#Pemilu 2019OPINI

Yusril bukan Politisi, PBB Harus Diselamatkan

Dalam politik, tidak semua ungkapan, ucapan dan tindakan seseorang ditanggapi, apalagi dikonfrontir secara tajam dengan mempertegang urat leher.

Seorang politisi besar, tidak akan menanggapi ungkapan seseorang dengan jawaban yang konfrontatif. Apalagi tidak memiliki efek yang signifikan dalam pertarungan elektoral.

Tetapi berbeda politisi dengan akademisi. Akademisi memang sensitif dari kritikan dan sanggahan. Mereka terbiasa dengan “anak-anak kecil” di dalam ruangan, hanya untuk mendengarkan ceramahnya.

Itulah Yusril Ihza Mahendra (YIM), seorang guru besar yang jauh dari pengalaman politik yang getir seperti ini. Kenapa tidak ambil contoh kepada Amien Rais, yang juga guru besar, tetapi sangat tenang menghadapi kritikan dan tidak ada satupun yang dia jawab. Justru ia membuat statemen baru yang lebih kontroversial untuk menutup segala tuduhan itu, meskipun tuduhan itu tidak benar. Itu seorang politisi kelas tinggi.

Yusril, dari caranya menanggapi, justru menggambarkan bukan karakter seorang politisi. Karena itulah Partai Bulan Bintang sulit untuk menembus batas elektoral Parliamentary Threshold, dengan sikap individualisme ketua umum partai seperti ini.

Saya ingin menyoroti sikap ketua partai yang memilih bertentangan dengan Habib Rizieq Syihab hanya untuk membela dirinya, yang itu tidak terlalu penting dalam konteks politik. Pengaruhnyapun dalam perolehan suara partai sangat sedikit bahkan cenderung makin tergerus, dari sedikit menjadi tambah sedikit? (Setelah momen semangat bela Islam 212 terabaikan, darimana lagi PBB bisa mendapatkan tambahan suara? Apakah berharap dari koalisi petahana yang notabene pembenci syariat Islam?)

Kalau semua pembicaraan orang ingin jawab, maka mungkin habis energi untuk menjawabnya. Sebab, itu hanya memperkeruh suasana dan memperlihatkan mental temperamental, dan di mata publik itu sangat menadapatkan penilaian buruk.

Bukankah YIM pernah menyerang Prabowo secara bertubi-tubi? Apakah Prabowo jawab? Tidak, penyerangan itu Prabowo biarkan mengalir dan hilang dengan sendirinya. Karena orang tidak terlalu tertarik dengan perkelahian elite yang hanya membela diri. (Terbukti bahwa PS lebih sabar dan lebih bisa mengendalikan diri dari YIM dan Jokowi)

Jangan seperti Jokowi, yang setiap kritikan kepadanya sebagai seorang presiden dianggap sebagai penghinaan dan cacian terhadap individu, padahal orang memperbincangkan dia sebagai presiden.

Setelah Jokowi mau melawan, dan menyatakan “konfrontasi” terhadap kritikan publik itu, maka elektabilitasnya anjlok dan secara elektoral itu sangat merugikan.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button