NUIM HIDAYAT

Merenungi Al-Qur’an (3)

Karena itu Rasulullah menyatakan bahwa yang membedakan mukmin dan kafir itu adalah shalat. Kaum kafir memang tidak ada yang shalat. Kaum kafir ‘mayoritas’ hanya mementingkan dunia belaka. Mereka menyembah kepada Tuhannya ‘seminggu sekali’. Dan bahkan kadang sebulan sekali. Ia merasa tidak butuh Tuhan.

Ia terperosok menyembah dirinya sendiri. Ia merasa bisa mengatasi semua dengan otaknya. Kebahagiannya semu, hanya pada materi belaka. Pada kekuasaan, harta, wanita dan sejenisnya. Ia tidak merasakan kebahagiaan berhubungan dengan Tuhannya (Allah).

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al Jatsiyah 23)

Rasulullah bila mengutus sahabatnya ke luar Makkah, maka beliau berpesan agar masyarakat diajak pertama mengucapkan syahadat, setelah itu melaksanakan shalat.

Shalat juga menunjukkan ketundukan hamba kepada Yang Maha Pencipta. Shalat mengikis kesombongan yang ada dalam diri manusia. Sifat sombong -yang dimiliki Iblis- inilah yang merupakan bibit kerusakan manusiia dan dunia. Di dunia politik kita lihat bagaimana kesombongan yang dimiliki Amerika, Rusia dan China, sehingga menjadikan rusak negara-negara yang ditundukkannya.

Begitu pentingnya shalat, Al-Qur’an menyatakan bahwa seorang pemimpin tugasnya yang pertama adalah mengajak rakyatnya shalat. Al-Qur’an berbeda dengan konsep politik sekuler yang menempatkan tugas pertama pemimpin adalah mengatasi ekonomi. Dalam surat al Hajj 41 disebutkan bahwa mengatasi masalah ekonomi masyarakat itu adalah tugas kedua.

Allah SWT menyatakan, ”(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS al Hajj 41).

Untuk mengajak rakyatnya shalat, maka dalam masyarakat Islam, pemimpin itu harus bisa menjadi imam shalat. Pemimpin yang shalatnya tidak tertib dan yang ‘tidak bisa mengimami shalat’, dicoret dari daftar calon pemimpin.

Dalam dunia Pendidikan, shalat juga merupakan kurikulum utama yang harus dilaksanakan para guru dan murid. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim berdoa dengan sungguh-sungguh agar keturunannya menjalankan shalat (menjadi anak yang shalih).

رَبِّ اجۡعَلۡنِىۡ مُقِيۡمَ الصَّلٰوةِ وَمِنۡ ذُرِّيَّتِىۡ‌ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ‏

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Mengapa shalat menempati kedudukan yang sangat penting? Al-Qur’an menyatakan bahwa shalat akan membentuk kepribadian yang bagus pada manusia, yaitu shalat akan dapat meninggalkan perbuatan keji dan mungkar.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button