REMAJA

Tetap Mengingat Allah

Setiap orang pasti punya mimpi. Di sini kita akan bertemu titik dimana kita akan mengalami banyak tantangan. Semakin kita dekat dengan mimpi, semakin susah juga ujiannya.

Yang awalnya dalam sepekan jadwal kita masih biasa-biasa saja, masih bisa santai dan main media sosial. Lama kelamaan, waktu kita akan dirampas bahkan waktu untuk beristirahat. Biasanya cuman les, kajian, dan sekolah doang dalam satu pekan. Minggu-minggu berikutnya rumus jadwalnya tambah rumit, “Nanti pertama aku sekolah dulu, setelah itu les sampai malem, terus lanjut belajar lagi, sama subuh aku ngaji dua jam,” paket komplet! Atau ada yang lebih komplet dari pada ini. Tetapi justru karena ini, banyak orang yang memutuskan untuk menyerah karena sudah enggak sanggup lagi.

Tapi, mempunyai jadwal padat itu memang sedikit menyebalkan. Karena kita jadi enggak punya waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri. Ujung-ujungnya jadi stres dan emosi. Sedih juga, karena waktu kita buat berkomunikasi sama Allah jadi berkurang, lama-lama jadinya care less sama urusan akhirat.

Dan hal seperti ini pernah diceritakan oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah tentang seorang pedagang yang lupa sama Allah SWT. Dirinya selalu sibuk memikirkan dagangannya, begitu menjelang kematiannya mulutnya sibuk berucap, ‘Barang ini murah, ayo beli. Ini bagus,’ dan seterusnya. Padahal, istri dan anaknya mengingatkannya agar berucap Allah. Tetapi, karena tidak familier di lidahnya, ia tidak bisa mengucapkannya. Astaghfirullah…

Nabi Muhammad Saw utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan risalahnya ke umat manusia, beliau adalah seorang pemimpin. Bayangkan bagaimana sibuknya Nabi Muhammad? Tapi lihatlah! Beliau selalu punya waktu buat Allah, beliau tak pernah meninggalkan kewajibannya, beliau selalu melibatkan Allah, tak pernah beliau melupakan Allah di tengah kesibukannya.

Nah, kita ini sibuk apa sih sampai-sampai melupakan Allah? Di sinilah justru Allah beri kita ‘tes kecil’ di masa kesibukan kita. Saat kita sibuk, apakah kita justru berpaling dan menjauhi Allah? Apakah kita malah melupakannya?

Allah yang memberikan potensi dan kekuatan untuk kita, tanpa Allah kita enggak bakalan bisa menyelesaikan suatu perkara. Termasuk, di saat kita memenangkan lomba atau kompetisi, Allah-lah yang mengizinkan kita untuk memenangkan lomba tersebut, Allah yang memberikan kita potensi dan kekuatan untuk memenangkan kompetisi itu. Semuanya terjadi atas izin Allah. Tanpa Allah kita bukan apa-apa.

Jika kita ujung-ujungnya menjadi stres dan emosi di saat banyak jadwal. Cara mengobatinya bagaimana? Sebetulnya caranya amat sederhana, tapi enggak banyak orang yang melakukannya. Yaitu dengan mengingat Allah, dengan mengingat Allah hati kita akan tenteram dan damai. Jika kita sudah mementingkan Allah di atas segalanya, Allah akan mempermudah semua urusan hidup kita, Allah akan menunjukkan jalan untuk kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, dalam Al-Qur’an surat ar-Ra’du [2]: 28,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs. ar-Ra’du [2]: 28).

Nah, di saat kita sibuk banget nih, jadikanlah waktu beribadah sama Allah sebagai istirahat. Jadi di saat kita mendekat sama Allah, jadikan waktu itu untuk mengumpulkan energi dan meregangkan badan sejenak. Dengan begitu, kita jadi lebih semangat lagi. Percaya deh, yuk!

Aqila Ghania Syaakirah
Jenjang Pendidikan sekolah SDIT Al-Yasmin 1 Sindang Barang, melanjutkan ke SMPIT Insantama Bogor. Lahir di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur pada 09 November 2007. Anak dari pasangan Reza Aldi dan Anita Octavia Mayasari sebagai anak ke-2 dari tiga bersaudara. Bercita-cita menjadi seorang penulis inspiratif dan aktivis dakwah.

Back to top button