PARENTING

Sekularisme Lahirkan Generasi Bermental Sakit

Kasus NF (15), remaja pembunuh balita masih menyita perhatian publik. NF menyerahkan diri ke polisi, usai mengakui membunuh APA (5), balita yang biasa bermain dengannya. Mirisnya, NF mengaku tidak merasa menyesal bahkan merasa puas setelah membunuh balita APA.

Menurut keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, dari pemeriksaan yang telah dilakukan, NF mengaku membunuh karena hasrat yang muncul seketika. NF beberapa kali juga merasakan hasrat untuk membunuh yang masih bisa ditahan.

Kemudian pada Kamis (5/3) lalu, NF tidak bisa menahan sehingga membunuh temannya. Yusri menambahkan NF juga kerap bermain bermain dengan binatang dan diperlakukan dengan kasar dan sadis. (cnnindonesia.com, 7/3/2020).

Kasus yang terjadi di Sawah Besar, Jakarta Pusat ini, hingga hari ini masih diusut pihak berwajib. Dari keterangan Kapolsek Sawah Besar, Kompol Eliantoro mengatakan NF melakukan pembunuhan tersebut karena terinspirasi dari film-film horror yang dilihatnya di Youtube. (merdeka.com, 8/3/2020).

Generasi Bermental Sakit, Apa Sebabnya?

Era digital memudahkan anak mengakses media tanpa filter. Tidak heran jika banyak generasi yang mengonsumsi tontonan yang meracuni akal dan jiwa mereka. Menjamurnya berbagai komunitas pecinta anime dan film dari berbagai genre. Memunculkan generasi wibu yang menjadikan tontonan menjadi tuntunan.

Padahal tidak hanya narkoba dan miras yang menjadi candu. Anime dan film pun ternyata mampu membuat penikmatnya menjadi ketagihan dan bertindak emosional.

Laman Livestrong menulis, film horor biasanya memberikan sensasi ketagihan. Laman tersebut juga menyebutkan, jika anak-anak suka menonton film horor, maka bisa menghasilkan efek jangka panjang untuk kesehatan mentalnya.

Senada dengan Livestrong, laman WebMD menulis, film-film penyiksaan berpotensi menurunkan sensitivitas terhadap kekerasan di kehidupan nyata.

Film horor juga memainkan peran penting dalam pengembangan pikiran negatif anak-anak, di mana anak-anak dapat menjelajahi naluri, impuls, dan ketakutannya tanpa implikasi di kehidupan nyata. Proses ini disebut simbol katarsis.

Tidak heran muncul beragam ekspresi untuk melampiaskan emosi pasca menonton film horor. Salah satunya hasrat membunuh yang dialami oleh NF.

Selain dampak negatif yang ditimbulkan dari film horor. Astrid WEN, psikolog anak dan keluarga menyebut, ada juga beberapa faktor yang menyebabkan anak dan remaja dapat terpengaruh dari tontonan film horor dan kriminal.

Faktor itu di antaranya, latar belakang anak/remaja, faktor yang bersifat genetik dan lingkungan. Astrid menjelaskan, faktor latar belakang, misalnya apakah orang tersebut memiliki riwayat mengalami kekerasan atau penolakan dalam hidupnya.

Sementara, untuk faktor genetik merupakan faktor internal atau sifat bawaan dari keluarganya. Misalnya, ia memiliki intensi untuk menyakiti orang lain, tidak memiliki empati terhadap makhluk lain, dan sebagainya. Adapun, faktor lingkungan artinya apakah lingkungan tempat ia tinggal kerap melakukan kekerasan terhadap pelaku atau memperlihatkan kekerasan. (kompas.com, 8/5/2020).

Berbagai dampak negatif dan faktor di atas bisa jadi salah satunya, menjadi penyebab kasus pembunuhan tragis nan sadis yang dilakukan NF. Dan tidak menutup kemungkinan, kasus yang sama akan muncul di masa datang, selama faktor pemicunya masih ada. Mengingat berbagai faktor tersebut muncul dari akar yang sama, yaitu sistem sekuler-liberal.

1 2 3Laman berikutnya
Tags

Artikel Terkait

BACA JUGA
Close
Back to top button
Close
Close