LAPORAN KHUSUS

Siapa Plonga-plongo?

Kondisi negara sedang tidak baik-baik. Keberadaan pemimpin seolah tak dirasakan perannya, bingung sendiri tak tahu harus berbuat apa.

Bukan Fadli Zon namanya kalau puisi atau sajaknya tidak memerahkan kuping penguasa. Tidak hanya saat berada di Indonesia dia berkarya, bahkan saat berada di luar negeri pun ia merilis karya-karya puisinya.

Salah satu puisi yang ditulis Fadli berjudul “Petruk Jadi Raja.” Saat itu, Ahad 18 November 2018, Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 itu sedang berada di London, Inggris. Di Indonesia, di sejumlah wilayah di Jawa Tengah sedang ramai-ramainya poster Jokowi dengan busana raja. Meski Fadli sama sekali tidak menyebut nama seseorang, tetapi para pembaca sangat paham isi puisi itu.

Petruk Jadi Raja

suatu hari di Astina
petruk iseng jalan blusukan
tak disangka nasib suratan
tiba kesempatan berkuasa

petruk bersolek penuh citra
mencuri perhatian warga
program abal-abal dijual
seratus janji diobral
akhirnya dilantik jadi raja

petruk bertahta di singgasana
mimpi perbaiki keadaan
tak tahu apa mau dilakukan
merusak aturan tatanan
semua jadi dagelan

petruk biang kekacauan
ekonomi carut marut tak karuan
politik gonjang ganjing kegaduhan
budaya tercecer berantakan
agama mudah dinistakan
harapan pupus berserakan
petruk plonga plongo kebingungan

itulah hikayat negeri Astina
ketika petruk jadi raja

Fadli Zon, London, 18 November 2018

Plonga-plongo adalah istilah dari bahasa Jawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, plonga-plongo artinya (1) mulut ternganga, (2) tercengang. Seseorang dikatakan plonga-plongo bila dia hanya ternganga, tidak paham, tidak mengerti harus berbuat apa, saat terjadi sesuatu di sekitarnya yang mengharuskan dia menjawab atau bertindak.

Lalu, siapa yang plonga-plongo?

1 2 3 4Laman berikutnya
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close