Tipe-Tipe Orang Bertanya Menurut Imam Al-Ghazali

Inilah yang membuat para ulama besar terdahulu diantaranya Imam Sayuti melarang membaca kitab Ibnu ‘Arabi. Menurut keterangan Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitab Al-Fatawa Al-Haditsiyyah (Darul Kutub Ilmiyyah), Imam Ibnu ‘Arabi sendiri dalam kitabnya mengatakan “kami kaum yang haram bagi orang lain membaca kitab-kitab kami.” Dipahami dari ucapan tersebut, boleh membaca kitab imam Ibnu ‘Arabi bagi orang yang setara dengannya.
Terkadang ada orang mengatakan kami membaca kitab Ibnu ‘Arabi atau kitab-kitab lain yang setara dengannya seperti kitab Insanul Kamil karangan Syeikh Abdul Karim Al Jili dan kami hanya mengambil yang sanggup kami fahami saja. Dalam hal ini Imam Haddad dalam kitab Risalatul Mu’awanah (Darul Hawi,1993) berkata: “Yang kita takutkan bagi orang yang membaca kitab-kitab Ibnu ‘Arabi atau yang setingkat dengannya adalah mereka akan memahaminya tidak seperti yang dikehendaki oleh pengarang sehingga menjadi sesat dari jalan yang benar.”
Empat: Orang yang bertanya semata-mata untuk menambahkan wawasan tanpa ada kedengkian, kebencian dan penyakit-penyakit hati yang lain. Dia hanya ingin mencari jalan yang lurus tanpa ada keinginan menguji orang yang ditanyakan, selain itu pertanyaanya juga sesuai dengan tingkatannya. Pertanyaan orang seperti ini hendaklah di jawab bahkan wajib menjawab pertanyaannya. Pertanyaan seperti inilah yang membuat banyak penuntut ilmu sukses. Siapa saja yang tidak menjawabnya padahal dia mengetahui jawaban pertanyaan tersebut maka dia termasuk ke golongan orang yang disabdakan oleh Rasulullah:
مَنْ كَتَمَ عِلْمًا مِمَّا يَنْفَعُ اللَّهُ بِهِ فِي أَمْرِ النَّاسِ أَمْرِ الدِّينِ أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ النَّارِ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه)
Barangsiapa yang menyembunyikan suatu ilmu yang bermanfaat kepada manusia dalam urusan agamanya maka Allah akan mencambuknya dengan cambuk dari neraka di hari kiamat. (H.R. Ibnu Majah)
Semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan orang-orang yang benar dan istiqamah dalam melakukan segala kebaikan serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Amin.[]
Syauqas Rahmatillah, Mubaligh Pesantren Ummul Aiman Bireun.