Sejarah Panjang Kebohongan: Korban Jiwa Israel di Bawah Penutupan Informasi

Gaza: Rumah Sakit Membuka Celah dalam Pengungkapan Informasi Militer
Dalam perang di Gaza, persoalan korban luka menjadi ujian nyata bagi transparansi militer Israel. Pada 10 Desember 2023, militer mengumumkan jumlah 1.593 orang terluka, termasuk 255 orang dalam kondisi serius. Menurut laporan investigasi surat kabar Haaretz, pengumuman tersebut muncul setelah sebelumnya terjadi penutupan informasi dan penolakan untuk memublikasikan data.
Angka-angka yang dikumpulkan surat kabar tersebut dari rumah sakit menunjukkan perbedaan besar dibandingkan dengan jumlah yang diumumkan militer. Namun, laporan itu juga menyebutkan kemungkinan terjadinya penghitungan ganda karena seorang korban dipindahkan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, atau karena sejumlah kasus perawatan yang dicatat tidak berkaitan langsung dengan pertempuran.
Terlepas dari catatan tersebut, kesenjangan angkanya dinilai terlalu besar untuk dibiarkan tanpa penjelasan.
Pada hari berikutnya, laporan BBC yang merujuk pada Haaretz menyebutkan bahwa sejumlah rumah sakit Israel menolak permintaan juru bicara militer agar mereka tidak memublikasikan informasi mengenai jumlah personel militer yang terluka.
Dalam hal ini, persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan definisi statistik, melainkan upaya terdokumentasi untuk mengendalikan sumber informasi yang relatif independen.
Militer yang berwenang mengeluarkan pernyataan resmi ternyata juga berupaya membatasi lembaga lain yang dapat menguji kebenaran pernyataan tersebut. Rangkaian peristiwa ini memberikan dasar nyata untuk mempertanyakan transparansi pengungkapan informasi. Kasus ini juga menegaskan bahwa dampak perang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan jumlah korban tewas, sementara korban luka, disabilitas, dan kebutuhan perawatan jangka panjang merupakan unsur penting dalam menilai akibat perang.
Sensor Berdasarkan Angka: Penutupan Informasi sebagai Praktik yang Dapat Diukur
Data sensor militer menunjukkan luasnya pengendalian informasi selama perang. Pada 2023, sensor melarang publikasi 613 materi secara keseluruhan dan menghapus sebagian isi dari 2.703 materi lainnya. Angka tersebut berdasarkan data yang dibahas oleh organisasi Index on Censorship. Angka-angka itu mencakup materi yang berada di bawah pengawasan sensor secara umum, bukan khusus berita mengenai korban tewas dan luka-luka.
Pada 2024, jumlah materi yang dilarang sepenuhnya meningkat menjadi 1.635, sedangkan intervensi parsial mencapai 6.265 materi. Data tersebut dilaporkan oleh majalah +972, yang memperolehnya melalui kerja sama dengan Gerakan Kebebasan Informasi.
Majalah itu menjelaskan bahwa media dilarang memperlihatkan bagian-bagian yang telah diintervensi oleh sensor. Namun, data yang tersedia tidak merinci alasan penghapusan pada setiap kasus.
Sementara itu, data 2025 yang diterbitkan pada Juni 2026 mencatat 753 materi dilarang sepenuhnya dan 4.974 materi lainnya diubah. Dengan demikian, terdapat 5.727 intervensi atau rata-rata lebih dari 15 intervensi setiap hari.
Meskipun jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan puncaknya pada 2024, tahun 2025 tetap menjadi tahun dengan jumlah intervensi tertinggi kedua sejak majalah tersebut mulai melacak data itu 15 tahun sebelumnya.
Angka-angka ini memungkinkan kesimpulan bahwa penutupan informasi berlangsung secara luas dan terorganisasi. Namun, angka tersebut tidak mengungkapkan isi setiap materi yang ditutup.
Persoalan analitis yang lebih mendalam ialah bahwa pembaca dapat melihat sebuah berita yang tampak utuh tanpa mengetahui bahwa sebagian isinya telah dihapus. Akibatnya, pembaca bisa menganggap narasi yang telah dipilih dan disunting itu sebagai keseluruhan informasi yang tersedia.
Oleh sebab itu, pemeriksaan terhadap proses dan ketentuan yang menentukan bagaimana sebuah berita diproduksi sama pentingnya dengan pemeriksaan terhadap isi berita itu sendiri.
Dari Gaza ke Iran: Mengendalikan Gambaran Kerusakan
Pembatasan juga diberlakukan terhadap pengambilan gambar dampak serangan Iran selama konfrontasi pada Juni 2025. Surat kabar Prancis Le Monde melaporkan bahwa aturan yang berlaku mewajibkan jurnalis memperoleh persetujuan tertulis terlebih dahulu sebelum menyiarkan secara langsung ataupun merekam laporan dari wilayah pertempuran dan lokasi jatuhnya rudal. Ketentuan tersebut juga mencakup perincian mengenai lokasi dan gambaran tempat kejadian.
Kasus ini memperlihatkan bahwa pengelolaan informasi mengenai kerugian tidak hanya mencakup jumlah korban, tetapi juga bangunan, lokasi, dan kemampuan militer.
Dari sudut pandang analitis, pengendalian terhadap penampakan kerusakan dapat memengaruhi penilaian masyarakat mengenai efektivitas sistem pertahanan dan biaya yang harus ditanggung dalam suatu konfrontasi.
Narasi Palestina: Mematahkan Monopoli Informasi
Di sisi lain, tuduhan bahwa pihak pendudukan menyembunyikan kerugiannya menjadi bagian dari pernyataan faksi-faksi perlawanan selama perang.
Pada November 2023, menjelang gencatan senjata pertama, juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Ubaida, menyatakan bahwa pihak pendudukan menyembunyikan kerugiannya dalam berbagai pertempuran.
Narasi Palestina memiliki bobot analitis ketika mendorong pengujian terhadap pernyataan Israel dengan membandingkannya dengan bukti visual, catatan, dan kesaksian. Dengan demikian, pernyataan resmi Israel tidak langsung diterima sebagai kebenaran final sebelum diperiksa.
Karena itu, pertanggungjawaban yang dilakukan pihak Palestina terhadap angka-angka Israel perlu berlandaskan pengumpulan bukti serta pembedaan antara informasi yang telah dipastikan dan informasi yang masih berupa dugaan.
Catatan mengenai sensor dan upaya membungkam rumah sakit sudah cukup untuk menggugurkan anggapan bahwa pengungkapan informasi berlangsung dengan transparansi penuh. Untuk membuktikan hal tersebut, tidak diperlukan angka-angka yang belum terverifikasi, karena angka yang tidak terbukti justru dapat melemahkan argumen, bukan memperkuatnya.






