Pembela Palestina Tak Hanya Muslim
Cirebon (SI Online) – Siapa bilang dukungan untuk Palestina hanya datang dari kalangan muslim? Maimon Herawati, seorang aktivis kemanusiaan yang baru kembali dari rapat Steering Comittee Global Sumud Flotilla di Tunisia memaparkan isu ini kala menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar bertajuk “Apakah Hati Kita Masih Hidup untuk Palestina?” di Cirebon, Jawa Barat, Ahad (08/03/2026).
Maimon menjabarkan betapa banyak aktivis yang ia temui tidak beragama Islam, “Dukungan itu datang bukan cuma dari komunitas muslim, yang beragama Yahudi pun banyak yang mendukung Palestina, yang atheis pun ada,” begitu Maimon menegaskan bahwa perjuangan ini milik semua, lintas agama dan negara, ia kemudian melanjutkan, “Cukup jadi manusia.”
Maimon menyorot beberapa tokoh dan aktivis dunia yang terang-terangan membela Palestina. Greta Thunberg, misalnya. Ia bertemu aktivis lingkungan asal Swedia ini beberapa kali kala konsolidasi aksi. Greta tak sekadar aksi turun ke jalan, ia bahkan diculik tentara Israel kala ikut berlayar dalam misi Global Sumud Flotilla pada Oktober 2025 lalu.
Ada juga kisah Rachel Corrie, aktivis kemanusiaan berumur 23 tahun yang dilindas buldozer Israel waktu coba menghadang militer Israel yang hendak hancurkan rumah warga Palestina di Rafah. Menurut Maimon, cerita-cerita seperti ini membuktikan kalau isu Palestina dianggap banyak orang sebagai masalah kemanusiaan, lintas agama dan bangsa.
Maimon bukan cuma membahas solidaritas internasional, tapi juga mengulas situasi terbaru di Palestina. Ia bilang, laporan-laporan terakhir masih menunjukkan serangan militer di sejumlah wilayah Gaza sepanjang Februari-Maret, ditambah lagi kondisi pengungsian yang makin memprihatinkan karena genosida yang tak kunjung selesai, padahal harusnya sedang gencatan senjata. Tapi Israel terus melanggar dan tetap menyerang Gaza.
Di Kota Al-Quds atau lebih dikenal dengan Yerusalem, pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa juga makin ketat. Biasanya, masjid ini bisa menampung sampai 200.000 jamaah, tapi sekarang jumlahnya dibatasi drastis di waktu-waktu tertentu, dengan berbagai syarat usia dan akses untuk warga Palestina.
Maimon mengingatkan, isu Palestina bukan cuma soal perang atau konflik militer. Ada juga narasi sejarah, identitas, dan masa depan wilayah itu. Ia sempat membahas perdebatan soal proyek keagamaan dan politik yang diangkat sebagian kelompok Zionis, termasuk gagasan pembangunan “third temple” di kawasan Al-Quds.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya literasi publik tentang isu Palestina di Indonesia. Bagaimana masyarakat menerima informasi dan pemberitaan internasional jelas berpengaruh pada persepsi mereka. Di sini, peran jurnalisme, riset, dan diskusi publik jadi sangat penting supaya masyarakat bisa melihat gambaran yang lebih utuh tentang penjajahan dan genosida yang sudah berlangsung puluhan tahun ini.
Tak sampai di situ, Maimon juga mengingatkan soal hubungan historis antara perjuangan Palestina dan dukungan dari tokoh-tokoh dunia Muslim. Sepanjang sejarah, banyak ulama dan tokoh Timur Tengah yang aktif menyuarakan kemerdekaan Palestina di forum internasional, baik lewat diplomasi maupun lewat media.
Lewat forum ini, peserta diajak sadar kalau dukungan pada Palestina tak melulu soal aksi politik. Ada solidaritas ke sesama manusia, dan kita bisa ikut andil di manapun, termasuk di edukasi publik melalui penyebaran informasi yang valid dan bebas dari Hasbara, propaganda buatan penjajah Israel. Menurut Maimon, kesadaran masyarakat dunia termasuk Indonesia jadi salah satu kunci agar isu Palestina tetap mendapat perhatian global.[]






