IBADAH

Pesantren Ramadhan, Mengasah Sensitivitas Sensor Keimanan

Ramadhan memfasilitasi umat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus mengasah sinsitivitas sensor keimanan dengan berbagai Amaliyah yang Terpadu.

  1. Amaliyah Ibadah
    Seluruh amaliyah ibadah ada pada bulan Ramadhan yang berbasis rukun Islam kecuali haji dan umrah untuk memfasilitasi peningktan keimanan dan ketakwaan. Mulai dari shaum itu sendiri, tadarus Qur’an, qiyamul lail, iktikaf, zakat, sedekah, dsb. Berbeda pada bulan lain, ganjarannya dilipat-gandakan, apalagi saat Lailatul Qadar nilainya setara dengan 1000 bulan (097.002).
  2. Amaliyah Ta’lim
    Meningkatkan keilmuan khususnya peningkatan pemahaman sumber-sumber ajaran Islam terutama dari Qur’an dan Sunnah. Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (059.011).
  3. Interaksi Ukhuwah
    Shalat berjamaah, berbuka puasa (ifthar) bersama, sahur bersama sepuluh hari terakhir dalam program i’tikaf, dsb. Merupakan wahana menjalin silaturahim dan merajut ukhuwah yang sangat inten (049.010).
  4. Interaksi Da’wah
    Pada bulan Ramadhan kesiapan dan keterbukaan hati seseorang memungkinkan untuk menerima siraman rohani dan pencerahan spritual. Ini merupakan peluang untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat melalui berbagai kegiatan dakwah.

Shalat dan Qur’an

Mendirikan Shalat sebagai rukun Islam dan tilawatil Qur’an sebagai sumber pertama ajaran Islam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Secara khusus tidak sah shalat jika tidak membaca Ummul Qur’an. Keterkaitan shalat dengan Qur’an ini bermakna, jangan merasa cukup hanya dengan shalat Fardhu fima waktu saja, di samping melengkapinya dengan shalat sunnat utama dan rawatib, juga disempurnakan dengan tilawatil Qur’an, agar shalat meninggalkan jejak sujud (048.029) sekaligus menjadi perisai diri dari perbuatan fahsya dan munkar (029.045).

Keterkaitan Shalat dan Qur’an antara lain disebut dalam surat Fathir [35] ayat 29. Dan dalam surat al-Ankabut disebutkan, “Bacalah Qur’an yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), dan dirikanlah Shalat.” (QS XXI, al-Ankabut [29]. 45).

Sementara itu, regulasi pencerahan keimanan perpekan diatur dalam ketentuan shalat Jum’at, terutama kewajiban mendengarkan Khutbah yang disampaikan khatib, yang memuat wasiat takwa dengan ayat-ayat Qur’ani yang diperintahkan Allah (003.102). Sehingga keimanan umat yang mengalami kelesuan dan kesuraman dalam pekan itu tercerahkan lagi melalui khotbah. Spirit spritualitas diperbaharui dan disegarkan kembali.

Shaum dan Qur’an

Selanjutnya, shaum Ramadhan pun sebagai Rukun Islam, erat kaitannya dengan Qur’an. Keterkaitan ini disebut dalam surat al-Baqarah yang terkenal dengan Ayat-ayat Shaum. “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil.” (QS II, al-Baqarah [2]. 185).

Ibnu Katsir menyebut korelasi ini dalam tafsirnya, “Allah memilih Ramadhan sebagai bulan yang dipilih untuk diturunkan kitab suci-Nya yang Agung. Bahkan seluruh kitab-kitab samawi yang lain juga diturunkan pada Ramadhan. “Shahifah Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari (malam) keenam Ramadhan. Injil diturunkan pada hari (malam) ketiga Ramadhan. Zabur diturunkan pada malam kedelapan belas Ramadhan. Sedangkan Qur’an diturunkan pada malam keduapuluh empat Ramadhan”. (H.R. Imam Ahmad).

Disamping ayat di atas, korelasi shaum dan Qur’an juga disebut dalam hadits Nabi Saw, “Shaum dan Qur’an keduanya akan memberi syafaat pada hamba Allah pada Hari Kiamat. Shaum berkata, ‘Ya Allah! Aku menghalanginya dari makan, minum dan syahwat pada siang hari, maka berilah Syafaat untuknya karena aku’. Al-Qur’an pun berkata, ‘Ya Rabbi! Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari (karena membacaku), maka berilah ia Syafaat karena aku’.” (H.R. Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar). Dengan demikian, Shaum dan Qur’an keduanya menjadi wasilah untuk mendapat syafaat Allah SWT.

Bulan Ramadhan disebut juga sebagai syahrul Qur’an. Dimana interaksi umat Islam pada bulan itu terhadap Qur’an sangat intensif. Ia dibaca dan dikaji oleh banyak orang mulai anak TPA hingga mahasiswa dan profesor di perguruan tinggi, mulai anak balita hingga orangtua lansia, di berbagai belahan dunia. Ada yang khatam tiap hari, ada yang sepekan sekali, ada yang khatam sepuluh hari sekali. Minimal sekali khatam selama bulan Ramadhan. Setiap orang merasa rugi jika shaum Ramadhan tidak dilengkapi dengan tadarus Qur’an.

Mengasah Sinsitivitas Sensor Keimanan

Seperti pernah diungkapkan bahwa rukun iman yang enam itu, yakni Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Akhirat dan Takdir bagaikan matarantai sensor keimanan yang melingkar di lehar kita. Sensor keimanan ini untuk mengendalikan urat nadi di leher, karena setan merasuk ke dalam tubuh manusia melalui pembuluh darah. Dan mengendalikan tenggorokan sebagai saluran pernafasan agar senantiasa zikir kepada Allah. Serta mengendalikan kerongkongan agar selektif dalam perkara makanan dan minuman.

Dan ingat, Allah lebih dekat dari pada Urat Leher manusia (050.016). Meskipun sensitivitasnya berbeda untuk setiap orang, tetapi pada dasarnya ia menuntun dan mengendalikan prosesi kehidupan terutama bagi mereka yang memiliki Takhta, Harta dan Ilmu agar tidak lepas kendali seperti Fir’aun, Qarun dan Haman yang jejaknya masih membekas hingga zaman kekinian.

Momentum Ramadhan memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada umat untuk mengasah sensitivitas sensor keimanan dengan berbagai amaliyah Ramadhan yang terpadu. Yang utama adalah untuk meningkatkan standar mutu kehidupan yang berbasis Qur’an dan Sunnah, seperti yang diungkapkan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Qur’an dan yang mengajarkannya”. Dalam pengertian, tidak hanya mempelajari dan mengajarkan tekstual, yang tersurat saja agar melek huruf, tetapi juga dalam hal kontekstual yakni mengajarkan nilai-nilai Qur’ani, agar melek makna.

Selanjutnya ditindak-lanjuti dengan takhallaqu bi akhlaqil Qur’an, berakhlak dengan akhlak Qur’ani meneladani Nabi Saw Sang Qur’an Berjalan (033.021) dan juga meneladani sahabat utama sebagai generasi Qur’ani agar melek peradaban. Orang yang berinteraksi dengan Qur’an akan meningkatkan tiga kecerdasan sekaligus, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual. Allah SWT menyatakan dalam Qur’an. “Sungguh, telah Kami turunkan kepada kamu (Muhammad) sebuah kitab (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Apakah kamu tidak mengerti?” (QS XVII, al-Anbiya [21]. 10).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Abbas menafsirkan “dzikrukum” menjadi “sebab-sebab kemuliaan bagimu”. Sementara itu Nabi Saw menyatakan dalam sebuah riwayat, menyatakan. “Sesungguhnya, Allah Ta’ala mengangkat derajat suatu kaum dengan Qur’an dan merendahkan kaum yang lainnya juga dengan Qur’an.” (H.R. Muslim dari Umar bin Khattab RA). Billahi Fi Sabilil Haq!

Shofyan Achmad

Artikel Terkait

Back to top button