Mengapa Saif al-Islam Gaddafi Dibunuh?
Kematian Saif al-Islam Gaddafi bukan sekadar pembunuhan politik. Ia adalah penghapusan alternatif kekuasaan di Libya.
Ancaman bagi Rencana Elite
Dua hari sebelum pembunuhan, Saddam Haftar—putra Khalifa Haftar—dilaporkan bertemu secara rahasia dengan Ibrahim Dbeibah, keponakan perdana menteri Libya, di Paris. Isu yang dibahas disebut-sebut terkait pembentukan pemerintahan persatuan baru, pembagian jabatan, dan—yang terpenting—penundaan pemilu.
Bagi rakyat Libya yang sudah lebih dari satu dekade tidak memilih pemimpin mereka, skema semacam itu berpotensi memicu kemarahan besar.
Di sinilah posisi Saif menjadi berbahaya. Ia tidak perlu kampanye. Ia tidak perlu visi. Cukup namanya di kertas suara untuk menjadi simbol perlawanan terhadap elite yang terus mempertahankan kekuasaan.
Dibungkam hingga ke Pemakaman
Lima hari setelah kematiannya, Saif dimakamkan di Bani Walid, basis loyalis Gaddafi. Keluarganya ingin memakamkannya di Sirte, kampung halaman sukunya, tetapi ditolak oleh pasukan Haftar. Acara belasungkawa dibatasi. Perkabungan publik dicegah.
Saif menghabiskan satu dekade hidupnya dengan dikontrol: di mana ia boleh tinggal, siapa yang boleh ditemui, dan kapan ia boleh berbicara. Pada akhirnya, bahkan tempat ia dimakamkan pun ditentukan oleh para rivalnya.
Tak ada tersangka. Tak ada penangkapan. Dan hampir pasti, tak akan pernah ada.
Di Libya, keheningan setelah pembunuhan politik bukanlah ketiadaan jawaban. Ia adalah jawabannya. []
*Pendiri dan Direktur Jenderal Sadeq Institute, lembaga pemikir kebijakan publik pertama di Libya yang berbasis di Tripoli.
Sumber: Aljazeera






