Pembunuhan Massal Tidak Berarti Israel Menang
Kekuatan militer Israel telah gagal mencapai tujuan politik di Gaza yang seharusnya dilakukannya.
Terakhir, persiapan pengusiran warga Palestina dari Gaza belum mengalami kemajuan berarti. Israel telah mencoba mendorong warga Palestina untuk meninggalkan tanah mereka melalui pengungsian berulang-ulang, kelaparan, dan perusakan rumah.
Kehancuran telah membuat wilayah itu tidak layak huni, tetapi mayoritas penduduk Palestina telah menegaskan bahwa mereka ingin bertahan. Bahkan, banyak di antara mereka yang berstatus sebagai warga yang kembali dari perbatasan Mesir.
Pada titik ini, jelas bahwa Israel menghadapi masalah serius pascaperang di Gaza. Militer mereka mampu meratakan Jalur Gaza, tetapi gagal membangun realitas politik baru yang memuaskan tujuan Israel.
Harapan bahwa menghancurkan Gaza menjadi lanskap apokaliptik akan mendorong seluruh populasi ke dalam keputusasaan telah dipatahkan.
Kehadiran terus-menerus warga Palestina, perlawanan yang terus berlanjut, dan menonjolnya isu politik Palestina telah menunjukkan bahwa pendekatan agresi brutal Israel telah gagal. Kekuatan militer dapat memaksakan realitas sementara, tetapi tidak dapat menghasilkan legitimasi politik dengan sendirinya.
Lebih buruk lagi, hal itu justru dapat menghancurkan legitimasi. Itulah yang sebenarnya terjadi pada pemerintah Israel dan proyek Zionis secara keseluruhan.
Ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu naik ke podium untuk berpidato di depan Majelis Umum PBB bulan lalu, mayoritas perwakilan negara PBB berjalan keluar dari aula. Netanyahu sendiri menghadapi surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan kejahatan perang.
Bukan hanya kedudukan internasionalnya yang dihancurkan oleh perang genosida ini. Israel makin ditolak oleh mayoritas global. Survei Pew Research di 36 negara menemukan bahwa 67 persen orang dewasa memandang negara tersebut secara tidak menyenangkan.
Di Washington, perdebatan tentang dukungan AS terhadap Israel telah meningkat. Anggota parlemen kini mulai mendukung rancangan undang-undang yang mengusulkan pembatasan bantuan militer.
Hari ini, para pemimpin Israel akan berpidato di depan rakyatnya. Mereka membual tentang keberhasilan militer, merayakan kehebatan senjata, dan menjanjikan lebih banyak balas dendam.
Namun kenyataannya, tentara Israel, salah satu yang terkuat di dunia yang memegang jet tempur canggih, melancarkan perang genosida terhadap aktor non-negara yang lemah bersenjata ringan, dan mereka kalah. Orang dapat dibunuh dan rumah dapat dihancurkan, tetapi tujuan nasional yang telah beresonansi dengan dunia tidak dapat dihilangkan melalui kekuatan militer. []
Sumber: Aljazeera.com






