DAERAH

Ponpes Riyadhul Huda Bogor Gelar Seminar Bahaya Narkoba dan LGBT

Bogor (Suaraislam.id) – Pondok Pesantren Riyadhul Huda menggelar seminar pendidikan bertema “Pubertas Masa Akil Baligh, Bahaya Narkoba & LGBT” di lingkungan pesantren, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan dokter Fardinand Rabain sebagai narasumber utama dan diikuti para santri dengan antusias.

Seminar tersebut diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian pesantren terhadap berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman tentang masa pubertas dan akil baligh, bahaya penyalahgunaan narkoba, serta pentingnya menjaga nilai-nilai moral dan keislaman di tengah perkembangan zaman.

Dalam pemaparannya, Fardinand menegaskan bahwa pemahaman tentang akil baligh merupakan bagian penting dari pendidikan Islam yang harus diberikan kepada generasi muda sejak dini.

“Saya sangat senang bisa berbagi kepada santri-santri Riyadhul Huda ini. Ketika saya bertanya tentang air mani, wadi, dan madzi, mereka mampu menjawab dengan perspektif Islam dan cara mengatasinya dengan baik. Hal ini merupakan sesuatu yang belum tentu banyak diketahui oleh sebagian orang, berdasarkan pengalaman saya selama mengajar,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman mengenai perubahan fisik dan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan masa baligh sangat penting diketahui setiap Muslim.

“Ketika seseorang telah baligh, maka seluruh hukum Islam berlaku atas dirinya. Ini adalah anugerah Allah kepada manusia yang perlu disampaikan dengan baik. Salah satu hikmahnya adalah agar manusia dapat membangun keluarga dan melanjutkan keturunan sesuai tuntunan yang benar,” jelasnya.

Ia menambahkan, pendidikan tentang pubertas perlu diberikan secara proporsional dan sesuai syariat agar generasi muda memahami perubahan yang terjadi pada dirinya, baik laki-laki maupun perempuan.

“Yang kami sampaikan adalah bagaimana perubahan fisik saat pubertas yang tumbuh pada laki-laki maupun perempuan serta bagaimana cara menghadapinya. Pengetahuan seperti ini perlu ditanamkan sejak awal karena pada akhirnya mereka akan berkeluarga dan menikah. Oleh sebab itu, mereka harus memahami nilai-nilai Islam yang benar sebagai bekal kehidupan mereka,” katanya.

Fardinand juga mengaku bersyukur dapat berbagi ilmu dengan para santri Riyadhul Huda. “Dari pagi hingga sore mereka tetap ceria, aktif, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Semoga ilmu yang disampaikan hari ini menjadi bekal yang bermanfaat bagi mereka di masa depan,” tuturnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Riyadhul Huda, KH Badru Kamal, menegaskan bahwa santri merupakan generasi yang akan membangun peradaban masa depan. Karena itu, para santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Santri itu adalah generasi untuk membangun peradaban baru yang lebih maju dan komprehensif. Sebab itu seorang santri harus memahami teknologi, sains masa kini dan masa yang akan datang,” ujarnya.

Ustaz Badru kemudian mengutip ungkapan yang populer di kalangan ulama, “Ajarilah anak-anak kalian ilmu yang kalian tidak pelajari, karena mereka diciptakan bukan untuk zaman kalian.”

Menurutnya, pesantren harus mampu menjadi pusat pendidikan yang memadukan nilai-nilai keislaman, akhlak, ilmu pengetahuan, dan teknologi agar para santri siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Seminar yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari tersebut berjalan dengan lancar dan interaktif. Para santri terlihat aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas berbagai persoalan remaja dalam perspektif Islam.

Melalui kegiatan tersebut, Pondok Pesantren Riyadhul Huda berharap dapat terus melahirkan generasi santri yang berakhlakul karimah, memahami syariat Islam dengan baik, serta mampu menjadi pelopor perubahan positif bagi masyarakat, bangsa, dan umat. []

Back to top button