OPINI

Merdeka Menurut Emak-emak

Baru saja berlalu peringatan kemerdekaan yang ke 74. Usia renta bagi manusia, entah apa jadinya bagi sebuah negeri. Di usia yang setua ini, patutlah seluruh warga muhasabah, mengukur sejauh mana capaian kemerdekaan di bumi pertiwi. Benarkah kita sudah merdeka. Layakkah kita lantang meneriakkan kemerdekaan, sementara umat bermandi peluh meraih kesejahteraan.

Jika memang merdeka, bukankah seharusnya umat mudah memenuhi kebutuhan dasar dan pokoknya. Tak perlu mengernyitkan dahi. Tak usah bersitegang menerima kebijakan-kebijakan penguasa. Juga tidak dengan menggadaikan martabat kemanusiaan. Merdeka akhirnya menjadi makna yang bias.

Sekalipun seremonial kemerdekaan dimeriahkan di seluruh penjuru tanah air. Namun tidak bisa dipungkiri lagi, kerusakan terjadi di depan mata. Sempitnya hidup akibat lemahnya pemimpin memegang amanah pengurusan umat, terindera. Tak terkecuali oleh para emak. Kondisi kekinian yang bergulir di tengah umat adalah kondisi yang membuat umat semakin kritis.

Mereka kini mampu menghukumi fakta, seraya membandingkan solusi satu dengan lainnya. Para emak yang semula berkutat pada area domestik, kini semakin pandai berpikir politis. Era tekhnologi dan komunikasi, mengalihkan perhatian emak dari menikmati sinetron televisi, kepada informasi gawai. Akses internet memudahkan emak-emak mendapatkan info. Tidak saja info seputar mengurus rumah tangga, tapi juga mengurus negara.

Ditambah lagi, kajian Islam kaffah telah berhasil mengetuk pintu-pintu rumah. Bak sales menawarkan dagangan, para da’iyah menyajikan Islam sebagai solusi kehidupan. Dengan bahasa yang santun serta menyesuaikan alur berpikir emak, Islam menjadi sangat sederhana, solutif dan mudah dipahami

Allah SWT berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

Maka kini tak heran jika para emak semakin cerdas, hingga rela berada di garis depan perjuangan umat. Mereka siap menyuarakan Islam sebagai satu-satunya solusi sahih mengatasi persoalan umat. Sebab hati dan pikiran mereka telah terbakar panas Islam. Itulah sifat sebagai sebuah mabda, membuat emak pun gerah berdiam diri.

Sembari bertandang ke tetangga, emak mampu menyampaikan Islam. Estafet dakwah para daiyah. Dari obrolan seputar garam dan cabe bisa dilarikan ke ranah politik. Para emak akhirnya mampu diskusi sekelas politisi, membuka tabir carut marutnya harga kebutuhan dapur akibat gunjang-ganjingnya situasi ekonomi dunia.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button