SURAT PEMBACA

Taman Sudut Dilan adalah Monumen Paham Kebebasan

Booming film Dilan dan pengaruhnya setahun ke belakang, ternyata masih berkelanjutan. Diinspirasi hal tersebut, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi Menteri Pariwisata, Arief Yahya, resmi meletakkan batu pertama pembangunan Taman Dilan di Bandung, Ahad (24/2) lalu.

Gubernur Jabar menilai jika fenomena Dilan dan Milea telah memberikan sumbangsih besar bagi Jawa Barat, terutama dalam bidang pariwisata (cnnindonesia.com/24/02/2019).

Taman Sudut Dilan akan dibangun di GOR Saparua, Bandung. Pembangunannya diprediksikan rampung pada akhir tahun 2019. Taman Sudut Dilan diproyeksikan akan menjadi ajang interaksi dan literasi anak muda. Designya akan banyak dihiasi mural, foto sepasang muda mudi dimabuk cinta ala Dilan dan Milea, juga kalimat-kalimat ikonis penuh gombal rayu ala Pidi Baiq sebagai penulis Novel Dilan.

Hiperbolisnya lagi, Ahad 24 Februari 2019 juga diperingati sebagai perayaan Hari Dilan. Ini sebagai anniversary film Dilan yang disakralkan dengan peletakan batu pertama untuk Taman Sudut Dilan oleh pejabat setempat, ditambah lagi promo film Dilan 1991 yang akan tayang 28 Februari mendatang.

Sungguh, fenomena Dilan memang dirasakan sangat membuai kaula muda. Kisah cinta yang sarat ide kebebasan telah membius muda mudi untuk mengikuti jejaknya. Jika gubernur mengapresiasi film Dilan karena diangkat dari literasi berupa Novel karya Pidi Baiq, serta dinilai memotivasi kaula muda untuk membaca, menulis juga berkarya, mengapa tidak lebih menyoroti dari segi isi dan pesan moral yang tertuang di dalamnya.

Jika kita berkaca pada Islam, ini sungguh kontras. Sosok Dilan yang flamboyan penuh kegombalan bukanlah sosok idaman. Bukan potret pemuda yang mampu menginspirasi pada kebaikan bahkan pada kebangkitan generasi.

Pembangunan Taman Sudut Dilan tentu saja dibangun atas fondasi ide kebebasan. Di mana nanti adanya interaksi generasi muda dengan leluasa difasilitasi untuk bercampur baur, bahkan berpacaran di sana. Mereka akan leluasa berfoto bersama, menikmati kalimat-kalimat yang sarat nilai permisif yang dikemas dengan balutan sastra yang sarat mantra. Ini sama halnya dengan membiarkan generasi muda terbuai dengan kemaksiatan.

Bahkan mirisnya lagi, Taman Sudut Dilan diharapkan menjadi destinasi baru untuk menyedot wisatawan agar berbondong-bondong ke sana. Di manakah faedah yang hendak diraih jika dibidik dari sudut peradaban?

Ide kebebasan dan orientasi keuntungan seolah telah mengaburkan pandangan para penguasa setempat. Adanya fasilitas umum justru diadakan untuk memfasilitasi kemaksiatan, bukan kemaslatahan umat. Ini begitu miris.

Inilah potret negara yang mengadopsi demokrasi. Adanya tak mengindahkan Islam sebagai pandangan hidup yang mulia. Kebijakannya semata karena ada keuntungan di sana. Arusnya tak heran jika menyeret generasi pada pola pikir dan pola perilaku yang berkiblat dari Barat.

Sungguh, hal semacam ini tak bisa berlarut-larut didiamkan. Paham kebebasan lambat laun akan menghancurkan generasi bangsa. Sudah seharusnya paham ini digantikan dengan paham sahih yang mencerahkan. Paham yang datang dari Sang Pencipta Kehidupan, Allah Swt. Paham yang senantiasa menghadirkan Allah sebagai Sang Pengatur dalam setiap aspek kehidupan.

Hanya dengan syariat Islam yang diterapkan secara kaffah-lah, setiap tempat, setiap umat akan merasa mendapatkan pencerahan karena senantiasa merujuk pada pengaturan yang dijabarkan dalam Al Quran dan Sunah Nabi Saw. Walahu’alam bisshowab

Ammylia Rostikasari, S.S.
(Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Artikel Terkait

Back to top button