Turkiye Bertekad Bebaskan Yerusalem, Israel Meradang
Jakarta (Suaraislam.id) — Menteri Dalam Negeri Turkiye, Mustafa Çiftçi, menegaskan dalam sebuah konferensi partai penguasa bahwa negaranya suatu hari nanti akan kembali menguasai Yerusalem.
Berbicara pada pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) di Provinsi Çorum pada Sabtu (06/06), Çiftçi menyatakan:
“Sebagaimana kita telah menyaksikan pembebasan Damaskus dan Aleppo, insyaallah kita juga akan menyaksikan pembebasan Yerusalem suatu hari nanti.”
Ia menambahkan:
“Sampai hari ini saya masih percaya bahwa Allah akan memperlihatkan hari-hari itu kepada kita. Dia pasti akan memperlihatkannya kepada kita. Saya telah meyakininya sepenuh hati dan saya masih meyakininya. Sebagaimana di masa lalu, tempat-tempat ini akan kembali kepada kita sekali lagi. Insya Allah, tempat-tempat itu akan kembali berada di bawah pemerintahan dan otoritas kita, karena kita memiliki seorang pemimpin global seperti Recep Tayyip Erdoğan di pucuk kepemimpinan. Kita memiliki seorang pemimpin yang memiliki pengaruh dunia.”
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, segera menanggapi pernyataan menohok tersebut pada Ahad (07/06/2026).
“Saya katakan kepada menteri dalam negeri Turkiye yang mengancam dan bermimpi memerintah Yerusalem: Yerusalem bukanlah Konstantinopel, dan Israel bukanlah Kekaisaran Salib yang sedang runtuh. Israel adalah negara yang kuat dan bertekad, yang telah membuktikan kemampuannya mempertahankan diri dari segala ancaman.”
Ia mengklaim sepihak mengenai status kota suci tersebut dalam sejarah.
“Yerusalem telah menjadi ibu kota bangsa Yahudi selama 3.000 tahun dan akan tetap menjadi ibu kota Israel selamanya, sementara Kekaisaran Ottoman yang Anda dan Erdoğan impikan telah runtuh dan tidak akan pernah kembali.”
Katz kemudian menyerang ideologi pemerintahan Turkiye saat ini.
“Sangat disayangkan bahwa Anda tidak mempelajari apa pun dari warisan Mustafa Kemal Atatürk, yang berupaya menjadikan Turkiye sebagai negara modern. Sebaliknya, Anda mencoba membawa Turkiye kembali ke era kegelapan dan keterbelakangan.” []
Sumber: middleeastmonitor.com






