KRISTOLOGI

Pengaruh Serangan Misionaris terhadap Kaum Muslimin

Mayoritas umat menganggap bahwa Khilafah tidak cocok dengan realitas kehidupan berbangsa saat ini.  Anggapan demikian adalah sesuatu yang wajar saja, sebab umat hari ini memandang segala hal dengan kacamata barat bukan dengan kaca mata Islam.  Adalah hal yang wajar,  sebab mayoritas umat belajar dengan metode dan kurikulum yang dibangun dari pemikiran barat.

Adalah hal yang wajar, sebab mayoritas umat tidak tahu bahwa kurikulum pendidikan yang akhirnya membuat mereka memakai kacamata barat saat menilai sebuah peristiwa, adalah hasil perjuangan panjang para misionaris kafir barat  dan orientalis untuk menjauhkan umat dari Islam dan ajarannya.  Sehingga umat tidak lagi mengenal Islam dengan sempurna, kecuali dengan menggunakan metode barat dalam mengenal Islam, yaitu penuh kebencian dan permusuhan. 

Mayoritas umat tidak paham jika kafir barat telah  membentuk kelompok  kaum misionaris sejak awal abad ke-16 M, yang bekerja untuk melakukan perang pemikiran,  untuk dapat menjauhkan Islam dari benak kaum muslimin, setelah mereka mengambil pelajaran dari kekalahannya di peristiwa perang salib,  bahwa kaum muslimin tidak bisa dihadapi dengan kekuatan fisik dan militer, dan menyadari bahwa sumber kekuatan umat Islam adalah Islam itu sendiri, yaitu pemikiran Islam.

Karenanya mereka berusaha untuk menjauhkan pemikiran Islam dari benak kaum muslimin dengan melakukan perang pemikiran melalui serangan yang dilakukan oleh para misionaris yang menyebarkan pemikiran kafir barat, dan berhasil meruntuhkan daulah Ustmaniyah dengan sifatnya sebagai daulah Islam yang menjadi kekuatan praktis kaum muslimin dalam menegakan hukum syariat.

Mayoritas umat tidak mengetahui bahwa sejak abad ke-16 itu kafir barat telah membentuk kaum misionaris yang bertugas meyusupkan pemikiran-pemikiran barat ke dalam benak kaum muslimin,  dan mereka membentuk markas misionaris pertama di Malta  yang kemudian menyeberang masuk ke Libanon setelah upaya keras mereka untuk memisahkan Libanon dari Suriah di wilayah Syam.

Jadilah Libanon menjadi pintu masuk penjajahan barat secara pemikiran dan politik ke dalam tubuh daulah Utsmaniyah dengan sifatnya sebagai daulah Islam.

Kaum misionaris berhasil menyebarkan api fitnah yang membuat terjadinya bentrok bersenjata antara kaum Druze dan kaum Maronit, dan bentrok bersenjata antara Nasrani dan kaum muslimin.  Hingga bentrok bersenjata menyebar luas hingga ke  Damaskus di Suriah,  yang membuat Daulah Utsmaniyah harus menurunkan militernya untuk memadamkan huru hara dan pemberontakan kaum separatis di wilayah Libanon dan Suriah.  Hal yang akhirnya menjadi jalan masuk bagi kafir Inggris  dan Prancis untuk masuk mengintervensi masalah intenal dalam tubuh Daulah Utsmaniyah. Mereka melakukan internasionalisasi kasus huru-hara di wilayah Libanon dan  Suriah dan berhasil mengintervensi Daulah Utsmaniyah, yang menyebabkan mereka bisa masuk ke dalam tubuh daulah pada 1860 M.

Di sisi lain, kondisi Daulah Utsmaniyah yang sudah mulai lemah secara pemikiran Islam dan mulai banyak penyimpangan dalam penerapan hukum syariat dalam praktik kenegaraan, membuat Daulah Utsmaniyah harus menerima intervensi yang dilakukan oleh Inggris dan Perancis atas dirinya. Ditambah keterlibatan Daulah Utsmaniyah dalam perang dunia satu yang membuat Daulah Utsmaniyah harus tunduk pada negara Inggris dan sekutunya,  akibat kekalahan Jerman yang menjadi sekutu Daulah Utsmaniyah diperang dunia pertama pada 1914-1918.

Keterlibatan Daulah Utsmaniyah dalam perang dunia pertama terjadi akibat jauhnya pemikiran Islam dalam benak Daulah, sehingga  terjadi penyusupan  pemikiran-pemikiaran kafir barat dalam benak daulah yang menyebabkan daulah Utsmaniyah lupa bahwa politik luar negeri daulah adalah dakwah dan jihad untuk menyebarkan Islam. Dan haram hukumnya melibatkan diri dalam peperangan diantara orang-orang kafir yang memperebutkan kekayaan dunia.

Hal yang akhirnya membuat Daulah terseret masuk dalam permainan kafir barat tanpa disadarinya dan menyebabkan kerutuhannya.

Pada 1825 M,  setelah berdiri sebuah gerakan kelompok studi rahasia yang digawangi oleh lima orang pemuda Nasrani yang pernah menuntut ilmu di universitas Protestan di Libanon, dan mampu menarik masuk beberapa anggota masuk didalamnya, mereka mampu menelurkan gerakan nasionalisme Arab (Pan Arabisme) di wilayah Libanon dan Suriah, yang menyebabkan orang-orang keturunan Arab bergerak untuk memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah. Dan menyebabkan Daulah Utsmaniyah melepaskan satu persatu wilayah kekuasaannya,  sebab adanya gerakan nasionalisme yang terjadi dalam tubuh Daulah, sebagai haail dari perang pemikiran yang dilancarkan oleh para misionaris terhadap umat Islam.

Demikianlah,  betapa serangan misionaris mampu mencabik kekuasaan Daulah Utsmaniyah dan meruntuhkan persatuan kaum muslimin,  yang semula bersatu sebab kesamaan akidahnya,  berubah menjadi bersatu berdasarkan nasionalime dan kesukuan. Padahal memisahkan diri dari Daulah Utsmaniyah sebagai Daulah Islam adalah sebuah kesalahan dan keharaman yang sangat besar.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button