SURAT PEMBACA

Shame On You, India!

Di balik indahnya Bollywood, tersimpan buruk muka kesadisannya. Kerusuhan dan bentrokan umat beragama menyebabkan korban jiwa.

Bentrokan yang terjadi sejak Ahad (23/2) hingga Rabu (26/2) mengakibatkan 20 orang meninggal. Lebih dari 200 orang dirawat di rumah sakit akibat cedera luka bakar, luka tembak, pemukulan, dan pelemparan batu. Situasi di India mencekam. Masjid dihancurkan dan dibakar. Rumah-rumah muslim di India dijarah. Bahkan mereka harus berlarian keluar rumah demi menyelamatkan diri. Kekerasan itu pun meluas ke wilayah barat laut Delhi.

Sebagaimana yang diwartakan Republika.co.id, 26/2/2020, Kekerasan yang terjadi di Delhi adalah yang terburuk sejak Perdana Menteri Narendra Modi mengeluarkan CAA. Undang-undang tersebut memberikan kewarganegaraan kepada pengungsi dari semua agama di Asia Selatan, kecuali Muslim. Undang-undang ini kemudian memicu reaksi nasional. CAA menimbulkan kekhawatiran karena dinilai diskriminatif terhadap Muslim dan merusak fondasi sekuler India dengan menjadikan agama sebagai dasar kewarganegaraan. Aksi protes yang menolak CAA terus berlangsung di sejumlah wilayah di India sejak tiga bulan lalu.

Jika Anda ingin melihat bentuk nyata rasisme dan radikalisme yang sesungguhnya, lihatlah India. Mereka telah mempraktikkannya hari ini. Puncak kebenciannya terhadap Islam secara telanjang ditunjukkan di hadapan dunia. Di bawah kepemimpinan Narendra Modi kebengisan India makin kentara. Bahkan kekerasan di Delhi dipicu oleh hasutan pimpinan Partai Bharatiya Janata (BJP), Kapil Mishra yang mengatakan kepada gerombolan Hindu untuk menyingkirkan umat muslim yang memblokir jalan di Delhi. Saat itu umat muslim sedang melakukan aksi protes terhadap CAA. Terjadilah baku hantam yang tak terhindarkan.

CAA, Upaya Menyingkirkan Umat Islam dari Tanah Hindustan. Citizenship (Amendment) Act 2019 atau dikenal dengan istilah Undang-Undang Kewarganegaraan India yang baru disahkan oleh Parlemen India untuk mengamandemen UU Kewarganegaraan lama tahun 1955. Didalam UU Kewarganegaraan baru disebutkan memberikan jalan menjadi warga negara India kepada imigran hindu minoritas dari Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan. Ketentuan dalam UU ini tidak berlaku bagi minoritas muslim yang hidup di India. Padahal UU Kewarganegaraan tahun 1955 sebelum amandemen, tidak menjadikan agama sebagai kriteria kelayakan untuk menjadi warga negara. Hal inilah yang menjadi pemicu aksi kekerasan di Delhi. Pemerintah India mencoba menyingkirkan muslim minoritas dari tanah Hindustan dengan pemberlakuan UU Kewarganegaraan baru.

Sebelumnya UU ini sudah mendapat kritikan dari Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional serta Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Namun India tak bergeming, mereka tetap mengesahkan UU ini sebagaimana janji kampanye partai pemenang pemilu, partai BJP yang memang dikenal anti Islam.

Pemerintah India sepertinya lupa sejarah. Keterikatan Islam dan India tak bisa diabaikan begitu saja. Islam memang bukan mayoritas di negeri Hindustan. Namun, kehadiran Islam di negeri itu sudah berlangsung sejak ribuan tahun silam. Islam merupakan agama terbesar kedua setelah hindu. Seperti dilansir republika.co.id, adalah Malik Ibnu Dinar dan 20 sahabat Rasulullah SAW yang kali pertama menyebarkan ajaran Islam di negeri itu. Saat itu, Malik dan sahabatnya menginjakkan kaki di Kodungallur, Kerala.

Sejumlah catatan sejarah menyebut, masuknya Islam di India dibawa oleh para pedagang Arab. Selain kontribusi para pedagang Muslim dari Arab, penyebaran Islam di India juga ditopang oleh ekspansi yang dilakukan kaum Muslimin pada masa kekhalifahan Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus. Bukti nyata dari pesatnya perkembangan Islam di New Delhi adalah kehadiran Taj Mahal, yang dibangun pada 1632-1654. Taj Mahal ini adalah lambang kejayaan Kesultanan Mughal. Meski beragama Islam, Kesultanan Mughal tetap bertoleransi terhadap berbagai agama dan keyakinan lain. Bahkan Taj Mahal menjadi ikon unik India yang termasuk dalam tujuh keajabain dunia. Kacang lupa kulitnya. Negeri mayoritas hindu seakan lupa dengan kontribusi Islam terhadap India di masa lalu.

Nasib muslim minoritas di negeri kafir begitu miris. Muslim India terancam menjadi warga ilegal. Sama seperti kaum muslim di negeri lainnya. Uyghur yang dikarantina rezim komunis Cina, Rohingya yang terlunta karena terusir dari tanahnya, Palestina yang terjajah di tanah kelahirannya, dan Kashmir yang terisolasi karena perebutan wilayah. Sungguh membuat kita terusik. Kaum muslim dunia tak memiliki perisai yang mampu melindungi harta, kehormatan, dan nyawa mereka.

Sementara di satu sisi, dunia sibuk memainkan narasi Islam adalah agama radikal. Padahal berulang kali fakta membuktikan kaum muslimlah korban radikalisme sesungguhnya. Islam dibilang agama ekstrim. Padahal korban ekstrimis agama sejatinya adalah Islam sendiri. Bagi dunia, terhadap Islam minoritas boleh sadis, sementara terhadap Islam mayoritas seperti Indonesia, bersikaplah manis. Namun di balik kemanisannya, ada racun yang sengaja mereka tebarkan agar negeri mayoritas muslim itu tetap moderat dan mengikuti koridor Barat. Atas nama perang melawan radikalisme, mereka membenarkan kekerasan kepada umat Islam. Begitulah gambaran dunia hari ini kepada Islam.

Chusnatul Jannah
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Artikel Terkait

Back to top button