#Ramadhan 1442 HMUHASABAH

Ramadan, Optimalkan Perjuangan Meraih Takwa

Ramadan 1442 Hijriah telah tiba. Bersyukurlah kita bertemu Ramadan yang dirindukan. Penuh kebahagiaan dan keridaan sebagai refleksi keimanan. Sebab Ramadan merupakan bulan penuh ampunan dan keberkahan. Bulan istimewa yang penuh berbagai keutamaan dan kemuliaan. Maka, selayaknya kita mengoptimalkan ibadah dan perjuangan dakwah kita di bulan Ramadan.

Ramadan adalah bulan penuh keutamaan. Di antara keutamaan Ramadan adalah pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan dibelenggu, malam Nuzulul Qur’an, malam Lailatul Qadar, bulan penghapusan dosa, dan setiap kebaikan dilipatgandkan.

Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh telah datang bulan Ramadan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu, terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatulqadar). Siapa saja yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung). (HR Ahmad dan an-Nasa’i).

Maka, semestinya kita berusaha sungguh-sungguh untuk mengoptimalkan ibadah kita untuk meraih keutamaan-keutamaan di bulan Ramadan, sehingga predikat takwa dapat kita sandang. Sebagaimana firman Allah SWT., “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 183).

Predikat takwa merupakan derajat yang mulia bagi seorang muslim. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT. menyebut surga sebagai Darul Muttaqin. Sebagaimana firman Allah SWT., “Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (TQS. An-Nahl [16]: 30).

Alhasil, seorang muslim yang mampu menyelesaikan berbagai amalan dan ibadah di bulan Ramadan, akan berpeluang besar mendapatkan predikat takwa sebagai derajat paling mulia di sisi Allah SWT.

Namun perlu diingat, ibadah dalam Islam tidak hanya memiliki dimensi spiritual secara vertikal, tetapi juga horizontal. Maksudnya, ibadah puasa Ramadan tidak hanya berdampak untuk meningkatkan kualitas ketakwaan individu, tetapi juga memiliki peran meningkatkan ketakwaan masyarakat dan negara. Maka, penting menghidupkan aktivitas amar makruf nahi mungkar di bulan Ramadan, untuk menegakkan isi Al-Qur’an. Menghidupkan perjuangan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam.

Sungguh Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik dalam upaya meningkatkan ketaatan di bulan Ramadan. Beliau Saw. tidak hanya berpuasa, tetapi juga menghidupkan malam-malam Ramadan dengan salat sunah dan tilawah Al-Qur’an; memperbanyak doa dan sedekah; serta beritikaf.

Berpuasa Ramadan juga tidak menyurutkan ghirah Rasulullah Saw. dan para sahabat untuk berdakwah dan menjemput kemenangan di medan perang. Banyak peristiwa besar yang Rasulullah Saw dan para sahabat ukir di bulan suci ini. Dua di antaranya merupakan momen krusial dalam perjuangan dakwah Rasulullah Saw., yakni Perang Badar Al-Kubra dan Fathul Makkah. Tak ayal, berbagai peristiwa penting di masa Rasulullah Saw. tersebut, semestinya menjadi ibrah dan dorongan untuk menjaga spirit perjuangan umat Islam, di tengah berbagai kezaliman yang kian menggigit.

Sungguh dicampakkannya hukum Allah SWT. membuat kondisi negeri dicengkeram berbagai sistem rusak, yakni sekularisme, kapitalisme, dan derivatnya. Akibatnya, fitrah manusia menjadi rusak sebab berbagai problematika yang menimpa umat. Maraknya miras, pornografi, dan pornoaksi sukses menjerumuskan generasi bangsa ini ke dalam perilaku amoral. Maraknya kriminalitas, pembunuhan, pemerkosaan, seks bebas, LGBTQ, perzinahan, pelacuran, hingga tawuran adalah buah pahit dari kebijakan tuan penguasa yang melegalkan miras dan mendukung maksiat. Entah sudah berapa banyak nyawa rakyat yang melayang, akibat barang haram ini.

Sementara itu, kezaliman terhadap Islam dan umatnya makin pekat. Kriminalisasi ulama dan para pengemban dakwah gencar dilakukan. Cadar, jilbab, dan celana cingkrang distigma negatif. Syariat jihad dan khilafah dituduh sebagai ajaran ektremis, radikalis, dan teroris. Nyawa seorang muslim pun tak lagi berharga di hadapan tuan-tuan penguasa. Tragedi KM 50 adalah bukti nyata, murahnya nyawa seorang muslim.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button