikan manfaat, maka lunturkanlah tinta dalam kitab. Setelah itu Beliau menghanyutkan kitabnya di sungai. Ternyata dengan kuasa Allah yang Maha Mengetahui, walaupun basah terkena aliran deras air sungai, tintanya tetap tak luntur. Sampai sekarang kitab tersebut dipelajari secara luas oleh pesantren berbagai negeri.

Kedua, menulis didahului bersuci dan berdoa. Karena ilmu Allah adalah nur (cahaya). Ilmu Allah akan ‘terhalang’ jika diri dalam keadaan tak menjaga kesucian. Mengabaikan kesucian, merendahkan ilmu. Efeknya nihil keberkahan. Ulama salaf acapkali menunaikan shalat sunnah terlebih dahulu sebelum menulis, diiringi dengan berdoa memohon keberkahan.

Ketiga, menulis diiringi perasaan khauf, raja’ dan meminta pertolongan Allah. Khauf, jika yang ditulis bertentangan dengan hukum syara’. Raja’, mengharap apa yang ditulis menjadi ilmu bermanfaat yang mendatangkan pahala jariyah. Sehingga senantiasa meminta bimbingan dan pertolongan Allah dalam menulis. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Desti Ritdamaya, Praktisi Pendidikan

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

BACA JUGA
Close
Back to top button