NUIM HIDAYAT

Pak Luhut, Masuk Islamlah Mumpung Masih Hidup

Pak Luhut, mengatasi krisis ekonomi di negeri ini harus mulai dari atas. Bila yang berdiam di Istana banyak yang serakah terhadap dunia, maka para pejabat di bawahnya ikut-ikutan. Rakus atau tamak ini penyakit laten dan menular pada bangsa kita.

Kembali ke masalah agama. Pak Luhut, lihatlah hanya Islam yang serius beribadah kepada Tuhannya. Tiap hari minimal lima kali. Agama lain rata-rata ibadahnya ‘seminggu sekali’.

Di samping itu hanya Islam yang menempatkan manusia dan Tuhan dengan benar. Isa as dalam agama Kristen dianggap Tuhan, bagaimana logikanya? Wong jelas Isa itu manusia dan dilahirkan oleh manusia (meski tanpa suami). Kok dianggap Tuhan? Mengapa tidak menganggap sekalian Nabi Adam sebagai Tuhan? Karena kan nabi Adam lahir tanpa ayah dan ibu.

Itulah kekacauan konsep ketuhanan Kristen.

Bila Pak Luhut, mau merenung dan obyektif melihat sejarah Indonesia, maka Indonesia ini adalah warisan para wali/ulama dan para pejuang Islam. Bukankah Portugis dan Belanda membawa misi Katolik dan Protestan di negeri ini gagal total? Bukankah yang melawan penjajah hampir seratus persen adalah pahlawan-pahlawan Islam?

Sekali lagi, kami dengan hati yang tulus mengajak Pak Luhut untuk masuk Islam. Bila Pak Luhut berkenan Alhamdulillah itu adalah hidayah dari Allah. Bila tidak berkenan, kami berlepas diri  bila Pak Luhut tidak masuk surga di akhirat nanti.

Kami hanya berdoa pada Allah semoga hidayah bisa sampai ke hati Pak Luhut, tapi bagaimanapun semua terserah pak Luhut sendiri. Memilih Islam atau tetap menjadi kafir.

Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk kemuliaan Islam ini kepada kita semua. Wallahu ‘alimun hakim. Wallahu azizun hakim.

Wassalam,

Nuim Hidayat, Anggota MIUMI dan MUI Depok.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button