Mengapa Saif al-Islam Gaddafi Dibunuh?
Kematian Saif al-Islam Gaddafi bukan sekadar pembunuhan politik. Ia adalah penghapusan alternatif kekuasaan di Libya.
Oleh: Anas El Gomati*
Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, tewas ditembak 19 kali di dalam kompleks tempat tinggalnya di Zintan, Libya barat, awal Februari 2026. Empat pria bertopeng masuk setelah melumpuhkan kamera pengawas. Sekitar satu setengah jam sebelumnya, para pengawal Saif tiba-tiba meninggalkan lokasi—tanpa penjelasan.
Tak ada baku tembak. Tak ada pengejaran. Tak ada klaim tanggung jawab. Para pelaku menghilang begitu saja.
Di Libya, keheningan semacam ini biasanya berarti satu hal: pembunuhan itu tidak akan pernah diusut secara serius.
Baca juga: Saif al-Islam Gaddafi, Putra Mantan Presiden Muamar Gaddafi Tewas
Libya yang Terbelah dan Tak Pernah Memilih
Sejak 2014, Libya terpecah menjadi dua pusat kekuasaan. Di barat, pemerintahan Tripoli yang dipimpin Abdul Hamid Dbeibah berkuasa dengan legitimasi internasional dari PBB. Di timur, Jenderal Khalifa Haftar mengendalikan wilayah luas melalui kekuatan militer, didukung Uni Emirat Arab, Rusia, dan Mesir.
Tak satu pun dari dua kubu ini dipilih lewat pemilu nasional. Pemilu terakhir Libya berlangsung pada 2014. Sejak itu, janji transisi demokrasi terus gagal.
Di tengah kebuntuan itulah nama Saif al-Islam Gaddafi menjadi momok.
Bukan Agen Perubahan, Tapi Alternatif Kekuasaan
Saif tidak menawarkan demokrasi. Ia tidak membawa agenda reformasi. Namun ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi elite Libya: alternatif garis suksesi.
Bagi banyak kelompok suku dan faksi bersenjata, nama “Gaddafi” masih memiliki daya tarik simbolik. Saif dipandang sebagai pewaris sistem lama—negara otoriter berbasis patronase—namun dengan wajah baru.
Dalam pemilu presiden Libya yang gagal digelar pada 2021, Saif tercatat memiliki elektabilitas lebih tinggi dibanding Khalifa Haftar. Fakta ini membuatnya mustahil diabaikan, tetapi juga terlalu berisiko untuk dibiarkan hidup.
Operasi Senyap, Bukan Kekacauan
Cara Saif dibunuh menunjukkan bahwa ini bukan aksi spontan. Ini adalah operasi terencana, dilakukan oleh pihak yang memahami rutinitasnya, sistem keamanannya, dan waktu yang tepat ketika seluruh perlindungan ditarik.
Selama bertahun-tahun, Saif hidup dalam persembunyian, dilindungi oleh kesepakatan-kesepakatan lokal dan, pada periode tertentu, dukungan keamanan yang dikaitkan dengan Rusia. Pada malam pembunuhan itu, semua perlindungan tersebut menghilang.
Orang-orang dari lingkaran terdekatnya menyebut ini sebagai “pekerjaan orang dalam.”






