Meneladani Rasulullah Muhammad saw
Islam tidak mengenal strata sosial. Dalam Islam, hal yang membedakan kemuliaan seorang manusia hanyalah ketakwaannya.
Firman Allah Swt.:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Dalam masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad saw., terdapat satu golongan yang tidak memiliki apa pun, berasal dari luar Madinah, dan masuk memeluk Islam. Mereka dikenal dengan sebutan ahlu suffah, yakni golongan yang tidak memiliki harta maupun keterampilan (life skill) yang mumpuni.
Namun, ahlu suffah ini kemudian diurus secara langsung oleh Rasulullah saw. Seluruh kebutuhan hidup mereka dipenuhi, mulai dari tempat tinggal, sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, hingga keamanan.
Para ahlu suffah senantiasa mengikuti kajian dalam majelis Rasulullah saw. hingga terlibat dalam peperangan bersama beliau. Rasulullah saw. memperlakukan mereka dengan sangat baik sehingga mereka pun taat kepada setiap perintah dan larangan dari Baginda Rasulullah saw.
Kebutuhan ahlu suffah dipenuhi dari harta zakat kaum muslimin yang berkecukupan. Mekanisme ini membuat seluruh kebutuhan hidup mereka dapat terjamin dengan baik.
Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. bukan sekadar seorang Nabi dan Rasul. Beliau juga seorang kepala negara, politisi, dan negarawan ulung yang mengurusi seluruh rakyatnya secara adil.
Rasulullah saw. memberikan teladan sempurna tentang tata kelola urusan manusia. Pengurusan beliau yang sangat manusiawi dan paripurna membuat kecintaan masyarakat terhadap beliau tumbuh pesat.
Di sisi lain, Rasulullah saw. juga menjalankan hubungan internasional dengan negara lain, termasuk dua kekuatan adidaya saat itu, yaitu Romawi dan Persia.
Rasulullah saw. memperkenalkan Islam ke mancanegara dengan mengirimkan surat seruan dakwah melalui para duta kepada raja-raja dan kaisar dunia. Surat tersebut dikirimkan antara lain kepada Kaisar Heraklius, Kisra Persia, Raja Habasyah, dan Raja Mesir.
Surat-surat tersebut mendapat beragam tanggapan. Raja Mesir dan Raja Habasyah menyambutnya dengan senang hati serta mengirimkan banyak hadiah, sedangkan Kisra Persia marah dan merobek surat beliau. Adapun Kaisar Heraklius memilih untuk tidak mempedulikannya.
Fakta diplomasi ini membuktikan bahwa Rasulullah saw. adalah politisi dan negarawan brilian yang diperhitungkan dalam percaturan politik global.






