SUARA PEMBACA

Syekh Ali Jaber dan Konten Ceramahnya

Ali Sholeh Muhammad Ali Jaber, dikenal dengan Syekh Ali Jaber. Namanya tak asing lagi bagi kalangan Muslim perkotaan. Parasnya yang good looking menghiasi layar kaca. Beliau tampil di sejumlah program religi yang tayang pada bulan Ramadhan. Sebut saja ajang “Hafiz Indonesia”. Dalam ajang tersebut beliau menjadi jurinya. Oh ya perlu diketahui, sejak Januari 2020, beliau telah resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

“Barakallah… Alhamdulillah. Menjadi sebuah kebahagian dan kebanggaan bagi kami beserta keluarga saat pengajuan menjadi Warga Negara Indonesia telah diterima. Saat ini passport sudah di tangan kami. Itu pertanda sah kami jadi WNI. Mohon bimbingannya dari jamaah sekalian supaya kami menjadi warga negara Indonesia yang baik dan bisa berkontribusi bagi agama bangsa dan negara. Aamiin. I love you INDONESIA”, begitu bunyi unggahan di akun Instagramnya.

Pendakwah yang lahir di kota Madinah ini diketahui menikah dengan muslimah asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam pewartaan laman Moeslimchoice.com, sejak usia 10 tahun beliau telah menghafal 30 juz Al-Qur’an. Bahkan pernah mengajar di Masjid Nabawi dan menjadi imam di salah satu masjid di Madinah. Eksistensi Syekh Ali Jaber seingat saya mulai melejit ke permukaan semenjak kerap mendampingi berbagai acara/lawatan dai kondang, Ust. Yusuf Mansyur.

Meski sudah dikenal publik sebagai pendakwah, anehnya, nama beliau tak masuk dalam daftar “200 Penceramah Islam Indonesia” yang dirilis Kementerian Agama pada 18 Mei 2020. Bukan hanya Syekh Ali Jaber, dai sekaliber Gus Baha, Dr. Abdul Shomad Batubara dan Ustadz Adi Hidayat ternyata tak masuk dalam daftar tersebut. Malah saya dapati penceramah yang kontennya suka melawak, mantan narapidana kasus korupsi dan seorang sastrawan beken dimasukkan ke dalam daftar barusan.

Ahad, 13 September 2020, Syekh Ali Jaber menyita perhatian publik. Berawal beliau menjadi korban penusukan orang tak dikenal di Masjid Falahuddin, Bandar Lampung. Singkat cerita, sang pelaku bakal dijerat polisi dengan pasal percobaan pembunuhan dan pasal penganiayaan.

Sementara itu, lengan kanan Syekh Ali Jaber harus mendapat perawatan medis. “Saya sudah beberapa kali menyampaikan, saya siap mati di Indonesia. Saya siap dimakamkan di Indonesia, dan saya tidak pernah takut soal mati. Karena saya sudah jatuh cinta dengan Indonesia dan apa yang saya perjuangkan untuk Indonesia ini anugerah dari Allah untuk saya,” kata beliau seperti diberitakan laman Okezone.com.

“Bukan saya karena punya kelebihan dan saya hanya berusaha jadi orang baik, jadi orang yang bermanfaat untuk masyarayakat dan negara,” tambahnya. Selain itu, Syekh Ali Jaber menyatakan bahwa dirinya sudah berjanji akan memberikan hal yang bermanfaat bagi Indonesia. Apalagi dirinya sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Dalam catatan saya, konten ceramah Syekh Ali Jaber temanya menyesuaikan program televisi dimana beliau menjadi narasumbernya. Namun saya temukan konten ceramahnya yang bernuansa purifikasi aqidah. Misalnya pada tanggal 16 Mei 2015, “Hakikat Isra’ miraj adalah apabila manusia punya problem, sampaikan kepada Allah SWT. Tidak melalui malaikat atau wali, tetapi langsung dengan Shalat,” ucap Syekh Ali Jaber sewaktu diwawancarai dr. Lula kamal di TV One. Selain itu, Syekh Ali Jaber juga pernah mengulas tentang hakikat kekasih Allah SWT. Kata beliau dalam Program “Damai Indonesiaku” (7 Juli 2015), “Keberadaan Waliyullah hanya Allah yang tahu…”. Dua argumen tersebut membuat Syekh Ali Jaber distigma wahabi oleh kelompok yang berseberangan.

Hingga tulisan ini dibuat, Syekh Ali Jaber tetap melanjutkan safari dakwah. Rabu, 16 September 2020, diketahui melawat ke Kabupaten Jember. Lalu pada Kamis, 17 September 2020 bertolak ke Kota Malang. Di kecamatan Ajung, Jember, saya melihat unggahan beberapa foto beliau yang dikawal personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Cabang Kencong. Adapun di kota kelahiran saya, beliau diundang buka puasa di restoran Baitul Maqdis, Kecamatan Klojen. Setelah buka puasa, beliau masih meluangkan waktu memberi tausyiah di Masjid Khadijah. Di Masjid yang berafiliasi ke Muhammadiyah ini, beliau tetap dikawal personel Banser.

Peristiwa penusukan di Bandar Lampung ada hikmahnya. Tentunya membuat citra personel Banser berubah positif di mata publik. Pasalnya selama ini Banser dikenal publik suka jaga gereja dan beberapa kali membubarkan pengajian kelompok tertentu.

Demikianlah tulisan saya tentang seorang Syekh Ali Jaber. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi beliau dimana pun dan kapan pun. Wallahu’alam.

Fadh Ahmad Arifan
Pengajar di MA Muhammadiyah 2 Kota Malang

Artikel Terkait

Back to top button