SURAT PEMBACA

Si ‘Melon’ tak Lagi Harga Diskon

Rakyat kembali menerima kado pahit. Setelah kenaikan berbagai tarif di awal tahun 2020, pertengahan tahun ini juga dihiasi dengan kenaikan tabung gas elpiji 3 kg. Pemerintah melalui Kementerian ESDM berencana mencabut subsidi tabung gas elpiji 3 kg pada pertengahan tahun ini.

Konsekuensinya, harga gas elpiji 3 Kg akan mengalami kenaikan. Dengan dicabutnya subsidi harga tabung gas elpiji maka diperkirakan harganya mencapai Rp 35.000 per tabung. Hal itu dihitung berdasarkan harga tabung gas elpiji 12 kg sebesar Rp139 ribu. Artinya, harga jual per tabung mencapai Rp11.583.

Tabung gas elpiji 3 kg pertama kali diperkenalkan pada masyarakat pada tahun 2007. Untuk mengurangi penggunaan minyak tanah, pemerintah saat itu mengganti ketergantungan masyarakat ke minyak tanah agar beralih ke tabung gas yang dinilai merakyat. Harga tabung gas elpiji 3 kg yang telah disubsidi pemerintah saat itu sebesar Rp 18 ribu per tabung. Harga yang cukup ramah di kantong bagi masyarakat bawah. Pemerintah menganggap kebijakan ini bukan mencabut subsidi hanya mengganti skema penerima. Karena menurut pemerintah, subsidi tabung gas elpiji 3 kg selama ini tidak tepat sasaran. Sejauh ini subsidi yang diberikan pemerintah lebih mengena kepada komoditas saja. Hal ini menyebabkan siapa pun bisa membeli tabung gas elpiji 3 kg tanpa terkecuali.

Alasan lain yang dikemukakan pemerintah adalah dicabutnya subsidi akan mengurangi beban APBN negara. Dengan hemat subsidi, akan mengurangi pembelanjaan negara sebesar 10-15 %. Tahun ini subsidi tabung gas elpiji dialokasikan sebesar Rp50,6 triliun.

Dari fakta ini, rakyat sepertinya harus tersenyum getir lagi. Menahan perih berbagai kenaikan yang membebani. Entah tarif listrik, iuran BPJS, tarif tol, parkir hingga elpiji naik lagi dan mungkin tak akan turun harga. Tidakkah pemerintah pernah berpikir untuk sedikit peduli? Pencabutan subsidi tabung elpiji 3 kg akan berdampak pada nilai penghasilan rakyat bawah. Tidak sedikit dari mereka yang justru mengandalkan penghidupannya dari tabung gas elpiji 3 kg. Semisal pedagang makanan keliling, penjual warteg, depot makanan pinggir jalan atau penjual makanan gerobak yang mendorong jualannya kesana kemari demi mengais rezeki. Semua itu akan berdampak pada makanan yang mereka jual. Tabung gas naik, siap-siap harga jual makanan juga bakal naik. Tak terkecuali pengusaha makanan kelas menengah ke atas juga pasti akan terkena dampaknya.

Kalaulah pencabutan subsidi itu karena tak tepat sasaran, berapa persen yang tidak tepat sasaran? Bila masyarakat mayoritas menggunakan tabung gas elpiji yang harganya relatif murah, itu menjadi indikator bahwa rakyat kita memang belumlah sejahtera. Masih memilih barang dengan harga murah. Hal ini wajar adanya. Sebab, pemerintah sendiri seakan tak berfungsi. Kebijakan yg ditetapkan terus menerus menambah beban hidup rakyat yang kian susah. Sudahlah tak dapat jaminan sejahtera, mereka dipaksa pula untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada negara. Disinilah letak masalahnya. Mudah sekali memberi beban, tapi begitu berat bila diminta mengurusi rakyat dengan benar dan berkeadilan.

Kalaulah pencabutan subsidi itu untuk menghemat subsidi negara, mengapa pula tak menghemat pengeluaran dengan mengurangi utang, memperketat perizinan bagi pengusaha kapital, tidak gegabah pindah ibu kota atau menindak para pelaku korupsi yang banyak memakan uang negara? Saat keuangan negara minus, rakyat yang harus menanggung deritanya.

Beginilah wajah negara korporatokrasi. Berdiri dibawah sistem kapitalisme yang mereduksi nurani dan empati. Menutup mata pada penderitaan rakyat. Namun, tersenyum mesra pada kapitalis yang ingin menguasai kekayaan negara. Pencabutan subsidi tabung gas elpiji menyiratkan satu pesan bahwa kezaliman rezim dengan sistem kapitalisme akan terus berlanjut. Tak ada lagi subsidi atau diskon. Yang ada rakyat terus saja diperah sedemikian rupa. Sudah cukup lelah kita dengan berbagai kezaliman yang ada. Tak inginkah kita hidup sejahtera tanpa memikirkan besok makan apa? Mari mencoba melirik Islam sebagai harapan dan penyelamat dari keterpurukan. Mau sampai kapan sengsara dengan sistem kapitalis-liberal?

Chusnatul Jannah
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Artikel Terkait

Back to top button