NUIM HIDAYAT

Merenungi Al-Qur’an (5)

Pagi yang indah ini kita melanjutkan renungan kepada Al-Qur’an yang mulia. Kita sudah membahas, iman kepada yang ghaib, masalah shalat dan masalah sedekah. Kini kita lanjutkan dengan membahas Al-Qur’an dan kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, ”Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”

Iman kepada Al-Qur’an adalah hal utama dalam Islam, setelah iman kepada Allah dan Rasul-Rasulnya. Al-Qur’an yang menjadi landasan hidup kaum Muslim ini dalam sejarahnya selalu diserang oleh para orientalis, para pendeta atau para intelektual yang tidak suka Islam.

Serangan itu sebenarnya terjadi sejak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Kaum cendekia pertama yang pertama menentang Rasulullah adalah Walid bin Mughirah.

Siapakah dia? Ia adalah penentang Rasulullah yang ulung selain Abu Lahab dan Abu Jahal. Ia adalah tokoh Quraisy, ahli syair, orang bangsawan dan kaya raya. Sebelum Rasulullah lahir ia mempunyai sifat-sifat terpuji. Di antaranya mengharamkan khamr untuk diri dan keluarganya dan pernah memugar dan membangun Ka’bah.

Nama lengkapnya adalah al Walid ibnul Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Ia juga adalah seorang hakim di masyarakat Arab jahiliyah, tokoh di Darun Nadwah dan dianggap pemersatu bangsa Arab. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang meminjamkan uangnya dengan riba.

Sifat mulianya hilang, ketika ia mendengar bahwa Nabi Muhammad mendapat wahyu dari Allah SWT. Ketika wahyu turun kepada Rasulullah, ia mengatakan, “Mengapa al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad, sedang aku diabaikan, padahal aku merupakan tokoh dan pemuka Quraisy?” Ia terus menerus menentang Rasulullah. Hingga turun ayat,

“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang Aku sendiri telah menciptakannya. Dan Aku berikan baginya kekayaan yang melimpah. Dan anak-anak yang selalu bersamanya. Dan Aku berikan kepadanya kelapangan (hidup) yang seluas-luasnya. Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Tidak bisa. Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an ). Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Lalu berwajah masam dan cemberut. Kemudian berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: “(Al-Qur’an ) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Inilah hanyalah perkataan manusia. ”Kelak Aku akan memasukkanya ke dalam (neraka) Saqar.” (QS al Mudatsir 11-26).

Jalaluddin as Suyuthi, Imam Qurthubi, at Thabari, Ibnu Katsir dan lain-lain sepakat bahwa yang dimaksud surat al Mudatsir 11-26 adalah Walid bin Mughirah.

Meski demikian anaknya menjadi pahlawan Islam, pedang Allah, yaitu Khalid bin Walid. Anaknya yang lain juga memeluk Islam yaitu al Walid bin Walid. Anaknya diceritakan dalam sejarah jumlahnya 12 orang.

Abu Jahal pernah datang ke rumah Walid bin Mughirah karena ia mendengar bahwa Walid berkata kepada Abu Bakar bahwa Al-Qur’an bukan syair dan bukan ocehan dari orang gila. Ketika Abu Jahal memprotes perkataannya itu, Walid mengatakan: “Apa yang harus aku katakan tentang Al Qur’an? Demi Allah tiada seorangpun diantara kalian yang paling mengetahui soal syair daripada aku dan syair jin selain daripadaku. Demi Allah apa yang dikatakan Ibnu Abu Qahafah (Abu Bakar) tidak mirip dengan syair. Demi Allah apa yang diucapkannya itu benar-benar indah, menghancurkan tuturan selainnya, unggul dan tidak dapat diungguli.”

Abu Jahal menyatakan: “Demi Allah, kaummu tidak akan puas sebelum kamu menjelaskannya pada mereka.”

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button