SURAT PEMBACA

Pemimpin Takut Allah Swt, Masih Adakah?

Seolah tak lepas dari kontroversi, hampir seluruh pernyataan paslon petahana selalu menjadi sorotan publik. Bagaimana tidak pernyataannya , tidak takut kecuali Allah SWT mendadak viral. Berbagai respon muncul seperti dari Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, menilai pernyataan calon presiden 01 Joko Widodo (Jokowi) yang mengaku hanya takut kepada Allah SWT adalah pernyataan yang sangat baik. Namun, pernyataan itu menurutnya harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Penegasan beliau (Jokowi) tidak takut kecuali Allah SWT, pernyataan ini sesungguhnya pernyataan yang sangat baik dan sangat harus. Tapi harus juga terwujud dan terbukti,” kata Hidayat di Jakarta (inews.id,19/2/2019).

Memang apa yang dikatakan Hidayat Nur Wahid ada benarnya dan harus ditelisik lebih dalam faktanya secara detail. Lalu bagaimana bentuk ketakutan petahana terhadap aturan Allah swt.?

Takut Aturan Allah, Berani Mempertontonkan Kezaliman

Pernyataan “hanya takut kepada Allah” membuka kembali ingatan kita akan kasus Setiyardi Budiono (pemimpin redaksi tabloid Obor Rakyat) telah menjalani hukuman 8 bulan penjara karena membuat tulisan mengenai siapa orang tua Jokowi yang dituduh mencemarkan nama baik (politik.rmol.co, 18/02/2019).

Anehnya biasanya pelapor datang ke persidangan dan sepatutnya menjelaskan ke Majelis Hakim secara terbuka. Apalagi perkara Pasal 310 yang dituduhkan termasuk delik aduan yang ditujukan kepada Setiyardi. Namun hal ini tidak mendapat respon dari petahana dan nasib Setiyardi hanya berakhir di bui tanpa ada kepastian hukum yang jelas. Sungguh tragis proses hukum tidak dijalankan sebagaimana mestinya, sungguh meragukan negeri ini masih bergelar “negara hukum”.

Selama ini jelas bahwa petahana begitu lebih mementingkan kepentingan politik dibanding kepentingan rakyatnya yang nyata-nyata merupakan tanggung jawabnya sebagai penguasa.

Kekuasaan dipandang sebagai alat untuk memuaskan nafsu politiknya, pihak oposisi yang jelas tak sejalan dengan dirinya selalu di “hajar” dengan pukulan telak. Sedangkan jika dari pihak mereka yang membuat kegaduhan seperti tak kunjung mendapatkan proses hukum.

Takut Allah SWT, yang Takut Melanggar Hukum Syara’

Jika ada yang berkata bahwa hanya takut kepada Allah terlebih pemimpin sungguh ini merupakan sesuatu yang baik bukan hanya pemimpin namun kita sebagai Muslim hendaknya takut kepada Allah. Yang ini merupakan salah satu bentuk konsekuensi iman kepada Allah.

Pemimpin yang takut pada Allah Swt adalah yang takut melanggar hukum syara dan takut tidak berlaku adil pada rakyatnya. Sebab pemimpin adalah jabatan yang bisa menghantarkan kepada syurga jika dijalankan dengan penuh amanah. Juga menjadi jembatan menuju neraka apabila abai terhadap tanggung jawabnya.

Sungguh, rasa takut kepada Allah bukanlah hanya sekedar ucapan akan tetapi haruslah sesuai dengan perbuatan. Terlebih jika dia adalah seorang pemimpin suatu negeri yang harus memiliki rasa takut, akan berupaya melaksanakan perintah Allah SWT untuk taat kepada syariat-Nya. Mereka akan selalu terjebak dalam rasa takut jika membuat rakyat sengsara dengan kebijakan yang telah ditetapkankannya. Bahkan mereka akan senantiasa tidak merasa aman karena takutnya dengan adzab Allah SWT.

Sebagaimana dahulu kisah Khalifah Umar Bin Khathab memikul sendiri karung gandum untuk rakyatnya sembari menangis sebab ketakutannya kepada Allah karena membiarkan ada rakyatnya yang kelaparan.

Dalam sejarah, Umar bin Khattab adalah pemimpin yang hidupnya sederhana. Amat sederhana malah untuk seorang Khalifah. Saat tanah Arab menghadapi masa paceklik, Umar pernah memantangkan dirinya untuk makan daging, minyak samin, dan susu. Sebab ia khawatir jika makanan yang ia makan hanya akan mengurangi jatah makanan rakyatnya. Solusinya ia hanya menyantap roti dengan celupan minyak zaitun hingga membuat perutnya panas. Makanan yang ia makan bukannya membuat perut Khalifah menjadi kenyang melainkan sebaliknya.

Jangan sampai ungkapan rasa takut kepada Allah SWT hanya sebatas ucapan yang tidak menunjukkan bukti yang nyata. Sungguh ini adalah kemungkaran yang sangat besar. Janganlah merasa aman seolah sudah berbuat banyak amal, sudah banyak berbuat baik, bahkan merasa tidak punya beban, sehingga sampai merasa Allah tidak akan mungkin mengadzabnya. Sungguh justru ini adalah indikasi tidak ada rasa takut itu kepada Allah SWT. Allah berfirman tentang manusia yang demikian (yang artinya): “Apakah kalian merasa aman dari makar Allah? Tidaklah ada orang yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99).

Takut kepada Allah adalah ciri orang yang bertakwa, dan hal ini juga merupakan bukti keimanan kepada Allah. Maka takut kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang semestinya diperhatikan oleh setiap mukmin. Sebagaimana Allah berfirman “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.” (QS. Al Ma’idah: 44). Dan konsekuensi dari rasa takut kepada Allah SWT adalah taat kepada syari’at Allah SWT, bukan justru mengkriminalisasi syariat Islam seperti telah diperlihatkan penguasa. Ide-ide Islam diserang dari berbagai sisi dengan tuduhan-tuduhan keji. Wallahu a’lam bish shawab.

Nurhayati, S.S.T
(Media Muslimah Kendari)

Back to top button