NASIONAL

Wakil Wantim MUI: Indonesia Harus Jadi Negosiator Perdamaian Konflik Saudi-Houthi Yaman

Pihaknya mengingatkan, konflik bersenjata yang terus berlanjut hanya akan memperbesar penderitaan rakyat Yaman maupun Arab Saudi, yang mayoritas penduduknya Muslim.

Selain korban jiwa dan kemiskinan, perang juga menimbulkan kerusakan material dalam skala besar. Proses rekonstruksi pascakonflik dipastikan membutuhkan waktu panjang dan biaya yang tidak sedikit.

Dampak konflik pun tidak berhenti di kawasan. Energi yang terkuras akibat pertikaian tersebut turut dirasakan masyarakat internasional. Krisis keamanan maritim yang menghambat pasokan energi berpotensi mengganggu perekonomian dunia.

“Konflik bersenjata yang berkepanjangan hanya akan menciptakan kekacauan dan malapetaka bagi rakyat Yaman dan Saudi. Kerugian material juga sangat besar, sementara rekonstruksi membutuhkan waktu lama dan dana besar,” ungkapnya.

Kiai Muhyiddin juga menyoroti dampak konflik terhadap suasana sosial-keagamaan di Indonesia. Menurutnya, perdebatan mengenai perang Saudi-Houthi telah memunculkan tanggapan pro dan kontra, bahkan berkembang menjadi narasi konflik Syiah-Sunni di media sosial.

Sejumlah tokoh dari berbagai elemen telah menyampaikan pernyataan masing-masing. Namun, perbedaan sikap yang semakin tajam dikhawatirkan memicu polarisasi keagamaan, meningkatkan kecurigaan, dan memperkeruh suasana di tengah masyarakat.

“Polarisasi sikap keagamaan menimbulkan suhu memanas dan tidak kondusif, di mana kecurigaan semakin tinggi. Ini sangat riskan dan berbahaya,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar perbedaan pandangan mengenai konflik di Timur Tengah tidak berkembang menjadi permusuhan di antara sesama Muslim di Indonesia.

Kiai Muhyiddin menegaskan, sudah saatnya Indonesia tampil untuk menjalankan amanat konstitusi dalam menjaga perdamaian dunia. Peran sebagai negosiator perdamaian, menurutnya, bukan hanya peluang diplomatik, tetapi juga tanggung jawab moral untuk membantu menghentikan penderitaan rakyat Yaman dan mencegah konflik semakin meluas. []

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button