INTERNASIONAL

Sistem Kesehatan Memburuk, Ribuan Dokter Tinggalkan Israel dalam Tiga Tahun Terakhir

Tel Aviv (Suaraislam.id) – Kekhawatiran di dalam sistem kesehatan Israel semakin meningkat akibat memburuknya fenomena migrasi dokter ke luar negeri. Kondisi ini terjadi di tengah dampak Operasi Badai Al-Aqsa dan perang yang menyusulnya, serta berbagai gejolak keamanan, politik, dan ekonomi.

Situasi tersebut memunculkan peringatan mengenai hilangnya tenaga medis berkualitas yang sulit digantikan dan menurunnya kemampuan untuk mempertahankan tingkat layanan kesehatan, terutama dalam bidang-bidang spesialisasi yang sangat penting.

Data yang dipaparkan dalam konferensi mengenai migrasi dokter yang diselenggarakan oleh Asosiasi Medis Israel pada Senin (19/10) di permukiman Ramat Gan, dekat Tel Aviv, menunjukkan peningkatan signifikan jumlah dokter yang meninggalkan Israel untuk bekerja di luar negeri. Data tersebut mencerminkan semakin besarnya tantangan yang dihadapi sistem kesehatan Israel setelah Operasi Badai Al-Aqsa dan berbagai peristiwa yang menyusulnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, rata-rata jumlah dokter dari Institut Medis Diagnostik Clalit yang meninggalkan Israel untuk bekerja di luar negeri meningkat dari sembilan dokter per tahun hingga 2019 menjadi 33 dokter per tahun sejak 2023. Jumlah tersebut meningkat lebih dari tiga setengah kali lipat.

Dalam bidang kedokteran komunitas, rata-rata jumlah dokter yang meninggalkan Israel setiap tahun meningkat dari tiga menjadi 18 orang, atau naik enam kali lipat. Sementara itu, rata-rata jumlah dokter yang meninggalkan rumah sakit Clalit meningkat dari enam menjadi 15 orang per tahun.

Angka-angka tersebut menjadi sangat penting jika dikaitkan dengan kondisi setelah 7 Oktober 2023. Hasil survei dan pemaparan dalam konferensi menunjukkan bahwa situasi keamanan dan politik, selain pertimbangan ekonomi, kini menjadi faktor yang memengaruhi keputusan para dokter untuk tetap tinggal atau meninggalkan Israel.

Sejumlah Spesialisasi Penting Mengalami Kehilangan Tenaga Ahli

Data menunjukkan bahwa oftalmologi atau ilmu kedokteran mata menempati urutan teratas dalam spesialisasi yang ditinggalkan para dokter, disusul pediatri atau ilmu kesehatan anak.

Spesialisasi lain yang mengalami kepergian dokter dari rumah sakit mencakup psikiatri anak dan remaja, oftalmologi, radiologi, serta kedokteran rehabilitasi.

Indikator-indikator tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa dampak migrasi tidak hanya berupa berkurangnya jumlah tenaga medis. Dampaknya juga dapat meluas ke bidang-bidang spesialisasi yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pendidikan, pelatihan, dan pengalaman praktik.

Akibatnya, menggantikan dokter yang pergi menjadi tugas yang sulit. Kondisi ini juga mengancam keberlangsungan sejumlah layanan medis dan kemampuan rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

Konferensi tersebut memaparkan hasil survei yang dilakukan oleh organisasi dokter rumah sakit pada 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa 50 dokter meninggalkan Israel pada tahun tersebut, termasuk 14 dokter dari Pusat Medis Ichilov dan Pusat Medis Rabin.

Hasil survei itu juga menunjukkan bahwa 53 dokter mengikuti program fellowship dan pelatihan di luar negeri, kemudian memperpanjang masa tinggal mereka di sana. Sebagian besar berasal dari Pusat Medis Sheba dan Ichilov.

Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa masa tinggal yang semula hanya untuk pelatihan sementara dapat berubah menjadi penetapan karier secara permanen di luar Israel.

Peringatan tentang Hilangnya Dokter Paling Berpengalaman

Direktur Rumah Sakit Sharon, Dr. Eitan Lavon, memperingatkan bahwa kurangnya infrastruktur penelitian dan ruang operasi, ditambah tekanan pekerjaan, mendorong dokter-dokter muda untuk bermigrasi ke luar negeri.

Lavon mengatakan bahwa dokter-dokter yang pergi, menurut penilaiannya, merupakan salah satu pilar utama kualitas kedokteran di Israel. Mereka juga memainkan peran penting dalam pengelolaan sistem kesehatan.

Ia memperingatkan bahwa jika kepergian mereka terus berlanjut, tekanan terhadap lembaga-lembaga medis akan semakin besar.

Ia menambahkan bahwa kekurangan tenaga medis memperketat persaingan antarrumah sakit untuk merekrut pekerja. Kondisi ini juga mengganggu keseimbangan distribusi tenaga medis berkualitas antara wilayah pusat dan daerah pinggiran, sehingga berpotensi memperlebar kesenjangan dalam akses terhadap layanan kesehatan.

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena dokter-dokter berpengalaman dan berkualifikasi tinggi, yang telah menghabiskan bertahun-tahun untuk pendidikan, pelatihan, dan spesialisasi, memilih menetap di luar negeri.

Hal ini berarti sistem kesehatan kehilangan tenaga ahli yang sulit digantikan dalam waktu singkat, bahkan jika dokter-dokter baru berhasil direkrut.

Dokter Spesialis Kanker Menjadi Salah Satu Kekhawatiran Utama

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tel Aviv, Profesor Ido Wolf, mengungkapkan bahwa dampak migrasi dokter mulai terlihat jelas dalam bidang-bidang medis yang sangat penting.

Ia menyebutkan bahwa antara lima hingga sepuluh dokter spesialis kanker telah meninggalkan Israel dan tidak kembali.

Wolf memperingatkan bahaya kehilangan tenaga ahli tersebut. Ia mengatakan bahwa mereka merupakan “cadangan terkuat yang kita miliki”. Menurutnya, penyebutan nama-nama dokter yang telah pergi saja sudah cukup untuk memperlihatkan besarnya persoalan, sementara saat ini tidak tersedia pengganti bagi mereka.

Ia menjelaskan bahwa kondisi yang ditawarkan lembaga-lembaga penelitian di luar negeri kepada para peneliti membuat institusi Israel kesulitan bersaing dalam merekrut dan mempertahankan tenaga medis unggulan.

Situasi ini membuka peluang bagi berlanjutnya perpindahan tenaga ahli ke pusat-pusat medis dan penelitian di luar negeri yang menawarkan lingkungan kerja dan pengembangan karier yang lebih menarik.

Sementara itu, Dr. Lea Kahanov dari Forum Dokter Peserta Pelatihan di Asosiasi Medis Israel menyebutkan bahwa situasi keamanan dan politik merupakan faktor penting dalam krisis tersebut. Ia menjelaskan bahwa ketidakstabilan juga memengaruhi perasaan aman para dokter.

Pernyataan-pernyataan tersebut menyoroti keterkaitan berbagai faktor keamanan, politik, ekonomi, dan profesional dalam keputusan untuk bermigrasi. Pada saat yang sama, Israel masih menghadapi dampak berkepanjangan perang yang meletus setelah Operasi Badai Al-Aqsa, sehingga muncul pertanyaan mengenai kemampuan sistem kesehatannya untuk mempertahankan tenaga-tenaga medis yang berkualifikasi.

Sebanyak 1.370 Dokter Meninggalkan Israel dalam Tiga Tahun

Peringatan tersebut muncul setelah sebuah penelitian yang disusun Universitas Tel Aviv dan diterbitkan surat kabar Israel Haaretz pada bulan lalu mengungkapkan bahwa sebanyak 1.370 dokter meninggalkan Israel antara 2023 dan 2025.

Angka tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa migrasi dokter telah berkembang menjadi tantangan yang semakin besar, melampaui kasus-kasus individual. Kekhawatiran ini terutama muncul karena faktor keamanan, politik, dan ekonomi setelah Operasi Badai Al-Aqsa masih terus memberikan dampak.

Sementara berbagai indikator menunjukkan bahwa fenomena tersebut semakin meluas, kekhawatiran di sektor kesehatan Israel terutama berpusat pada hilangnya dokter-dokter paling berpengalaman, menurunnya kemampuan untuk mengatasi kekurangan tenaga dalam spesialisasi tertentu, dan semakin ketatnya persaingan antarrumah sakit untuk mendapatkan tenaga ahli yang masih tersisa.

Perkembangan tersebut menghadirkan tantangan yang semakin besar bagi stabilitas sistem kesehatan Israel dan kemampuannya dalam menyediakan layanan kesehatan.

sumber: infopalestina

Back to top button