NUIM HIDAYAT

Surat untuk Tuan Presiden: Evaluasi Mulai dari Lahan Sawitmu Tuan Presiden

Assalamualaikum, Tuan Presiden

Dalam kondisi di tanah air seperti ini, tentu Tuan Presiden bertambah kesibukannya. Banjir di Sumatera Barat, Sumatra Utara dan Medan sampai kini masih menyimpan banyak masalah. Ribuan penduduk kehilangan rumah, gedung dan jalan banyak yang rusak, di samping masalah-masalah pokok harian penduduk yang hingga kini belum terpenuhi semuanya. Kebutuhan sembako, air, dan lain-lain.

Banyak kalangan, termasuk para akademisi juga telah membuat surat kepada Presiden terkait dengan penanganan dampak banjir di pulau Sumatra ini. Nampaknya Presiden memperhatikannya sehingga berulangkali ia mengadakan rapat kabinet untuk mengatasi masalah dampak banjir ini.

Tuan Presiden, salah satu yang menjadi gunjingan masyarakat kepada Tuan adalah adanya kepemilikan lahan sawit sebesar 97.000 hektar di Aceh. Lahan sawit ini dimiliki oleh PT Tusam Hutani Lestari.

Di internet, tersebar bahwa kekayaan Tuan Presiden pada 2025, adalah Rp 2,06 triliun. Tuan juga memiliki banyak Perusahaan di tanah air. Diantaranya:

1. PT Nusantara Energy (pertambangan, batubara, dan tercatat berafiliasi dengan bisnis perkebunan).

2. PT Tidar Kerinci Agung (perusahaan perkebunan kelapa sawit).

3. PT Kertas Nusantara / PT Kiani Kertas (industri kertas).

4. PT Tusam Hutani Lestari, PT Tanjung Redeb Hutani, PT Erabara Persada Nusantara, PT Nusantara Kaltim Coal, PT Nusantara Energindo Coal dll

PT Tidar Kerinci Agung (PT TKA) disebut sebagai perusahaan sawit yang beroperasi di Sumatera Barat/Jambi (kabupaten seperti Solok Selatan, Dharmasraya, Bungo). Beberapa dokumen akademik dan lokal menyebut luas konsesi/areal antara 16.000 ha hingga 28.000 ha tergantung sumber dan tahun pengukuran.

PT Nusantara Energy disebut beroperasi/terafiliasi di Berau, Kalimantan Timur. Beberapa laporan lokal/berita menyebut keterlibatan perusahaan ini di wilayah Berau, tetapi informasi luas lahan sawit spesifik untuk entitas ini tidak selalu tersedia secara publik atau tercampur dengan konsesi tambang.

Tuan Presiden, seperti kita ketahui bersama cara paling efektif pemimpin dalam mengatasi masalah adalah mulai dari dirinya sendiri. Bila diri pemimpin itu bersih, tidak berlumuran dosa dan kesalahan, maka masyarakat akan patuh dengan sukarela. Tapi bila pemimpin penuh dengan dosa dan kesalahan, kemudian menyuruh rakyatnya untuk berbenah, maka rakyat akan mencemooh dan ingkar kepada pemimpin.

Maka untuk mengatasi banjir yang mungkin akan berulang di Sumatra dan lain-lain, Tuan Presiden harus mengevaluasi lebih dulu lahan sawit atau tambang yang Tuan miliki. Apakah penebangan hutan dengan digantikan perkebunan sawit ini menyebabkan banjir atau tidak. Bila setelah dilakukan penelitian ilmiah mengakibatkan banjir, maka Tuan Presiden harus menghentikan aktivitas perkebunan lahan sawit itu dan mulai memikirkan bagaimana mengatasi dampak banjir yang mungkin akan terjadi pada waktu mendatang.

Bila Tuan Presiden hanya mengevalusi lahan sawit yang dimiliki oleh pihak lain atau penebangan liar yang dilakukan rakyat, maka Tuan bukan pemimpin yang bijaksana. Seorang pemimpin yang bijak melakukan evaluasi kepada pribadinya terlebih dulu.

1 2Laman berikutnya
Back to top button