#PSBB JakartaSURAT PEMBACA

Rakyat Bingung, Masjid Ditutup Kenapa Mal Dibuka?

Sudah hampir tiga bulan ini rakyat Indonesia yang mayoritas muslim berada di dalam rumah saja. Keluar rumah hanya untuk keperluan yang penting. Bahkan segala-gala pekerjaan juga sekolah dipindahkan ke rumah. Hal tersebut dilakukan dalam rangka physical distancing, sesuai anjuran kesehatan pencegahan Covid-19.

Rasanya sedih luar biasa, terutama bagi para lelaki muslim. Ketika aktivitas shalat berjama’ah dan shalat Jumat di masjid pun ditiadakan. Bahkan memasuki bulan Ramadan, kesunyian terasa di kalbu ketika melalui malam-malam bulan Ramadan tanpa shalat tarawih dan idul fitri berjamaah di masjid.

Rasa sedih itu bercampur kesal ketika menyaksikan penuh sesaknya manusia di bandara, mall, dan pasar. Nalar serasa tak mampu menerima ketidakadilan ini. Bergelayut pertanyaan di benak: mengapa masjid ditutup tapi mall dibuka?

Suara hati umat yang rindu masjid pun dirasakan oleh para ulama. Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Din Syamsuddin membuat pernyataan tertulis untuk pemerintah juga umat muslim. Dilansir oleh suaraislam.id (19/05/2020), beliau meminta pemerintah konsekuen terhadap aturan PSBB yang dibuatnya sendiri. Yaitu dengan tidak mengizinkan kegiatan yang membuat banyak orang berkerumun di tempat umum.

“Peraturan tersebut perlu dilaksanakan secara berkeadilan, jangan melarang umat Islam bershalat jamaah di masjid tapi mengizinkan orang banyak menumpuk di bandara dan tempat keramaian lain,” ujar Din Syamsuddin (suaraislam.id, 19/05/2020).

Pemerintah melalui Menkopolhukam, Mahfud MD, menyampaikan hasil keputusan rapat kabinet untuk melarang pelaksanaan salat Idulfitri 1441 Hijriah secara berjamaah di masjid atau lapangan (cnnindonesia.com, 19/05/2020).

Sementara, sejak Menhub mengumumkan dibukanya moda transportasi sejak 7 Mei lalu, terjadi kerumunan penumpang di Terminal 2 bandara Soekarno-Hatta (bebas.kompas.id, 14/05/2020). Tampak pula kerumunan pengunjung gerai McD Sarinah pada 11 Mei lalu. Dan menjelang lebaran, pasar, mall, dan pelabuhan padat. Lalu, mana aturan PSBB? Hanya garang pada masjid, tapi tidak pada yang lain.

Untuk menjawabnya, perlu kiranya kita mengetahui mindset yang dimiliki pemerintah dalam mengurus negara. Dengan melihat fakta-fakta yang ada. Ketika rakyat minta karantina, malah diberi PSBB yang tak menjamin kebutuhan pokok. Di dalam negeri perlu masker dan APD, malah di ekspor ke negara lain.

Gelombang PHK dijawab dengan kartu Prakerja. Kartu sakti yang merupakan janji kampanye sang presiden. Isinya hanya pelatihan yang sifatnya terlalu dasar dan terkesan “yang penting ada”. Sementara dana segar yang diharapkan justru belum cair hingga sekarang.

Utang jatuh tempo BPJS justru dibebankan ke rakyat dengan menaikkan iuran BPJS. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, itulah nasib rakyat sekarang. Mengapa tak ambil dana pembangunan ibukota baru?

Ketika kurva positif Covid terus meningkat, pemerintah justru membuka wacana “the new normal”, hidup berdamai dengan corona. Menjalani hidup baru dengan protokol kesehatan dan beraktivitas normal kembali. Tujuannya agar produktif. Produktif artinya melakukan usaha ekonomi untuk menghasilkan uang.

Dan masih banyak lagi fakta yang menunjukkan mindset kapitalisme yang dipakai penguasa negeri ini. Berhitung untung rugi dalam melayani rakyat. Berlepas tangan dalam menyelesaikan persoalan kehidupan bangsa.

Berangkat dari mindset kapitalisme penguasa ini, maka kita menjadi paham, mengapa masjid dilarang sedangkan pasar, mall, dan bandara di buka? Karena dari masjid tak ada aktifitas ekonomi yang menghasilkan materi atau uang. Masjid melahirkan nilai ruhiyah bagi umat muslim. Sehingga bisa dengan gampang ditutup.

Sedangkan pasar, mall, dan bandara, ada aktifitas ekonomi di sana. Ada peredaran uang. Ada pajak yang masuk ke negara. Jadi, biarkan dibuka. Soal nanti bisa social distancing apa tidak, tunggu saja di lapangan. Apakah bakalan jadi klaster baru penyebaran virus, itupun urusan nanti.

Jika sudah demikian watak penguasa, penting untuk kita mengambil sikap.

Pertama, tetap mengikuti fatwa MUI dan para ahli kesehatan, untuk social distancing. Dengan melaksanakan sholat berjamaah di rumah saja. Menahan diri untuk mudik. Karena virus bergerak bersama pergerakan orang.

Kedua, tingkatkan kepekaan sosial untuk saling membantu saudara yang kesulitan. Sembari berdakwah dan memahamkan tentang akar masalah berlarut-larutnya wabah ini. Yaitu karena sistem kapitalisme yang diadopsi negeri ini sehingga penguasa negeri lebih mementingkan ekonomi dibandingkan kesehatan rakyat.

Ketiga, berdakwah lewat lisan dan tulisan kepada penguasa agar mereka melepaskan sistem kapitalisme ini. Sistem yang membuat mereka melalaikan kewajiban mengurusi rakyatnya.

Keempat, bersabar dan berdoa. Semoga Allah mengangkat wabah ini. Dan semoga penguasa negeri ini terbuka pemikirannya untuk mengubah mindset kapitalisme menjadi Islam kaffah. Agar terealisasi janji Allah dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 96. Wallahu a’lam []

Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
Praktisi Pendidikan

Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close