SURAT PEMBACA

Pembantaian Muslim India, Bukti Kesewenangan Atas Minoritas

Duka kembali menyelimuti kaum muslim. Diberitakan oleh CNN (28/2) bahwa 38 orang meninggal akibat kerusuhan yang terjadi di India. Dan ratusan lainnya terluka, baik dari sisi muslim ataupun hindu. Termasuk Zubair, seorang muslim yang videonya viral saat dipukuli oleh sekelompok orang yang sedang marah.

Peristiwa ini bermula dari adanya aksi penolakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Amendemen Undang Undang Kewarganegaraan (CAA). Ini adalah UU baru tentang kewarganegaraan. Jika sebelumnya untuk menjadi warga negara India perlu tinggal 11 tahun dan tidak memandang agama apapun. Kini UU tersebut direvisi menjadi 6 tahun dengan syarat bukan muslim.

Bagi sebagian aktivis, UU ini dinilai menyudutkan dan mendiskriminasi kaum muslim. Sebagaimana yang kita ketahui India memiliki warga negara yang mayoritas hindu. Dengan 15 persen adalah muslim. Sebelumnya konflik berdarah pernah terjadi di sini. Sekitar 18 tahun lalu pernah terjadi peristiwa yang serupa. Bahkan 2000 muslim kehilangan nyawanya. Dan ribuan orang kehilangan rumahnya.

Tidak bisa dipungkiri ketika umat muslim menjadi minoritas, kondisinya selalu dalam tekanan. Entah tekanan politik atau bahkan fisik. Selain wilayah India. Muslim menjadi minoritas di beberapa negara. Salah satunya di China dan Myanmar. Nasibnya juga memprihatinkan. Muslim Uygur dan Rohingnya pun menjadi santapan kelompok berkuasa di negerinya.

Sebagaimana di Palestina, muslim Gaza pun harus bertahan hidup di tengah peliknya kependudukan Israel. Mereka setiap hari merasakan deruan meriam, kadang tembakan, bahkan hidup di malam hari bersama kegelapan. Tidak ada yang bisa menjamin mereka hidup di keesokan hari. Nasib saudara muslim kebanyakan terdiskriminasi saat mereka minoritas. Sungguh memilukan.

Lantas bagaimana jika kaum muslim justru yang mayoritas? Apakah mereka akan mendiskriminasi kaum minoritas? Sejarah telah membuktikan. Selama 13 abad, sejak masa Rasulullah masih ada. Hingga masa terakhir Kesultanan Utsmani, umat muslim tak pernah sedikitpun membantai kaum minoritas.

Bagi orang-orang non muslim yang menjadi warga negara Islam, seluruh kebutuhan mereka dijamin dan dipenuhi. Bahkan keamanan mereka dijaga. Darah mereka sama haramnya seperti kaum muslim ketika ditumpahkan. Mereka diberi kebebasan dalam beribadah. Semua ini dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Yang diikuti pemimpin setelahnya.

Sebagai contoh kisah seorang pengemis buta yang selalu menghina dan mencaci Rasulullah Saw. Namun, dengan kasih sayang Rasul setiap hari menemui beliau. Dan memberikan makan serta menyuapinya. Tanpa rasa sakit hati Rasul terus memberikan teladan. Hingga di akhir hayatnya. Ketika Abu Bakar datang menggantikan Rasul. Barulah si pengemis itu sadar, Abu Bakar bukan orang yang biasa menyuapinya. Saat itulah Abu Bakar mengabarkan bahwa yang setiap kali datang itu adalah Rasul Muhammad yang selalu ia maki.

Kisah lainnya yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib. Ada seorang Yahudi yang mencuri baju besinya. Saat itu saksi yang melihat adalah Hasan dan Husain. Kebetulan keduanya masih kecil. Dalam Islam kesaksian syah jika yang bersaksi satu orang lelaki dewasa atau dua orang perempuan dewasa. Karena tidak ada saksi lainnya, maka Islam memenangkan Yahudi atas Ali. Inilah bukti Islam tak pilih kasih. Bahkan jika tidak ada bukti, Islam tidak seenaknya menghukum orang.

Atau kisah seorang Nasrani yang minta keadilan dari Umar bin Khathab. Jauh dari negerinya ia mencari sang khalifah umat. Ia ingin mengadukan kebijakan wali di tempatnya karena telah menggusur rumahnya untuk melebarkan masjid. Saat itu Umar hanya memberikan tulang yang digaris oleh pedangnya.

Bagaimana selanjutnya? Ketika pedang itu diberikan ke Wali yang memimpinnya tubuhnya menggigil dan keluar keringat dingin. Ia mengetahui Umar marah dengan tindakannya. Ia paham makna garis lurus di tulang itu. Dia kembali ke jalan yang lurus atau akan diluruskan oleh Umar dengan pedangnya. Akhirnya rumah si nasrani kembali.

Islam telah membuktikan bahwa ia adalah agama yang cinta damai. Tidak pernah memberikan kekerasan bagi para penduduk minoritas. Wallahu a’lam bishshawaab.

Henyk Nur Widaryanti S. Si., M.Si.

Artikel Terkait

Back to top button